Senin pagi, saya berada di tengah-tengah ribuan raungan kendaraan yang tersendat hampir tidak bergerak. Entah kapan terakhir kali saya mengalami kodisi seperti ini, sulit untuk diingat. Sambil menanti kendaraan di depan saya bergerak, saya mengisi waktu dengan memperhatikan keramaian. Sangat menarik melihat sekian ribu karakter manusia yang berbeda-beda. Seorang wanita muda dengan sangat cepat berhenti di samping saya sambil menggerutu. Ketika ada kendaraan yang datang berlawanan dengan arah kami, dia berteriak lantang. Padahal kalau dipikir-pikir wanita ini yang mengambil jalan orang itu. Lalu lintas semakin parah, dari depan tidak bergerak demikian juga jalur dimana saya berada. Ketika kendaraan dari Barat bergerak mereka ramai-ramai menunjukkan ketidak sabaran. Protes karena kendaraan dari Timur mengambil hak mereka. Kebisingan begitu terasa, bau asap kendaraan bagi saya sangat menganggu apalagi karena mereka yang mulai tidak sabar mulai menggerung-gerungkan kendaraan mereka. Ini adalah sebuah realitas. Kehidupan yang serba cepat, bising dan emosional. Saya merasa terlempar dari situasi yang serba tergesa-gesa ini danberharap tidak lagi merasa menjadi bagian kehidupan seperti ini, setidak-tidaknya satu setengah tahun terakhir. Pengalaman hari Senin pagi ini tiba-tiba membuka mata saya.
Sebenarnya jika dipikirkan benar-benar, yang terbaik dan terpenting dalam hidup ini banyak sekali karena terkait satu dengan yang lain sehingga tercipta sebuah keseimbangan, keharmonisan dan keindahan. Kecepatan dan ketergesa-gesaan tidak menjamin kualitas hidup. Kecepatan tidak selalu menjadikan hidup ini seimbang atau harmonis. Mengenai ini mungkin akan saya lanjutkan dengan banyak obrolan lain. Tapi kali ini saya akan menutup serangkaian celotehan selama beberapa hari ini dengan yang terakhir yaitu hidup itu sendiri. Apa artinya semua hal yang kita pilih menjadi yang terpenting dalam hidup jika kita tidak lagi hidup?
Satu hal tentang hidup, yang sekarang saya jalani tampaknya agak-agak semi slow living. Kenapa saya katakan semi slow living karena sebetulnya tidak sepenuhnya perlahan-lahan tapi saya hanya mengambil beberapa hal yang bagi saya cocok dengan gaya hidup yang saya jalani akhir-akhir ini.
Apa itu slow living? Itu adalah gaya hidup yang memprioritaskan lebih pada kualitas daripada kuantitas dengan secara sengaja memperlambat ritme kecepatan dalam menjalani keseharian agar lebih mampu menikmati setiap momen, proses, dan lebih menghargai hal-hal yang sungguh-sunggh penting, lebih memfokuskan diri pada keseimbangan dan kualitas. Terus terang, saya sudah lelah tergesa-gesa mengejar sesuatu, saya sudah bosan bersaing dan ingin berada di barisan terdepan. Sekarang saya lebih menikmati menonton dari sisi atau malah dari belakang. Sayaa bisa lebih banyak belajar dari mengamati, lebih bersyukur dengan apa yang sudah selama ini alami. Giliran saya sudah selesai, saatnya menikmati pemandangan dan bersorak sorai memberi semangat. Sejauh ini saya merasa ini lebih seru daripada benar-benar terlibat didalamnya.
Saya masih belajar tentang cara hidup ini. Mengubah gaya hidup yang dulunya serba cepat, dikejar tugas dan target serta tanggung jawab kemudian mengubah ke menjalani hidup yang lebih meaningful tidak mudah. Kesabaran saya sering digugat. Pada intinya mengubah kebiasaan lama ke hal-hal yang baru itu butuh determinasi apalagi di sekeliling saya semuanya serba cepat. Ketika kita tidak selaras dengan sekeliling, segala sesuatunya menjadi begitu membingungkan. Ketika disekeliling kita bergerak dengan cepat sementara gerakan kita begitu lambat, maka ada kemungkinan kita jadi pusing, gamang atau entah apa lah saya tidak tahu istilahnya. Tanya saja pada ahli fisika hahaha..
Eniwei, cara hidup seperti ini, seperti saya katakan barusan, kita dengan sadar memilih mengerjakan segala sesuatu tanpe tergesa-gesa, terutama lebih memfokuskan pada hal-hal yang penting serta memberikan perhatian yang lebih mendalam. Ini adalah salah satu cara hidup yang mindful, menhadirkan diri sepenuhnya pada present moment dalam segala hal, entah menghabiskan waktu dengan keluarga, melakukan hobby bahkan ketika sedang menikmati makanan. Yang pasti, lebih mementingkan kualitas daripada kuantitas, dan banyak lagi. Pendek kata, yang menurut saya terpenting adalah benar-benar memaknai hidup itu sendiri. Untuk bisa mengetahui apa saja yang terbaik, paling utama dan pertama-tama adalah kita harus hidup dahulu, tapi juga harus tahu hidup yang bagaimana. Bagi saya sedikit mengadaptasi slow living dapat membuat kualitas hidup menjadi terasa lebih baik.
Foto credit: kompas.com