AES 1349 Raja Midas
joefelus
Monday March 3 2025, 9:39 AM
AES 1349 Raja Midas

"Ada rencana apa hari ini?" Tanya saya sambil mengambil sebuah kue koci untuk sarapan sambil ditemani kopi.

Semalam saya tidur lumayan nyanyak. Masih terbangun sejenak ketika sekelompok anak muda memainkan alat musik dengan indah untuk membangunkan orang-orang agar makan sahur. Di daerah saya memang sejak dahulu anak-anak mudanya sangat kreatif, saya pernah bertahun-tahun yang lalu bercerita bagaimana kreatifitas mereka dalam membangunkan warga untuk makan sahur sangat luar biasa. Mereka kadang menggunakan calung, biola, suling dan lain sebagainya. Ada masa dimana justru saya selalu menanti-nanti aksi mereka karena setiap harinya sering kali tidak sama. Eniwei, karena kelelahan sesudah berkendara di tengah hujan badai kemarin dan sempat tersesat, saya hanya terjaga sejenak dan terseyum mendengar bunyi alat-alat musik dan nyanyian beberapa detik lalu kembali terlelap.

Nina menyebutkan beberapa tempat yang ingin dia datangi, mengurus beberapa hal dan saya ingin mengunjungi sebuah tempat yang menyediakan aneka kopi dan peralatannya. Saya masih punya mimpi dan keinginan memiliki 2 hal lagi untuk melengkapi kenyamanan sanctuary saya. Sesudah itu mudah-mudahan saya bisa melepaskan diri dari "ketamakan matterialistik" ingin memiliki banyak hal hahaha...

Mari kita ngobrol sejenak tentang materialistik. Wajar jika manusia menginginkan banyak hal. Terus terang, saya juga begitu. Bayangkan bahwa kita sudah bekerja keras selama bertahun-tahun. Ada saatnya kita ingin menikmati hasil kerja keras kita bukan? Caranya bermacam-macam, ada yang ingin melakukan perjalanan, ada yang ingin tinggal di suatu tempat lalu hidup dengan penuh kedamaian sesuai dengan yang dia inginkan, ada juga yang ingin membeli banyak hal. I deserve it, so let me get what I want. Itu alasan utama. Tapi tidak sedikit orang yang kemudian terjebak menjadi materialistik yang tidak terkontrol lalu seolah-olah definisi diri tergantung pada benda yang mereka miliki atau yang mereka pamerkan.

Ada yang pernah berkata pada saya: Consider this: Money can buy the best dog in the world. But it would wag its tail only if it loves you. Money can buy you the best bed, but not sleep. Money can buy the best house in the world, not home!

Jadi memang perlu diresapi bahwa yang kita beli belum tentu dapat menghadirkan harapan yang kita miliki. Seperti yang dikatakan di atas, kita dapat membeli tempat tidur yang terbaik tapi apakah itu menjamin kita dapat beristirahat dengan nyenyak? Apakah yakin tempat tidur dapat menghilangkan beban pikiran yang mengganggu tidur kita? Bahkan katanya kita dapat membeli binatang peliharaan yang hebat dan cantik tapi belum tentu dapat membeli cinta mereka.

Menjadi orang yang materialistik memang jauh lebih mudah jika kita memang memiliki sumber yang baik. Tapi apakah memiliki banyak hal dapat memberikan kehidupan yag kita dambakan? Belum tentu! Kebanyakan orang hanya melihat segi luarnya saja. "Tuh lihat si A kemarin jalan-jalan ke Jepang, sekarang sudah ada di Paris." Kita menganggap mereka orang yang beruntung bisa berada di berbagai tempat di dunia ini, tapi siapa yang dapat memastikan bahwa dia memiliki kebahagiaan seperti yang kita rasakan walau hanya duduk di pinggir jalan makan nasi pecel dengan tempe mendoan?

Teman-teman saya sering bilang,"Jo kamu beruntung bisa menikmati salju yang indah." Hahaha.. memang benar, tapi apakah mereka dapat ikut merasakan penderitaan saya sampai mimisan karena dilanda suhu ekstrim yang jauh dibawah angka nol? Ya, kita sangat terbiasa melihat kulitnya saja lalu dimodifikasi dengan angan-angan dan bayangan "fiksi" yang kita miliki sehingga semuanya "menurut kita" sangat luar biasa hebat! Kenyataannya tidak selalu demikian.

Saya punya alasan yang sedikit egois ketika menginginkan sesuatu. Saya yakin semua begitu. Yang kita inginkan seringkali dikaitkan dengan imaji yang kita miliki tentang diri sendiri. Saya senang mengkoleksi pisau karena punya bayangan kerennya masak dengan menggunakan pisau super tajam seperti silet yang bisa memotong kertas. Memang asyik, tapi harus diingat bahaya dibaliknya juga. Kemarin ibu jari saya terpotong karena memotong kelapa dengan pisau sangat tajam sambil melamun dan tidak berkonsentrasi. Kalau saya pakai pisau dari pasar tradisional kemungkinan cidera saya agak diminimalisir. Karena sangat tajam, ya sudah akhirnya saya butuh bandaid ukuran besar. Intinya, keinginan akan sesuatu selalu membawa risiko dibaliknya. Jadi be careful with what you wish for!

Nah yang saya inginkan memang tidak jauh dari urusan dapur. Yang saya inginkan akan mempermudah menjalankan hobi saya di dapur. Dan satu lagi, saya ingin satu barang yang dapat membuat saya menikmati sebuah kesenangan tanpa harus keluar rumah karena saya sudah cukup dapat menikmatinya di rumah sendiri. For the long run, it'll be a good investment, sekalian juga menjalankan hobi. Namun saya harus menyadari juga bahwa salah satu kehebatan orang yang materialistik adalah kmampuan mereka membuat alasan. Alasan yang saya kemukakan barusan juga digunakan oleh orang materialistik hahaha.. Saya sadari itu, dan saya akan berusaha mengontrol diri untuk tidak terjebak.

Ingat cerita Raja Midas? Dia begitu tamak sehingga memohon tuhan atau dewanya untuk megabulkan keinginan dia agar setiap benda yang dia sentuh dapat berubah menjadi emas. Akhirnya dia menyentuh putrinya yang kemudian menjadi patung emas. Intinya, kecintaan kita pada materi dapat berakibat penderitaan. Nah saya tidak inginkan itu.

Foto credit: nationalgeographic.grid.id