Terinspirasi esainya mbak @sanya, pagi ini saya ingin ngobrol soal mimpi. Sebelum bercerita tentang pengalaman pribadi, saya ingin cerita tentang seorang anak salah satu suku Indian terlebih dahulu.
Di sebuah desa suku Indian, di dekat Whispering Lake, ada seorang anak perempuan sering mengalami mimpi buruk. Setiap malam dia dihantui oleh sosok bayang-bayang yang menari-nari dalam mimpinya. Neneknya yang bernama Whispering Willow berusaha membantunya untuk mendekatkan dia dengan alam dengan cara menceritakan rahasia suku itu: legenda penangkap mimpi (the legend of dream catcher)
Suatu malam Whispering Willow mengumpulkan ranting, serat-serat kayu untuk tali temali, manik-manik dan bulu unggas. Dia kemudian menganyamnya menjadi sebuah lingkaran dengan jaring-jaring yang melambangkan lingkaran kehidupan, jaring-jaring mengibaratkan tenunan mimpi dan bulu-bulu unggas sebagai pemandu untuk roh-roh halus. Kemudian dia menggantungnya di atas pembaringan. "Mimpi yang indah akan memasuki bagian tengah, sementara mimpi buruk akan terperangkap di jaring kemudian akan lenyap." Katanya
Anika, nama anak perempun itu, begitu terpesona dengan keindahan perangkap mimpi itu dan menggantungnya di atas pembaringan di malam hari. Dia kemudian terlelap sambil membayangkan sosok bayang-bayang mengerikan itu akan terperangkap di jaring-jaring. Malam itu dia bermimpi kupu-kupu yang menari-nari dengan indah diiringi melodi yang menakjubkan dari angin semilir. Sejak saat itu dia dapat bangun tidur dengan segar untuk pertama kalinya sejak berminggu-minggu.
Cerita tentang Anika menyebar ke seluruh desa dan semua orang mulai menganyam dream catcher. Anak-anak mulai berbagi cerita, para penatua mulai berbagi kebijakan dan para pemburu bersaksi bahwa mereka memperoleh penglihatan akan buruan-buruan yang berlimpah. Dream catcher kemudian menjadi sebuah simbol harapan dan perlindungan, pengingat bahwa bahkan pada malam yang paling gelap sekalipun, selalu ada mimpi yang indah yang dapat hadir. Anika ketika dewasa menjadi sosok pintar dalam pengobatan, berbagi tradisi dream catcher dengan orang-orang lain. Dia mengajarkan tidak hanya cara menganyam jaring-jaring tapi juga pentingnya menghadapi rasa takut dan khawatir serta mengolah batin diri. Dream catcher bukan hanya sebagai alat tapi juga pengingat untuk membentuk mimpi dengan niat dan pikiran yang positif.
Nah, itu cerita yang dulu saya peroleh ketika duduk-duduk bersama beberapa orang suku Indian dan belajar menganyam dream catcher. Saya menggantungnya di atas tempat tidur selama bertahun-tahun. Bahkan sering saya gantung di rear-view mirror kendaraan.
Apakah sesudah saya menggantung dream catcher terlindung dari mimpi buruk? Tidak juga hahaha.. Tapi setiap kali saya akan memejamkan mata, saya dapat menikmati keindahan anyaman yang sudah saya buat, teringat akan duduk bersama-sama dengan teman-teman bahkan teman baru ketika belajar menganyam, juga sebelum terlelap saya selalu diingatkan untuk berpikir positif dan berharap akan mendapat mimpi indah, atau setidak-tidaknya tidur nyenyak dalam buaian kedamaian.
Awal bulan Februari tahun 2007, seminggu lebih sesudah hari ulang tahun mendiang ibu saya yang menghadap Tuhan hampir setahun sebelumnya, saya bermimpi. Mimpi aneh dan sangat singkat hanya 3 detik, sebab mendiang ibu saya hanya memberi 3 buah angka, lalu poof! Beliau menghilang. Saya tidak menghiraukan mimpi itu karena tidak melihat ada pesan yang menarik. Pada saat itu saya sedang banyak dilanda masalah, ongkos pengobatan Kano yang punya kelainan jantung masih harus dibayar, ada lebih dari 18 ribu Dollar dan pekerjaan saya sedang tidak sehat karena banyak kendala, termasuk komunikasi saya sebagai pengambil keputusan dengan presiden dan CEO perusahaan.
Saya pernah cerita ini dalam salah satu esai, tak apa. Ini adalah kisah tak terlupakan, dan kali ini saya punya bukti gambarnya hahaha.. Eniwei, suatu siang saya dilanda kekecewaan berat di tempat kerja, amarah saya memuncak karena salah seorang CEO bertindak tidak profesional. Ketika sedang marah-marahnya, saya ingat masih memiliki uang $100, sumbangan teman-teman ketika Ibu saya meninggal. Uang itu terselip di suatu tempat dan tiba-tiba muncul lagi.
"Anh, I want to buy a lottery. Can you make a call? I will pay you tomorrow. I didn't bring the money with me. Here is the numbers, I want to buy all $100." Kata saya sambil menyebutkan nomor yang saya peroleh dari mimpi bertemu mendiang ibu saya.
"Don't buy the whole thing, Joe! That's a lot of money." Kata Anh Nguyen. Dia adalah anak buah saya, orang Vietnam yang memiliki koneksi dengan bandar judi gelap kelompok mafia perjudian Vietnam.
"Ok, then. Buy $90, and choose any numbers for $10." Kata saya.
"If I win, I'll quit my job! And my laptop will be yours" Kata saya dengan geram.
Siang itu memang kepala saya beruap karena terlalu marah. Belum pernah saya begitu benci dengan pekerjaan hingga saat itu. Saya sudah bertekad bulat untuk keluar.
Malamnya saya pulang agak larut. Kano yang belum berusia 2 tahun sudah terlelap, sementara Nina sedang di kamar mandi. Tubuh saya sudah segar setelah membersihkan diri, saya harus berusaha terjaga hingga pukul 2 pagi, itu saat saya memberikan obat jantung untuk Kano. Seperti biasa saya duduk di teras apartemen di lantai 14 memandang samudra pasifik. Sudah lewat tengah malam, sunyi dan damai. Semua kepenatan sudah hilang, rasa marah saya sudah lenyap karena selalu berusaha tidak membawa kekisruhan pekerjaan ke rumah.
Iseng saya melirik telepon genggam dan merasa aneh sebab banyak sekali miss call dan banyak pesan di mailbox. "Ada apa ini?" Pikir saya. Tapi saya enggan untuk mendengarkan pesan-pesan di telepon karena khawatir ada manager yang besok bolos sehingga saya harus berangkat subuh-subuh. "Masa tidur 2 jam sudah berangkat kerja lagi?" Pikir saya, apalagi seharian saya sudah marah-marah. "Males! Ogah!" Gerutu saya sambil meraih laptop. Iseng saya buka laman lotere dan ingin melihat angka apa yang keluar. Biasa lewat tengah malam sudah ada berita. Dan mata saya terbelalak tidak percaya ketika melihat angka yang keluar persis dengan angka yang saya beli.
Saya melompat, berlari ke dalam dan berteriak di depan kamar mandi memberi tahu Nina.
"Niiiin!!! I won a lottery! Forty five thousand!" Kata saya.
Nina keluar dan marah-marah. "Hey! don't scream! Kano is sleeping! What did you say?" Tanya Nina
Saya cerita ke Nina yang tetap tidak percaya. Saya akhirnya mengambil telepon dan mulai mendengarkan pesan-pesan. Semuanya mengatakan selamat saya telah menang lotere dan kedua mereka semua memohon saya untuk tidak keluar dari pekerjaan! Hahaha..
Besoknya saya dijemput Anh, membawa ransel dan pergi menuju sebuah rumah. Kami disambut dan diajak ke dapur. Sambil minum bir kami duduk di lantai dan mulai menghitung uang. Lalu kami pergi, saya ambil selembar $100 dan saya berikan ke Anh. "Here, I owe you 100 bucks!" Kata saya sambil nyengir
Ahn ngomel-ngomel. "Kamu tuh ya, menang lotere tanpa modal! Hasil menangnya kamu ambil lalu baru bayar 100 Dollar dari hasil kemenangan kamu! Ga adil!" Katanya sambil tertawa-tawa. Memang benar sih, saya bayar hutang 100 dollar dari hasil kemenangan, sementara uang 100 Dollar yang seharusnya untuk membeli lotere masih ada di rumah di sebuah amplop! Hahaha..
Sesuai janji, saya ambil laptop milik saya dan dihadiahkan kepada Anh. Sore itu karena saya libur, saya pergi ke Mall ke Apple Store membeli laptop baru, maxbook berwarna hitam yang saya bayar tunai dari hasil menang lotere. Saya keluarkan dari kotaknya, saya taruh di lantai dan uang kemenangan saya sebarkan di sekelilingnya lalu saya foto. "Ini akan jadi bukti dan dapat dijadikan bahan cerita seumur hidup!" Kata saya pada Nina yang disambut dengan gelak tawa.
Biaya pengobatan Kano saya lunasi, lalu Kano dan Nina saya ajak berlibur ke San Diego. Saya ingin Kano melihat panda karena itu adalah binatang kesayangannya. Saya tidak jadi keluar dan bertahan hingga akhir tahun lalu hengkang dari pekerjaan itu. Beberapa bulan kemudian saya pulang ke Indonesia.

Apakah karena saya menggantungkan dream catcher sehingga bermimpi mendiang ibu? Saya tidak tahu. Mungkin saja hanya kebetulan. Tapi saya harus berterima kasih pada CEO perusahaan yang membuat saya marah-marah karena tanpa itu saya tidak akan melupakan akal sehat dan membuang-buang uang 100 Dollar untuk beli lotere. Hahahaha...
Oh tambahan, selama berberapa waktu tersiar kabar di kalangan underground perjudian ilegal (Hawaii melarang perjudian) bahwa ada seseorang yang menang lotere puluhan ribu Dollar! Pasar judi gelap jadi ramai, dan hingga sekarang belum ada lagi yang menang sebanyak itu! Saya masih pegang rekor! Hahahaha
Foto credit: heapollobox.com