AES 216 Morning Run
joefelus
Saturday December 25 2021, 8:58 AM
AES 216 Morning Run

Kegiatan napak tilas saya yang pertama adalah lari pagi! Nah ini agak lucu sebab terus terang dulu saya tidak pernah lari pagi di Waikiki. Bukan karena tida suka lari, saya "pernah" suka lari tapi hanya di sekitar kampus. Di waikiki tidak pernah dilakukan karena masalah akses. Sulit ke Waikiki terlalu pagi karena butuh waktu untuk ke lokasi ini dari Kampus atau juga dari tempat tinggal saya yang baru sesudah pindah, keluar dari asrama di kampus.

Saya bagun ketika matahari masih belum muncul, di luar gelap dan kegiatan di tempat yang paling sibuk di Honolulu ini sangat minim. Para pekerja baru saja berdatangan, turun dari bus kota untuk ke tempat kerja masing-masing. Jalanan masih sepi, sehingga saya bisa dengan leluasa berlari.

Saya mulai berlari di trotoar. Jalanan masih gelap dan di sana sini banyak genangan air sedikit, entah karena semalam hujan atau karena trotoar barusan dicuci agar pasir-pasir bisa dibersihkan dan pejalan kaki menjadi nyaman, atau karena imbas sprinkler, penyiram rumput, sebab beberapa kali saya pikir gerimis, ternyata hanya "mist" dari penyiram rumput yang tertiup angin.

Sambil berlari saya mulai melamunkan banyak hal, di salah satu lokasi dekat pantai, pernah teman-teman dari Indonesia berkumpul di malam hari, bernyanyi-nyanyi riang sambil ada yang menari-nari. Dari kelompok itu sudah 2 orang yang pergi ke rumah Tuhan. Beberapa orang sudah menjadi orang penting baik di pemerintahan, NGO, perusahaan atau bidang pendidikan, padahal waktu itu kami kurus kering jadi mahasiswa miskin di rantau. Sekilas saya melihat sebuah lapangan rumput di mana kami, Nina, Kano dan saya setiap hari sabtu menghabiskan pagi hari di situ. Kami biasa menggelar tikar atau selimut di atas rumput dan Kano berlari-lari bermain bola sementara saya tidur-tiduran membaca buku sambil minum kopi. Di tempat itu juga kami mengadakan syukuran ketika Nina hamil 7 bulan. Saya saat itu masak sendirian selama 3 hari untuk sekitar 200 orang.

Dari jalan Kalakaua, saya berbelok ke Kapahulu, di depan kebun binatang, saya kembali membayangkan mobil Nisan sentra dua pintu berwarna abu-abu milik salah seorang teman, parkir malam-malam jika kami ingin menikmati keramaian waikiki. Kami adalah 5 orang yang bersahabat kental yang banyak melakukan kegiatan bersama.

Jalan Kuhio agak banyak perubahan. Restoran-restoran yang dulu saya datangi sudah berganti nama. Tempat perhetian bus kota yang biasa saya gunakan masih tetap ada di situ. Lalu di seberangnya ada International Market place yang sudah berubah total. Dulu banyak pedagang kecil, berjualan lilin yang kemudian diukir, semua sudah hilang dan berubah menjadi toko-toko besar milik konglomerat. Saya sedih! Perubahan sepertinya sangat tidak bersahabat untuk pengusaha-pengusaha kecil. Ada sebuah warung kecil yang menyajikan makanan korea di situ yang saya gemari, entah sekarang di mana, tempat ini sudah jadi sebuah hutan beton! Satu-satunya yang masih ada dan menjadi saksi bisu adalah sebuah pohon beringin raksasa yang sepertinya sengaja dipertahankan, selain itu tidak ada bekas sisa-sisa masa lalu.

Berlari di sini ternyata untuk saya sangat mudah karena tidak harus berjuang melawan elevasi dan tipisnya oksigen seperti di Colorado. Sangat nyaman, walau saya yakin rate detak jantung saya jauh lebih rendah jadi harus berlari lebih kencang agar dapat membakar kalori seperti di Fort Collins. Saya berbelok kembali ke jalan Kalakaua, di sekitar Fort De Russy. Di sini ada sebuah taman yang biasa digunakan warga Indonesia BBQ, karena di sini disediakan panggangan. Tidak lama kemudian saya melewati Hotel Sheraton. Ini pernah menjadi base untuk pekerjaan saya sebagai seorang tour guide. Hampir tidak ada perubahan di sini kecuali dipercantik dengan adanya beach walk yang tentu saja penuh dengan toko-toko barang branded dan restoran. Sambil berlari saya membayangkan dulu bekerja duduk di kursi depan di samping sopir menghadap ke penumpang sambil memegang mikrofon. Sedikit senyuman tersungging ketika mengingat bagaimana lucunya para penumpang saya "kerjai" cerita tentang tempat-tempat di seluruh kota dan membuat mereka secara serempak dan seragam menoleh ke kiri, lalu ke kanan karena "sengaja" saya cerita bangunan2 bersejarah di kiri dan kanan. Biar mereka olahraga leher! Benar-benar seperti bebek yang "diangon" oleh seseorang, mereka "nurut" semua!Hahahaha...

10 tahun saya hidup di kota ini dan itu merubah saya menjadi orang yang sangat jauh berbeda daripada yang pernah saya angan-angankan. Siapa yang pernah menyangka bahwa menjadi tour guide, menjadi tukang panggang, bartender bahkan mengurus restoran menjadi sebuah "panggilan". Tidak pernah terlintas bahwa saya dapat menyukai jenis-jenis pekerjaan seperti ini. Siapa sangka?

Malam nanti adalah malam Natal, saya juga memutuskan akan misa malam di gereja kampus yang duu saya pernah bekerja sebagai sakristan (kalau di Indonesia istilahnya koster) Ya, saya juga bekerja selama 5 tahun setiap akhir pekan sebagai sakristan. Ini adalah gereja yang saya sangat cintai, dikelola oleh pastor-pastor serikat Jesuit.

Tanpa terasa sementara pikiran saya penuh dengan kenangan masa lalu, saya sudah mengelilingi Waikiki. Saya duduk di sebuah pier kecil yang sebetulnya fungsinya sebagai wave breaker, pemecah ombak agar permukaan pantai tidak terlalu parah terkena dampak erosi. Saya duduk memperhatikan di sebelah kanan gedung-gedung pencakar langit yang dibangun untuk hotel-hotel di sepanjang pantai, sementara di sebelah kiri mulai tampak warna kemerah-merahan menjelang matahari terbit, tampak di sana puncak diamon head, gunung yang puncaknya hilang puluhan tahun yang lalu ketika meletus. Sekarang sebagai patokan arah, Diamond head - Ewa , Mauka (gunung) - Makai (laut). Ini patokan arah yang aneh, karena tergantung kita berada di mana. Diamond Head dan Ewa bisa jadi Timur maupun Barat, sementara Mauka dan Makai, juga bisa jadi Utara atau Selatan, sekali lagi tergantung kita berada di mana! Butuh waktu bertahun-tahun hingga terbiasa dengan patokan arah yang nyeleneh ini.

Saya mengusap keringat yang membasahi seluruh tubuh. Rasa haru begitu kental menguasai perasaan saya. Ini lari pagi saya yang paling emosional. Untung banyak orang mulai berdatangan, salah satunya seorang baopak-bapak yang berdiri dengan makanan yang kemudian disambut burung-burung perkutut dan burung dara. Di pantai bahkan ada keseruan lain, seekor Hawaiian Monk Seal (anjing laut) besar sekali dengan santai tidur di pantai dengan nikmat dan damai . Dia juga sedang liburan menikmati kedamaian dan keindahan pantai seperti saya!***