AES 1341 Rumi's Love
joefelus
Sunday February 23 2025, 4:18 PM
AES 1341 Rumi's Love

2 hari saya tidak membuka komputer. Terlalu sibuk dan kelelahan karena acara kumpul-kumpul dengan warga satu kompleks. Sabtu saya sepanjang hari melakukan persiapan dan memasak. Minggu saya membersihkan rumah dan terkapar kelelahan sehingga saya memutuskan untuk tidak mengerjakan apa-apa termasuk membuka laptop sehingga tidak menulis. Hari ini mudah-mudahan saya dapat membayar hutang.

Acara kumpul-kumpul kami memang unik. Maklum rata-rata penghuni kompleks adalah keluarga yang terkait dengan kehidupan universitas. Dosen, guru besar bahkan kepala biro tertentu, jadi memang kami memiliki keunikan walau tentu saja tidak beda dengan kelompok lain yang senang bergurau.

Acara kumpul kami tidak hanya ngobrol ngalor-ngidul atau menggosip, tapi diisi dengan renungan. Kali ini dibawakan oleh seorang professor dari fakultas Filsafat yang membagikan sebuah puisi yang ditulis oleh Jalaluddin Rumi. Dari namanya saja kita sudah tahu bahwa ini akan jadi diskusi yang berat. Saya tidak salah, hanya mampu memandang berderet-deret tulisan yang sangat dalam dan perlu waktu lama untuk sekedar mengerti. Jangankan menghayati, mengerti saja butuh pengalaman mendalam tentang cinta.

"Perlu 36 pertemuan, dan setiap pertemuan kita membahas 1 kalimat." Kata saya disambut anggukan dan persetujuan teman-teman yang lain.

"Cinta itu jiwanya jiwa seluruh semesta. Cinta itu awal dan akhir. Cinta itu abadi, tak terbatas, kekal.

Itu baru 3 dari 36 kalimat dari puisi yang ditulis oleh Jalaluddin Rumi. Saya tercenung dan merasa seperti anak kecil yang duduk diantara para ahli biologi atau montir mesin kendaraan, atau seperti saya yang duduk diantara para dosen atau mahasiswa economics membahas game theory, atau perhitungan ekonometrik. Saya hanya bengong, kadang mengangguk-angguk seperti tilli tollo atau bobble head. Saya tidak mampu membuka mulut untuk berpendapat.

Cinta itu air kehidupan, Kata pak professor yang membacakan puisi. Apakah itu cinta? Apakah itu air kehidupan? Kita membutuhkan air, kata saya dalam hati. Tanpa air kita mati. Jadi air adalah kehidupan. Jika cinta adalah air kehidupan, maka kita tidak dapat hidup tanpa cinta. Hmm.. seperti itu kah logikanya? Seperti itu kah pengertiannya. Saya masih belum mampu membagikan pikiran saya diantara para sesepuh ini. Oh ya, walau saya dipanggil opa di Smipa, saya termasuknya yang paling muda diantara para anggota mafia Pasir Impun (Sirpun Mafioso, begitu kami menyebut kelompok kami) Jadi saya masih anak bawang jika dibandingkan dengan para hadirin di rumah malam itu. Oh kecuali satu, mereka mengakui saya lebih jago masak, hahaha. Tidak aneh hampir semua tetangga datang karena makanan yang saya sajikan selalu "aneh" di mata mereka. Oleh sebab itu mereka bersorak ketika saya katakan menu hari ini adalah makanan suku Indian Navajo dari daerah Utah, Arizona dan New Mexico.

Saya terlalu awam untuk membahas penyair Persia di awal abad ke-12 ini. Cinta yang beliau paparkan bagi saya hanya seuntaian kata-kata indah yang sulit dimengerti. Jiwanya semesta itu apa? Energi? Kalau iya, maka cinta yang merupakan jiwa dari jiwanya semesta, maka cinta adalah energi yang merupakan inti dari semesta. Ah, saya sangat pusing dan sakit kepala memikirkan itu. Bayangkan itu baru kalimat pertama, bagaimana membahas 35 kalimat lainnya sebab waktu saya hitung semuanya ada 36. Pengertian cinta saja bagi saya begitu abstrak. Kalau hanya sekedar melihat seseorang lalu saya ingin terus menerus berdekatan, apakah itu cinta? Itu adalah ketertarikan. Cinta lebih dalam dari itu. Hitung saja berapa banyak orang berusaha menggambarkan cinta. Ada yang paling cocok? Bahkan lagu yang sangat saya sukai di tahun 80-an dan saya gunakan sebagai motto ketika jadi guru "The Greatest Love Of All" pernah dikutuk orang karena dikatakan itu salah, yang benar cinta terbesar adalah cinta pada Pencipta. Nah lo!

Saya katakan ini baik untuk anak-anak yang sedang mencari identitas diri. Coba lihat kalimat-kalimat ini:

Never to walk in anyone's shadows
If I fail, if I succeed
At least I'll live as I believe
No matter what they take from me
They can't take away my dignity

Saya ingin mengajarkan anak-anak untuk memiliki karakter yang kuat untuk menjadi diri sendiri. Eh.. malah dimarahi salah seorang orang tua karena katanya saya harus mengajarkan anak-anak untuk lebih taat pada Tuhan bukannya mencintai diri sendiri dan mengajari mereka untuk jadi selfish atau egois. Matilah saya karena guru-guru senior ikutan membela orang tua. Maklum saya masih belia, masih 20-an dan bujangan hahahaha..

Butuh berapa tahun lagi saya hidup agar dapat mengerti cinta ala Rumi? Saya tukang merenung, tukang melamun, tapi saya lebih memilih merenung tentang hidup, menjalani hidup dan mengalami berbagai peristiwa dengan penuh penghayatan. Saya belum mampu bermain dengan kata kata atau definisi tentang cinta apalagi berdiskusi tentang puisi yang ditulis penyair Persia ini.

Foto credit: ethics.org.au