AES005 Oleh-Oleh dari Bincang AES Pertama
Mega
Saturday October 23 2021, 9:51 PM
AES005 Oleh-Oleh dari Bincang AES Pertama

Siang tadi diadakan pertemuan AES pertama secara daring. Hari Sabtu, pukul 11 siang. Bukan waktu yang ideal sebenarnya, karena weekend -apalagi jam nanggung begini- biasanya diisi dengan acara keluarga, tapi nyatanya sekitar 20-an penulis berkumpul di ruang maya itu. Ada kakak-kakak Smipa, orang tua, dan anak-anak, mulai dari jenjang SD sampai KPB. Dan, tentu saja bintang tamu istimewa dari Fort Collins. Siapa lagi kalau bukan Pak @joefelus, salah seorang penulis AES yang paling produktif.

Dari paparan teman-teman penulis AES, ada beberapa insight menarik yang bisa dibagikan.

Tidak semua penulis bisa secara spontan menuangkan isi kepalanya. Ada yang tidak langsung menulis, tetapi disimpan di jurnal dulu dan suatu saat dibaca-baca lagi, baru dijadikan sebuah tulisan.

Ide menulis bisa didapat dari apa yang kita lihat di sekeliling kita. Jadi, menulis membuat kita lebih aware dengan hal-hal yang terjadi di sekitar kita. Apresiasi atau komentar dari pembaca dapat membuat perasaan menjadi senang. Kadang-kadang kita berpikir apa sih yang kita tulis ini atau mengapa kita menulis sesuatu, tetapi ternyata muncul respons positif yang tak kita duga. Hal ini membuat kita merasa bahwa pemikiran kita dihargai.

Dengan menulis, kita bisa lebih lancar dan mengalir mengobrol dengan seseorang, karena kita merasa lebih mengenal orang tersebut melalui tulisannya.

Kunci menulis adalah konsistensi. Tulisan esai di AES, 250 kata per hari, dalam setahun akan menjadi sekitar 90 ribuan kata, bisa menjadi sebuah (atau beberapa buah) novel. Meskipun pada awalnya susah mendapatkan ide tulisan, saat dilakukan dengan konsisten, menulis akan menjadi sebuah habit

Untuk menjadi sebuah kebiasaan, yang terpenting bukan menulis setiap hari, tetapi rutin menulis. Tantangan dalam membangun rutinitas menulis biasanya adalah kesibukan sehari-hari, juga karena pembaca AES ada yang masih anak-anak sehingga isinya perlu difilter. Selain itu, munculnya distraksi, terlalu banyak berpikir, kesulitan menuangkan pikiran secara bebas tanpa tema tertentu, dan pengaruh mood menjadi penghalang untuk bisa rutin menulis.

Saat kita melihat tulisan kita di masa lalu, kadang-kadang kita merasa tulisan kita dulu tidak oke. Hal ini pun mungkin dialami para penulis terkenal, karena kita tidak pernah tahu berapa banyak draft tulisan mereka yang gagal sebelum menjadi karya indah yang kita baca.

Sebuah saran praktis untuk rutin menulis sempat dilontarkan Kiran: pilih ide sederhana agar bisa menulis setiap hari, daripada menunggu esok hari dengan harapan mendapat ide yang lebih baik. Jika kita menargetkan untuk menulis setiap hari dan target itu tidak tercapai, lalu kita menulis dua esai sekaligus untuk mengejar jumlah tulisan, maka tujuan untuk membangun rutin tidak tercapai. 

Menulis bisa menjadi terapi. Menulis bisa menyembuhkan. Menulis bisa ‘menyelamatkan’. Menulis bisa menjadi turning point dari kehidupan yang lama ke kehidupan baru. Menulis bisa mendekatkan kita semua. Menulis seperti melepaskan letupan-letupan pada sepanci air mendidih. Tulisan adalah rumah untuk pulang. Itu adalah sebagian kutipan yang dibagikan peserta sesi mengobrol siang tadi.

Ehm, tak terasa tulisan ini sudah mencapai 450 kata lebih. smile-1 Saatnya untuk menyudahinya. Selamat malam dan selamat beristirahat, semuanya.  

admin
@admin   5 years ago
Mantaap sekali ulasannya, Bu Mega. 😎👍
Mega
@mega   5 years ago
Thanks, pak. Yg penting tutup pancinya sdh dibuka mlm ini, hehehe...
joefelus
@joefelus   5 years ago
wahahaha.... bintang tamu istimewaaaaaaaa.... :D
yulitjahyadi
@yulitjahyadi   5 years ago
Waah kereen, thank you Mega buat catatannya yang detail seolah Mega menyimak sambil notulensi.. Keren ingatannya 👍🏼😍
Mega
@mega   5 years ago
Sama2, yul. Sebenernya aku nyatet sambil dengerin obrolan. Haha...
yulitjahyadi
@yulitjahyadi   5 years ago
hahaa.. hebat! 😁
matheusaribowo
@matheusaribowo   5 years ago
Aahh senangnya, dibantu mengingat dari tulisan Bu Mega