Saya sedang sibuk di dapur menyiapkan makanan untuk hari ini. Sayuran dan lauk sudah selesai dan kemudian saya melihat masih memiliki banyak cabe merah, bawang putih, tomat dan bawang merah, lalu timbul ide membuat sambal terasi yang entah kapan saya terakhir membuat ini, mungkin puluhan tahun yang lalu.
Sambil memasak di atas kompor dan mencium bau terasi yang aduhay, saya tersenyum-senyum sendiri mengingat pengalaman beberapa orang Indonesia di rantau yang saya kenal termasuk saya sendiri yang berkaitan dengan terasi. Entah kapan saya pernah cerita bahwa salah seorang sahabat saya di Kansas city gedung apartemennya didatangi polisi dan pemadam kebakaran karena dikira ada kebakaran pada saat dia menggoreng terasi. Hahaha.. Lalu ada seorang sahabat saya yang lain menggoreng ikan jambal di dapur umum di asrama sehingga seluruh dapur berasap dan orang-orang yang ada di sana maupun yang akan ke dapur kabur beramai-ramai karena baunya yang luar biasa.
Untuk sementara orang bau ikan asin maupun terasi merupakan suatu yang aperitif, yang menggugah selera, sementara untuk orang lain ini bau yang sangat dibenci dan dianggap bau busuk. Saya sendiri setuju dengan keduanya, antara cinta dan benci pada saat yang bersamaan. Saya tidak suka rumah bau terasi atau ikan asin, tapi perut saya juga berteriak minta makan jika tercium bau itu. Ada dualisme disitu dan walaupun ada dua rasa yang bertolak belakang, entah mengapa menjadikan sebuah pengalaman yang sangat unik.
Manusia menurut para ahli memang memiliki semacam perasaan afektif yang ambivalens yang menciptakan semacam konflik antara perasaan negatif dan positif seperti misalnya ketika kehilangan binatang kesayangan. Saya ingat ini, pada saat itu rasa sedih yang saya rasakan sangat luar biasa, seperti kehilangan anggota keluarga tapi pada saat yang sama saya merasa bahagia bahwa binatang kesayangan ini sudah tidak lagi menderita. Semua itu terjadi salah satunya karena ada koneksi emosional terhadap sesuatu.
Saya pernah menulis tentang hubungan antara makanan dengan memory. Nah saya pikir terasi atau ikan asin jambal juga begitu. Saya terus terang jarang memasak dengan terasi, apalagi tinggal di rantau, tidak mau didatangi polisi atau pemadam kebakaran seperti teman saya, rasa malunya tidak sepadan dengan nikmatnya makanan. Saya lebih memilih membeli saja, risikonya kecil hahaha.. Nah itu tadi, ada rasa cinta dan benci pada saat yang sama. Rasa cintanya mungkin karena terasi dan jambal memiliki rasa umami yang menyenangkan untuk lidah, tapi menurut saya tidak hanya itu. Terasi mengingatkan saya pada mendiang ibu yang senang membuat sambal. Makan sambal terasi mengingatkan saya pada kebahagiaan dan kehangatan keluarga di masa kecil. Ini memiliki andil yang tidak kecil. Di rantau apa lagi, makan ayam goreng dengan sambal terasi langsung mengingatkan saya malam-malam bertiga bersama Kano ketika dia masih kecil makan di warung pinggir jalan yang agak gelap, ayamnya enak sekali juga sambal terasinya walau baunya menempel di jari hingga esok harinya! Setiap makan ayam dengan sambal terasi saya langsung ingat itu dan memberikan berasaan senang untuk mengenang masa lalu. Entah warung itu masih ada atau tidak, saya belum sempat untuk mencari.
Dalam hal makanan, manusia dapat secara simultan mengembangkan perasaan suka pada sesuatu yang tidak menyenangkan. Terdengar memang aneh, tapi lihat saja pengalaman kita dengan paria, pare, bitter gourd atau bitter melon. 4 nama tadi untuk satu buah yang sama, rasanya pahit. Tapi kalau saya makan siomay atau baso tahu tanpa ditemani dengan paria, saya merasa kehilangan sesuatu. Ada yang tidak lengkap jika satu rasa hilang. Siomay atau baso tahu memiliki rasa yang sangat lengkap, manis, asin, umami, asam dan pahit, belum lagi ditambah pedas. Nah ini makanan sempurna yang dapat memanjakan semua titik rasa di lidah. Pernah terpikir tidak?
Lidah kita juga sudah melalui masa belajar yang lama. Anak-anak kecil tidak menyukai kopi misalnya karena pahit, tapi lama kelamaan lidah mulai belajar bahwa rasa pahit yang dianggap sesuatu yang negatif, ternyata menyenangkan juga. Toleransi manusia pada hal-hal negatif juga semakin berkembang, mangkanya ada istilah antara cinta dan benci itu bedanya sangat tipis. Iya khan?
Foto credit: washingtonpost.com