Pemahaman yang didapatkan dari pengalaman berbeda dengan pemahaman yang didapatkan dari pengetahuan. Persoalan sering muncul ketika praktisi berbagi ilmu dengan peneliti.
Seakan-akan sama, sepertinya selaras, Padahal kenyataannya pertemuan pemahaman antara yang mempelajari dan yang menghidupi itu tidak pernah terjadi. Kecuali, dalam ranah narasi dan fiksi.
Keduanya memiliki perspektif masing-masing. Satu di sudut ini, yang lain di sudut itu. Pertemuan tidak lain hanyalah upaya untuk meredakan rasa sendirian, karena melihat ada orang lain di area yang sama walaupun di pojok yang berbeda.
Pada kenyataannya selesai pertemuan masing masing akan kembali ke sudut nya masing masing. Mengerjakan pojokannya masing masing. Memahami Pemahamannya masing masing. Sendirian.
Dari penggambaran ini terlihat kan, Bahwa sesi berbagi dan ruang belajar bersama bukanlah soal materi. Malahan adalah soal being yang satu bertemu being yang lain. Karena jalan pengenalan aku selalu melalui yang bukan aku.
Seperti kita mengenali tangan kita sendiri, memahaminya, bahkan menguasainya menggerakannya, bukan melalui tangan ini. Justru melalui batu, cangkir, rambut, pulpen, bahkan melalui tangan orang lain, yang kita pernah genggam.
Wah keren ini. perspektif ini bener banget ya... Jadi pada dasarnya memang kita ini hanya individu (terpisah) tapi butuh terkoneksi - karena pada dasarnya memang terkoneksi. 🙏🏼😊