Kami memotong kulit pisang yang sudah terlalu matang di rumah salah satu warga. Kemarin, ada beberapa kegiatan yang kami lakukan bersama dengan warga dan Mas Yudhi - seorang kurator kuliner di Pasar Papringan.
Pagi itu, kami sempat berdiskusi mengenai riset tentang kuliner dan aku telah menghubungi Mas Yudhi untuk jadwal beliau melakukan 'food testing'
Kami juga sempat mampir ke rumah Pak Endro dan Bu Imah - merekalah pemilik rumah yang kami tinggali ini. Kami mengobrol, bercerita mengenai pertemuan kami dengan Mbak Siska di hari sebelumnya.
Setelah bertamu di rumah mereka, kami lanjut ke rumah Pak Sam. Beliau adalah salah satu warga yang sering kami temui, di sawah, di jalan, dan tentu di rumahnya. Pak Sam mengatakan bahwa Mbak Siska memanglah salah satu orang yang menggagas dan menemani warga Dusun Ngadiprono melaksanakan Pasar Papringan dari awal. Baginya, Mbak Siska sudah seperti anak sendiri.
Kami pulang dan istirahat makan, tak lama setelah itu, Mas Yudhi mengirimkan pesan bahwa ia membutuhkan blender dari rumah Bu Ella.
Karena masih ada beberapa teman yang menulis, aku dan Ara pergi ke rumah Bu Ella untuk mengambil blender, dan kami bawa ke rumah Bu Sanah yang bercat ungu dengan kolam ikan lele di depannya.
Ternyata di sana sudah ada Mas Yudhi, beliau sedang mengajari Bu Sanah untuk membuat kecap manis untuk pertema kalinya. Sebenarnya tadinya bukan Bu Sanah yang membuat, tapi karena yang sebelumnya tidak melanjutkan, maka diganti dengan beliau.
Bu Sanah sedang memisahkan kulit pisang dengan isinya. Pisang-pisang itu adalah pisang yang sudah tidak layak untuk di makan - terlalu matang, yang ia beli di pasar dengan harga 30 ribu (banyak sekali pisangnya!).
Kulit pisang ini akan diblender dan dijadikan bahan pengental alami dalam membuat kecap manis. Karena Pasar Papringan memiliki prinsip untuk mengolah segala jenis makanannya secara alami dan bebas dari bahan kimia.
Sambil menunggu Bu Sanah mencuci kulit pisang, Mas Yudhi mengajak kami keluar untuk melihat potongan singkong yang sedang dikeringkan.
Potongan singkong ini akan digiling menjadi mocaft (kalau tidak salah menulisnya), sebuah tepung dari singkong yang bisa menggantikan tepung terigu. Mas Yudhi sudah sering membuatnya menjadi nastar, kue-kue kering, dan bolu. Kita tidak bisa membedakan mana yang menggunakan tepung terigu dan mana yang tidak, karena rasanya cukup mirip.
Kami masuk ke rumah, ternyata ada Ibu yang sedang melakukan test food untuk dicek terlebih dahulu oleh Mas Yudhi. Hidangan saat itu adalah lotek, rasanya agak pedas, namun sangat segar dan enak sekali.
Test food ini dilakukan bisa ada menu baru atau dalam hal ini, penjual sebelumnya mundur dan ini adalah penjual yang baru maka harus dicek agar rasanya sama.
Setelah makan lotek, kami membantu memotong kulit pisang menjadi kecil agar mudah di blender. Ini pertama kalinya aku memotong kulit pisang, ternyata ada ya pengental menggunakan ini.
Ada juga yang mengupas bawang putih untuk nantinya dimasukkan ke dalam resep kecap manis. Sementara itu, Bu Sanah sudah mengoseng dan memblender biji kedelai.
Selesai itu, kedatangan Mbak Ella yang membawa makanan bernama bajingan. Namanya betulan bajingan, awalnya kami pun kaget mendengarnya.
Bajingan ini ada makanan yang terbuat dari talas dan singkong dan di atasnya disiram gula are cair. Jadi ada dua versi, satu menggunakan talas, satu menggunakan singkong. Aku sendiri lebih suka yang singkong karena lebih padat dan lebih hambar. Sehingga dengan perpaduan gula aren, rasanya lebih seimbang dibandingkan dengan talas yang manis dan sedikit lembek.
Selesai makan bajingan dan mengobrol, kami pulang dan istirahat ke rumah. Malam itu kami makan tempe orek buncis buatan Dea dan Farzan. Rasanya enak sekali untuk mengakhiri hari itu.
Kami mandi dan evaluasi. Hari kemarin seru sekali, akhirnya kami benar-benar bisa membantu warga dari persiapan pasar!
like & comment
Wah sudah ketemu mas Yudhi juga... Asik banget ikutan food testing di Pasar Papringan. Semoga jadi pengalaman berharga 🌱🤗🙏🏼