Yang ketiga adalah keinginan. Keinginan selalu berusaha memenuhi keinginan, bahkan sampai kepada keinginan untuk tidak memiliki keinginan. Apapun bentuknya, polanya sama saja yaitu mengisi kekosongan. Seperti kendi yang menginginkan terisi air, ia meminta. Menginginkan terisi udara, ia memberi.
Hambatan pengelolaan keinginan ini adalah rasa malu. Keinginan selalu terhambat rasa malu, padahal mau. Tak tersampaikan apa yang benar diinginkan, karena belum sampai pada kehendak. Baru mau saja, seperti mendengar tukang es dong-dong lewat depan halaman lalu spontan berteriak, "mauu...!" Padahal eskrim cone masih ditangan belum termakan.
Malu pun tidak melulu menutup tangan, malahan seringkali mengumbar kemana-mana. Seperti pemberian yang penuh keinginan timbal balik, tak tersampaikan karena sibuk menginginkan lewat pemberiannya. Seperti spontan memberi makanan, memberi bantuan, menolak pertimbangan, karena malu menerima kenyataan kalau yang diberi sebenarnya tidak membutuhkannya.
Keinginan tanpa kehendak hanyalah konsumsi tanpa kreasi. Mengendalikan tanpa memimpin, mengulas tanpa menindak lanjuti, mengarahkan tanpa membuka jalan. Malu akan kekosongan, sibuk mengisi dengan semua kemauan. Baik dengan melahap makan semua yang ada dalam jangkauan. Juga dengan memberi jor-joran tanpa saringan kepada semua yang ada dalam jangkauan.
Malu yang memakai topeng dan bersembunyi di belakang sambil mengarah-arahkan, disimbolkan dengan nol. Malu yang memakai kostum perayaan dan menari-nari di depan sambil menarik-narik perhatian para pemegang warisan, disimbolkan dengan satu.