Sesudah sekian tahun, akhirnya saya bersama Nina pergi nonton di XXI di Ciwalk. Mall ini ternyata tidak banyak berubah, kecuali super market yang dulu ramai pengunjung sekarang menghilang, berganti dengan tempat bermain dan entah apa lagi di lantai bawah. Yang saya perhatikan juga pengunjung di Ciwalk tidak lagi sebanyak dulu, mencari tempat parkir menjadi sangat mudah dan terus terang saya bisa menikmati mall dengan lebih nyaman.
Saya hanya berkeliling untuk melihat perubahan-petubahan apa saja sambil bernostalgia. Ada sebuah restoran yang dulu saya harus antri berlama-lama, sekarang kosong! Penggunaan teknologi juga menjadi hal yang lumrah sekarang, walau menurut saya bisa ditambahkan dengan sistem pembayaran yang lebih mudah, seperti misalnya jika saya bisa memesan dengan menggunakan pelayanan daring, kenapa saya masih harus jalan ke kasir dan memastikan pesanan serta membayar? Kenapa tidak langsung memesan sekaligus membayar di meja saya sendiri sehingga tidak perlu lagi beranjak dari tempat duduk? Ini masukan dari saya.
Membeli tiket film juga sekarang sangat mudah, sama seperti ketika saya masih tinggal di Fort Collins, saya bisa membeli secara daring di rumah, tiba di bioskop saya bisa mencetak tiket atau hanya menunjukkan barcode yang nantinya akan dipindai oleh petugas dan langsung masuk. Makanan juga dapat dipesan dari rumah, dibayar di rumah dan nanti akan diantar langsung ke tempat duduk sebelum filem dimulai. Di Ciwalk ini sama. Saya tidak tahu apakah ada pemindai ketika akan masuk teater, sebab saya memilih untuk mencetak tiket di sebuah kios kecil yang dijaga oleh 2 petugas yang sangat ramah dan siap membantu. Ini sebetulnya juga tidak perlu, jaman sekarang pelanggan sudah pandai, tidak perlu dibantu. Tapi mungkin ini bagian dari ciri keramah-tamahan di tanah air.
Tempat duduk sangat nyaman, jauh lebih nyaman bahkan jika dibandingkan dengan pesawat kelas bisnis! Kebetulan saya memang ingin mencoba yang premiere. Sayangnya tempat duduk saya macet, sehingga kami harus pindah. Petugas sangat sigap membantu. Nilai plus dari saya. Duduk amat sangat nyaman dan harga tiket menurut saya termasuknya sangat terjangkau. Fasilitas sangat memadai, kamar kecil langsung di depan pintu sehingga memang terkesan lebih eksklusif dan sangat bersih. Tata suara sangat baik, mungkin terbaik dari sekian bioskop yang pernah saya kunjungi di luar negeri. Yang jelas di Honolulu maupun di Fort Collins kalah dengan yang ini, saya pernah ke Paramount Studio dan Universal studio di California, di tanah air boleh berbangga diri. Hanya saja, suara dari ruang tetangga masih terdengar, ini nilai minusnya. Sangat disayangkan dan bagi saya cukup mengganggu. Yang bisa ditambahkan adalah besarnya layar. Memang ruangan dan kapasitas sangat kecil, ini ruangan teater terkecil yang pernah saya kunjungi, jika saja layar sedikit lebih besar, menurut saya akan menjadi sangat sempurna. Mungkin saya harus mencoba di teater lain, mungkin ada yang lebih besar.
Makanan. Ini banyak minusnya. Popcorn yang terbesar menurut saya terlalu kecil porsinya. Saya penggemar popcorn, biasa saya membeli yang paling besar, satu ember besar dan dapat bertahan hingga filem hampir selesai. Di sini sudah habis sebelum 30 menit dan kadar keasinannya harus diperbaiki. Saya tidak mau asupan sodium terlalu tinggi hahahaha.. Minuman juga sangat terbatas, kebanyakan semua bergula. Saya pencinta es teh tawar dan tidak tersedia. Mungkin penonton seperti saya sudah punah, sekarang pasarnya adalah peminum minuman tinggi kadar gula. Variasi makanan lainnya juga bagi saya kurang banyak dan terlalu mainstream dengan harga menawan! Hahaha..
Harga makanan di bioskop memang dimana-mana mahal karena mereka melakukan monopoli. Makanan dan minuman hanya bisa diperoleh di konsesi yang terdapat di dalam. Jadi dari sekian bioskop yang saya kunjungi seumur hidup, makanan di situ selalu jauh lebih mahal bahkan dari harga nonton filemnya sendiri. Ya itu wajar saja. Sama seperti di kereta api atau di pesawat, harga makanan jauh lebih mahal dari di luar, kereta api bahkan lebih repot, mereka menjual cappuccino begitu disajikan ternyata mereka menggunakan kopi instant lalu di atas tutup gelasnya mereka beri satu kemasan kecil chocolate granule, sama seperti merek-merek kopi instant di warung. Harganya? Ya harga monopoli, terlalu mahal untuk kualitas makanan atau minuman seperti itu. Tidak sepadan! Monopoli memang merugikan konsumen, itu sudah pasti.
Apakah saya akan kembali menonton di teater seperti itu? Tentu saja. Saya penggemar cerita, pencinta filem dan senang popcorn terutama yang disajikan di bioskop. Entah mengapa, rasanya sangat jauh berbeda dibanding dengan jika membuat sendiri. Mungkin suasana memberikan nuansa lain. Bisa saja. Yang pasti, saya akan mencoba di tempat-tempat lainnya. Dari situ nanti saya akan tahu di mana tempat yang paling saya sukai.