AES 1485 Salah Tempat
joefelus
Friday October 17 2025, 8:11 AM
AES 1485 Salah Tempat

Saya punya banyak pertanyaan. Tentang banyak hal mengenai kehidupan. Kalau boleh jujur, tidak ada satupun jawaban yang benar-benar dapat memuaskan saya. Katakan saja begini. Kita hidup, kita lahir di dunia tanpa tahu apa-apa lalu sepanjang kita menjalani kehidupan, kita berusaha mengetahui alasan mengapa kita dilahirkan, kemana kita akan pergi, apa yang harus kita perbuat, tujuan apa yang sebenarnya harus kita capai, dan banyak lagi. Pada akhirnya, hingga saat ini saya merasa belum mengetahui apa-apa.

Benar bahwa saya banyak berpikir, banyak merenung dan tidak jarang saya banyak bicara. Bisa jadi ada beberapa yang benar, ada banyak yang mengambang bahkan salah sama sekali. Saya tidak tahu. Sederhana saja, siapa yang dapat menjawab mengapa kita dilahirkan? Mudah menjawabnya jika kita hanya mengucapkan hal-hal yang cliche apalagi jika sudah memasuki ranah kepercayaan misalnya. Semuanya menurut saya sangat kosong jika tidak benar-benar menjawab sejujurnya apa yang ada dalam diri kita. Sekarang, apakah yang di dalam diri kita itu sudah benar-benar dapat menjawab pertanyaan itu? Saya yang sudah sekian puluh tahun menjalani kehidupan belum juga merasa yakin tahu jawabannya.

"Oh, itu misteri kehidupan, kita tidak akan pernah tahu jawabannya." Ada yang mengatakan begitu. Kalau begitu, jika kita terus menjalani hidup sampai akhir tanpa mengetahui apa tujuan hidup kita, bukankah itu merupakan kesia-siaan?

Peristiwa akhir-akhir ini membuat saya semakin banyak bertanya-tanya. Mungkin malah lebih tepat saya ingin protes. Entah terhadap siapa. Mungkin terhadap yang mempunyai kuasa akan kehidupan. Mendiang sahabat saya dan juga mediang putrinya, ini contoh kisah nyata, di batu nisannya tertulis salah satu ayat : "I have fought the good fight. I have finished the race. I have kept the faith." Sebuah ayat yang indah tapi tidak saya sukai. Karena apa? Karena saya merasakan sebuah ketidakadilan. Memang sebuah hal yang sangat terpuji, mampu menghadapi segala tantangan dan teguh pada keyakinan. Itu hal yang bagus, tapi juga penuh penderitaan. Pertanyaan saya, itu kah tujuan hidupnya?

Tujuan hidup katanya seringkali dapat ditemukan pada kualitas hidup yang dijalani, bagaimana dampak kehidupannya bagi orang lain dan pengalaman-pengalaman yang sudah dilewati, bukannya berapa lama seseorang itu hidup. Bagi sementara orang, keyakinan dalam menjalani religiositas maupun kepercayaan spiritual menjadi suatu tujuan dalam menjalani hidup seperti halnya mencari pencerahan dan moralitas. Untuk orang lain tujuan hidupnya dapat dijumpai dalam bentuk relasi dengan orang lain, atau memberikan kontribusi pada komunitas dan sebagainya. Jadi tidak penting berapa lama kita hidup.

Mungkin saya terlalu fokus pada hal-hal yang luar biasa. Masuk akal, karena kehidupan adalah suatu yang luar biasa, sehingga terasa janggal jika tujuan kehidupan ini ternyata hanya pada hal-hal sepele. Logis, masuk akal, walau ternyata pada kenyataannya tidak begitu. Sesuatu yang sederhana seringkali menjadi pondasi dari kehidupan itu sendiri. Tujuan hidup tidak perlu terfokus pada hal-hal besar.

Bulan September kemarin Bapa Paus Leo XIV Mengkanonisasi (begitu kah istilahnya?) 2 orang muda, Calro Acutis dan Pier Giorgio Frassati. 2 orang muda ini termasuk mereka yang meninggal diusia sangat muda. Carlo meninggal pada usia 15 tahun karena leukimia sementara Pier Giorgio meninggal pada usia 24 tahun karena penyakit polio. Mereka berdua diangkat sebagai orang-orang suci karena kiprahnya di dunia walau usia mereka sangat pendek. Carlo adalah santo pertama yang diangkat dari kelompok milenial. Mungkin itu jawaban dari pertanyaan saya. Carlo dikenal sebagai cyber-apostle of the Eucharist, seorang rasul yang berusaha memperkenalkan mukjizat ekaristi melalui internet. Sementara Pier Giorgio selama hidupnya yang pendek melayani dan menolong orang miskin dan tertindas.

Saya mengaku salah. Tidak ada kematian yang sia-sia. Semua kehidupan memiliki tujuan, hanya saja saya tidak atau belum mampu melihatnya karena saya mencarinya di tempat yang salah.

Foto credit: myrkothum.com

Andy Sutioso
@kak-andy   7 months ago
Nice post... Mengundang refleksi. Mungkin @murdeani atau @gunawan-muhtar bisa berpendapat 🙏🏼
murdeani
@murdeani   7 months ago
Saya baru nyadar dimention... Nuhun kak Andy, pak Joe. Mari kita endapkan dulu
gunawanmch
@gunawan-muhtar   7 months ago
Terima kasih tulisannya Pak @joefelus, salam kenal nggih 🙏🏼. Seperti kata kak @kak-andy, sangat mengundang refleksi.
You May Also Like