Akhir-akhir ini saya lebih banyak diam, lebih banyak melihat dan berpikir daripada mengungkapkan apa yang ada di benak saya atau menulis. Saya tidak tahu apa yang akan ditulis sebab merasa bahwa terlalu banyak hal-hal yang negatif yang beredar di sekeliling kita daripada yang positif. Saya memutuskan untuk menghindar dari keterlibatan dalam hal-hal negatif atau bahkan terperangkap di dalamnya.
Saya menyaksikan orang-orang turun ke jalan di lebih dari 1500 lokasi di Amerika. Mereka memperjuangkan nasibnya dan nasib masa depan anak cucu mereka. Mereka marah karena lebih dari 100 quadriliun rupiah (6,4 Triliun Dollar) lenyap di bursa saham. Uang pensiun mereka (termasuk saya, Nina, Kano, dan teman-teman lain) ada di sana! Kebanyakan uang pensiun disimpan oleh institusi yang kemudian oleh mereka diinvestasikan dalam bentuk saham dan lain-lain. Minggu kemarin, sejak hari Jumat beberapa jam sesudah presiden mencanangkan tarif ekspor-impor, pasar bergolak, kepercayaan masyarakat pada pemerintah menurun, terutama bisnis perusahaan ekspor dan impor menjadi terganggu. Bursa saham terjun bebas dan 6,4 triliun Dollar atau setara dengan 107 quadriliun Rupiah lenyap! Siapa yang tidak marah? Siapa yang tidak putus asa, siapa yang tidak pusing?
Bayangkan mereka yang bekerja seumur hidup, menabung untuk pensiun, ikut dalam program 401K atau kasus saya, Nina dan Kano uang pensiun kami ditarik setiap bulan oleh salah satu institusi yang kemudian diinvestasikan dan kemungkinan besar ditanamkan di salah satu saham yang terjun bebas itu. Nah bagaimana masa depan masyarakat yang jika benar demikian kehilangan semua tabungan untuk masa pensiun mereka? Ketika sudah tidak produktif lagi, ketika tubuh sudah tidak mampu berkreasi lagi, satu-satunya yang menyokong hidup masyarakat adalah tabugan pensiun. Dan sekarang jika tabungan itu lenyap, bisa apa?
Yang lucu, nah ini merupakan sebuah fenomena yang menarik, mungkin karena keterbatasan kemampuan literasi, pengetahuan, dan atau pendidikan, masih banyak sekali kalangan masyarakat yang tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi. Silakan masuk ke salah satu pemberitaan bahkan cuplikan berita di youtube dan baca kometar-komentar 2 kubu yang saling berbantahan. Entah yang tetap mendukung pemerintah itu terlalu pintar atau memang sudah terlalu bebal dan sangat bodoh sehingga mereka bergeming tetap membela blunder tingkat dewa yang dilakukan pemerintah.
Di salah satu cuplikan filem yang saya saksikan, satu orang youtuber yang juga pendukung pemerintah dengan berapi-api dan entah marah atau sedih, dia berkata dalam 1 malam dia sudah kehilangan 7 juta Dollar di bursa saham dan bitcoins. Ini nyata dan tidak terbantahkan bahwa sentimen pasar begitu rendah sehingga beramai-ramai para pemain menjual sahamya dan akibatnya harga saham anjok hingga belasan persen!
Sekarang, jika dipikirkan baik-baik. Semua orang yang memiliki pandangan dan faham yang bersebrangan, sebenarnya menghadapi kondisi yang sama. Entah mereka itu masuk dalam kelompok merah atau biru, warna kulit putih, hitam, kuning atau coklat semua manjadi korban kebijakan yang tidak tepat. Demokrat, republikan atau independen semua menghadapi ancaman yang sama. Mereka semua turun ke jalan dan melupakan label yang selama ini melekat pada masing-masing.
“If you take away the labels, you realize we’re far more alike than we are different.”
Saya tidak ingat siapa yang berkata demikian, tapi saya setuju. Pikirkan baik-baik walau masing-masing manusia itu unik, tapi kita semua memiliki lebih banyak kesamaan daripada perbedaan. Dan jangan salah, perbedaan itu mayoritas kita sendiri yang ciptakan, bukan semesta! Pada akhirnya kita semua harus bisa saling mendukung satu sama lain untuk survive. Perbedaan-perbedaan itu kebanyakan hanya label yang kita tempelkan pada diri sendiri maupun orang lain.
Foto credit: Medium.com