Khalil Gilbran dalam bukunya The prophet atau yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi Sang Nabi, dalam salah satu puisinya menyebutkan bahwa kita semua seperti Bulan, memiliki sisi terang dan gelap. Saya tidak ingat di puisi yang mana, karena seingat saya, membaca buku ini sekitar 40 tahun yang lalu. Saya bahkan ingat pernah membuat mendiang ibu saya menangis karena mengutip salah satu puisinya. Buku yang luar biasa!
Eniwei, saat ini saya ingin ngobrol soal keindahan. Bahwa dunia itu sebenarnya masih indah terlepas dari berbagai situasi yang sedang kita alami. Seperti bulan, dunia memiliki sisi gelap, bukan karena alam semesta, tapi karena cara kita memandangnya. Semuanya tergantung pada persepsi. Gelap bukan berarti jelek, bahkan terang belum tentu terlihat indah.
Begini, ketika kita membuka mata, semesta menyuguhkan semua pemandangan. Lalu kita bereaksi,"Duh udah pagi lagi!" Dengan sebuah keluhan. Maka terang itu dimata kita tidak lagi indah, pemandangan yang terhampar dalam diri kita tidak lagi menujukkan apa-apa melainkan yang ada di pikiran kita adalah beban karena hari baru sudah dimulai lalu yang kita fokuskan adalah hari yang panjang penuh dengan tugas-tugas. Keindahan tidak lagi tampak. Itu adalah persepsi!
Sekarang dibalik. "Syukurlah sudah gelap!" Saya tidak perlu lagi bekerja, panas terik matahari yang membakar sudah lewat. Sekarang saatnya beristirahat, minum teh dan menikmati sedikit kue dengan tubuh segar sesudah membersihkan diri, duduk di sudut ruangan yang hangat dan damai membaca sebuah buku. Di luar bunyi serangga, gesekan dedaunan tertiup angin, tidak ada lagi suara kendaraan, hiruk pikuk kegiatan manusia sudah mulai berkurang. Malam terasa damai dan indah. Kegelapan melahirkan kedamaian dan keindahan. Persepsi!
Keindahan adalah bagaimana kesadaran dan kepedulian kita mengangkat sisi kegelapan pada suatu kerinduan akan sebuah keseimbangan semesta, bagaimana kita dapat menyaksikan bahwa kebaikan dan keburukan merupakan sebuah keindahan sebagai sebab akibat dari alasan keagungan dari semesta. Maksudnya begini, Dunia itu indah tapi kita harus mampu melihatnya terlepas dari keburukan, kesusahan serta kesedihan yang kita alami dan bahwa pada akhirnya semua itu adalah bagian dari hidup. Itu adalah tujuan dari hidup kita yang seperti Mark Twain katakan yang juga mirip dengan Khalil Gilbran bahwa kita semua seperti Bulan yang memiliki dua sisi yaitu sisi gelap dan sisi terang. Kita perhatikan dan proyeksikan cahaya yang kita miliki maka kita akan dapat melihat bahwa refleksi yang kita pancarkan adalah keindahan.
Secara faktual, kita dapat mengatakan bahwa dunia itu indah karena perbedaan dan kompleksitas alamnya, resilien atau ketangguhan serta keajaiban kehidupannya dan bagaimana keindahan dapat kita jumpai dalam proses geologis maupun atmosferiknya, termasuk kekayaan budaya manusia dan kapasitas manusia dalam menerima serta mengapresiasi keindahan. Ironisnya pada saat yang bersamaan juga manusia berusaha menghapuskan perbedaan, menekan hal-hal yang tidak sama, menyeragamkan berbagai aspek kehidupan. Itu adalah fenomena-fenomena yang ada sekaligus merupakan tantangan karena semua itu sebenarnya merupakan bagian dari eksistensi kehidupan yang sangat dinamis, tapi manusia berusaha mengusiknya.
Titik kelemahan dari semesta ternyata pada manusia! Bumi menjadi panas karena memang kerja semesta harus begitu. Karena keseimbangan terusik maka semesta juga bereaksi. Pohon-pohon menghilang, maka oksigen terganggu dan panas meningkat, bumi menjadi gersang, kutub mencair. Itu adalah proses alami dalam mengkoreksi kesalahan sebagai proses panjang untuk mengembalikan ke kondisi semula. Baik untuk semesta, mungkin tidak baik untuk manusia. Baik atau buruk adalah semata-mata pandangan di mata manusia. Kita benci dengan suhu yang ekstrim misalnya, padahal itu yang seharusnya terjadi pada bumi, kita sebagai manusia hanyalah pendatang sementara alam semesta akan berusaha merawat segalanya termasuk kita, mungkin saja sangat buruk bagi kita, tapi bisa jadi itu adalah solusi yang terbaik untuk semesta. Mungkin saja panas ekstrem mencairkan semua es di kutub dan daratan akan tenggelam mematikan semua mahluk. Proses resetting atau kalau komputer rebooting untuk mulai lagi dari awal. Semesta punya cara sendiri untuk mempertahankan diri. Manusia hanya pendatang yang singgah, semesta sebagai tuan rumah berhak menjaga diri.
Akhirnya, kembali ke obrolan soal keindahan. Keindahan adalah persepsi subjektif. Terlepas dari kondisi yang sedang berlangsung, persepsi akan keindahan adalah pilihan. Dengan memilih untuk memfokuskan pandangan kita pada keagungan alam dan aspek-aspek positif kehidupan, maka kita akan dapat menemukan keindahan dimana-mana.