Saya berdiri untuk antri di salah satu anjungan tunai mandiri. (Itu khan istilah baku dari ATM atau automatic teller machine? Anggap saja betul, saya sedang agak malas pagi ini untuk mencari tahu. Haha) Seorang ibu-ibu sedang sibuk di depan mesin ATM itu, entah sudah berapa kali dia mengambil uang. Yang pasti sudah cukup lama saya mendengar bunyi khas dari mesin ini. Seorang pria ada di dekatnya. Saya agak ragu-ragu apakah dia sebenarnya juga sedang antri atau tidak, jadi saya menunggu agak di belakangnya. Sepertinya bapak ini tahu saya sedang berusaha mengantri, sehingga dia sedikit bergerak ke samping, menyingkir, dan memberian saya ruang sementara dia melihat barang-barang yang dijual di toko kelontong kecil ini.
"Bapak mau ke ATM? Sebentar ya pak, sekali lagi." Tanya Ibu yang di depan mesin itu dengan gerakan tubuh yang sedikit menunjukkan rasa sungkan.
"Oh santai saja, Bu. Saya tidak buru-buru kok." Jawab saya.
Tiba-tiba bapak di sebelah saya ini, yang ternyata adalah suami si Ibu yang berada di depan saya, bertanya.
"Tinggal di mana, pak?"
Saya sedikit gelagapan karena tidak siap ditanya sebuah pertanyaan yang menurut saya agak pribadi.
"Oh.. eeeh.. Saya di kantor." Jawab saya sekenanya sambil menunjuk ke universitas yang ada di seberang jalan.
Untung saja Ibu di depan saya selesai menggunakn mesin ATM dan sambil tersenyum dia meminta maaf sudah terlalu lama menggunakannya. Saya saya hanya mengangguk sambil tersenyum. Lalu mulai menggunakan mesin ATM itu.
Dalam perjalanan kembali, saya terus menerus berpikir. Apakah saya memang aneh tidak mau menjawab pertanyaan bapak itu, atau apakah memang kebiasaan masyarakat di sini berubah dalam memilih topik small talk? Terus terang saya tidak melihat signifikansi dari pertanyaan bapak tadi sebab saya tidak mengenal dia, dan kalaupun saya misalnya menjawab degan jujur dimana saya tinggal, apakah informasi itu akan berguna buat dia? Yang jelas saya tidak mau dengan sembarangan mengumbar informasi yang saya miliki. Kemudian saya membayangkan seandainya saya jawab dengan benar, lalu percakapan akan dilanjutkan dengan membahas tempat saya tinggal. Sama sekali bukan topik yang menurut saya menarik.
Saya selalu menganggap diri sendiri sebagai orang yang ramah, senang ngobrol. Bagi saya small talk atau basa-basi itu sangat penting karena berguna sebagai jembatan untuk sebuah percakapan yang lebih besar dan menarik. Basa-basi bisa juga dijadikan media pembuka untuk dapat mengenal orang lain secara sederhana sebelum memasuki sebuah relasi yang lebih dalam. Tujuannya macam-macam, dapat untuk relasi yang berhubungan dengan pekerjaan, bisnis, sekedar berteman, atau bahkan yang lebih serius. Untuk itu perlu ada semacam etiket bentuk percakapan apa yang baik dan akan mengarah ke sebuah ikatan melalui percakapan yang lebih baik, lebih serius. Tapi tentunya tidak langsung dimulai dengan hal-hal yang pribadi. Itu etiket yang harus dihindari. Bahkan basa-basi diantara orang yang sudah mengenalpun ada etiketnya. Saya sangat benci dengan body shaming misalnya. "Wah sekarang jadi gemuk ya. Hidupnya sekarang senang atau doyan makan?" Coba bayangkan, apakah ini semacam pujian atau penghinaan? Sulit ditebak bukan. Jadi, please, hindari yang semacam ini. Saya banyak menemukan komentar semacam ini bahkan dikalangan orang berpendidikan.
Etiket dalam melakukan percakapan itu sangat penting. Etiket merupakan semacam aturan yang membantu kita untuk menghargai sesama manusia. Setiap orang memiliki kewajiban untuk bertindak secara terhormat dan menghormati satu sama lain tidak peduli kelas sosial, usia, gender maupun tingkat pendidikan. Tingkah laku sangat penting karena membentuk karakter, menbentuk harga diri dan menciptakan lingkungan yang positif. Tingkah laku juga membutuhkan disiplin diri. Ketika kita bertindak secara sopan terhadap orang lain, hal tersebut meninggikan harga diri bagi kedua belah pihak. Membentuk situasi yang sangat menghormati satu sama lain dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, bukannya men de-value orang lain seperti misalnya body shaming yang saya katakan barusan.
Eniwei, saya hanya melakukan kesimpulan pendek dari peristiwa pagi ini. Mungkin bapak tadi tidak terampil dalam bersosialisasi atau berkomunikasi. Dalam bersosialisasi dan melakukan percakapan juga membutuhkan semacam literasi! Itu menurut saya, literasi tidak hanya berhubungan dengan membaca dan menulis. Jaman sekarang literasi lebih diartikan sebagai bentuk kemampuan, kefasihan, fluency dalam bidang tertentu. Misalnya Computer literacy artinya kemampuan dalam bidang komputer. Nah dalam menjalin komunikasi juga kita butuh kemampuan literasi. Basi-basi juga kita butuh kemampuan literasi. Small-talk literacy! Hahaha. Jangan pernah menganggap remeh kemampuan small talk. Bayangkan seandainya bapak tadi akan saya interview untuk sebuah proyek besar. Awal percakapan, basa-basi, yang dilakukan sudah membuat saya tidak senang. Hati-hati, kesan pertama itu seringkali menjadi semacam tanda yang biasa digunakan oleh seseorang dalam menilai karakter orang lain.
Saya menganggap, hal-hal sederhana jauh lebih berguna dalam berbasa-basi. Hal-hal yang kasual, pemberian pujian misalnya jauh lebih berguna daripada langsung membuka dengan hal-hal yang bersifat pribadi.
foto credit: rd.com