Waktu semakin dekat. Nina dan saya sudah sejak beberapa minggu yang lalu sibuk mempersiapkan kedatangan Kano dan rombongan. Untuk acara di Semarang dan Jogya, kami sudah bereskan dan akan ditangani oleh salah satu kerabat yang dulu teman SMA kami, jadi aman. Semua terjamin sejak kami tiba di Semarang hingga meninggalkan Jogya, lengkap dari hotel, makanan, transportasi maupun kegiatan. Untuk di Bali juga sudah mendekati final, juga melalui sahabat kami ini. Nah, yang membuat kami pusing justru kegiatan di Bandung.
Dinner hari pertama sepertinya sudah ada gambaran, kami akan dijamu oleh seorang chef di tempatnya. Mudah-mudahan ini dapat dilangsungkan karena chef ini sangat luar biasa. Seorang sahabat pernah mengundang saya untuk jamuan pribadi, benar-benar hanya 11 orang yang dijamu oleh chef ini. Salah satu pengalaman eksklusif yang patut diberi 2 jempol. Nah Nina dan saya berusaha mencari tempat lain untuk makan malam di hari kedua, mencari tempat dengan pemandangan kota Bandung agar tamu-tamu kami terkesan. Nah ini jadi masalah.
Pertama, banyak ulasan tempat-tempat tertentu yang sudah terlalu tua. Maksudnya, saya membutuhkan informasi yang terkini, dan itu sangat sulit saya temui. Banyak ulasan yang saya jumpai berdasarkan informasi usang dari hampir 10 tahun yang lalu. Saya membutuhkan yang paling relevan dan terkini. Sulit!
Kedua, ada beberapa tempat yang saya minati karena harga dan lokasi. Hanya saja ada beberapa hal yang membuat saya agak tersipu karena penggunaan bahasa yang errr.. menurut saya untuk ukuran restoran ini,yang harganya $$$$, agak kurang profesional. Maklum, yang akan saya jamu adalah orang-orang yang berkecimpung dalam bisnis makanan, diantaranya dua orang general managers dan seorang Food Safety and Quality Assurance Specialist dari Residential Dining Center milik Colorado State University. Saya tidak mau ketika menjamu, mereka senyum-senyum membaca wedges potatoes, chicken salt and spicy atau potatoes skin on. Maksud saya, jika memang ingin menggunakan bahasa Indonesia, saya tidak akan protes, tapi jika menggunakan bahasa lain, harus lebih mengenal kebiasan dalam berbahasa. Saya yakin tamu-tamu saya mengerti, tapi seringkali masyarakat menilik keprofesionalan sebuah bisnis berdasarkan penggunaan bahasa, dan dalam ranah restoran, menu merupakan media untuk menawarkan bisnis mereka, dan itu harus dikemas secara sangat profesional, apalagi jika ingin menempatkan diri di level tertentu.
Sepertinya saya harus mendatangi tempat-tempat itu dan mencoba langsung karena saya tidak mau kehilangan muka ketika mereka di sini. Beberapa bulan lalu saya agak malu karena pernah mengajak beberapa orang sahabat untuk makan malam. Saya sudah banyak kali ke restoran itu, jadi saya yakin dapat memberikan pengalaman kuliner yang baik kepada para sahabat ini, eh ndilalah ketika kami di situ pelayanan amat sangat buruk. Minuman saya tidak datang hingga makan malam sudah usai, tidak hanya itu, minuman tersebut disajikan di meja kosong dan kotor yang baru saja ditinggalkan oleh pelanggan. Kok begitu? Makanan yang disajikan tidak tepat dan sangat lama, padahal saat itu restoran sangat sepi. Ya sudah, saya tidak pernah kembali lagi karena pengalaman memalukan itu. Nah, mengingat pengalaman itu, saya ingin berusaha memilih tempat yang dapat menyajikan pengalaman singkat di kota Bandung sesempurna mungkin! Ini kok jadi mengerikan ya?
Yang saya lakukan adalah bagian dari hospitality. Hospitality adalah kata serapan dari bahasa Latin hospes yang jika diterjemahkan secara bebas artinya pendatang atau tamu. Nah hospitality bukan seperti customer service, tapi lebih berfokus pada membuat tamu kita merasa disambut dengan baik, nyaman dan happy! Itu saya peroleh ketika mengambil beberapa kelas dalam bisnis tourism and hospitality ketika saya di Hawaii. Tidak hanya itu, hospitality juga terkait dengan kebanggaaan yang ingin ditawarkan kepada tamu-tamu kita. Jadi sudah sewajarnya kita berusaha menawarkan sesuatu yang terbaik sehingga pengalaman kunjungan mereka menjadi berkesan dan ingin kembali lagi. Ini merupakan strategi yang paling utama dalam bisnis pariwisata. Tapi dalam kaitan ini, saya hanya sekedar ingin memperkenalkan Bandung kepada teman-teman dan sahabat saya. Saya ingin menunjukkan kebangaan yang saya miliki dalam bentuk pengalaman yang mudah-mudahan tak terlupakan bagi mereka, jadi saya tidak mau asal-asalan.
Tadinya saya pikir dapat melakukan riset hanya dengan mencari informasi daring. Memang ada yang saya dapatkan seperti bentuk menu yang lucu tadi hahaha, tapi untuk pengalamannya sendiri saya tidak dapat mengandalkan ulasan yang saya temukan di sana. Sepertinya saya harus meluangkan waktu untuk mengalaminya sendiri. Jadi mahal ini mah, duh duh duh!
Foto credit: x.com