AES 12 Belajar (yang) Sadar
ratrikendra
Wednesday February 23 2022, 10:43 PM
AES 12 Belajar (yang) Sadar

Malam ini saya mengikuti salah satu forum diskusi Filsafat Pendidikan, topiknya tentang Behaviorisme. Bicara tentang pengondisian, penguatan, dan perilaku yang terukur. Disampaikan oleh beberapa tokoh yang namanya sudah sering disebut sejak masih jadi mahasiswa: Pavlov, Skinner, Watson.

Menarik ketika moderator menyampaikan ceritanya sebagai atlet. Sekolah-sekolah atlet atau militer, kebanyakan menggunakan metode ini untuk mendidik siswanya. Tampaknya tujuannya utamanya agar berprestasi, sekaligus patuh. Namun, pertanyaan yang menggelitik di benak saya: Apakah anak-anak di sana benar-benar menikmati prosesnya? Sejauh mana mereka mengenal dirinya?

Ketika pengondisian terus-menerus diberikan untuk membentuk perilaku, hanya yang terukur, lalu kapan dimensi yang lebih dalam di diri mereka disentuh? Ibarat gunung es, perilaku terukur adalah lapisan paling atas yang kasat mata.

Tanpa menyudutkan pihak manapun, sering kita dengar berita perilaku-perilaku kriminal atau asusila dilakukan oleh oknum aparat, pemilik sekolah/institusi agama, atau anggota militer. Kesannya seperti paradoks. Kok bisa? Orang-orang yang seharusnya paham betul moral dan hukum, malah melanggar peraturan yang mereka gaungkan.

Mungkin jawabannya: Karena mereka tidak sepenuhnya memahami dan menghayati apa yang mereka pelajari selama ini. Mereka hanya mengimitasi dan patuh buta dengan pengondisian yang selama ini mereka lihat dan alami.

Metode pembelajaran yang diterapkan berpusat hanya pada perilaku yang terukur. Berhenti di sana. Tidak masuk pada lapisan yang lebih dalam. Padahal menurut saya, manusia punya keterbatasan untuk bisa mempersepsi seutuhnya tangkapan indera. Jadi wajar saja, begitu pengondisian dihilangkan (misal mereka sudah naik pangkat, jadi atasan atau guru, tidak lagi jadi siswa), perilakunya kembali pada alamiahnya. Dimana nilai yang mereka yakini belum tentu sesuai dengan norma yang selama ini mereka terima sebagai doktrin.

Di satu sisi, menurut saya pengondisian dan penguatan juga dibutuhkan dalam proses belajar. Namun tidak berdiri sendiri, melainkan sebagai jembatan untuk masuk ke dimensi yang lebih dalam: Membangun kesadaran. Kita paham kenapa belajar hal tersebut penting untuk diri. Lalu perlahan muncul dorongan dari dalam untuk terus bertumbuh.

Saya yakin, semakin baik kesadaran bertumbuh, semakin kecil pengondisian dibutuhkan. Misalnya, ketika saya ingin bangun ritme istirahat yang baik pada anak saya (usia 4 tahun), awalnya pengondisian dibutuhkan. Seiring proses berjalan, saya ajak ia bicara, mengapa ia perlu tidur cukup. Apa yang ia rasakan jika ia bangun dalam kondisi kurang tidur? Ajaibnya ia bisa merasakan dan menyampaikan, bahwa kurang tidur itu, "Ngga enak, Bun. Sekolahnya ngantuk." Ajaibnya lagi, jika esok harinya sekolah, ia mau tidur lebih awal dan bangun pada waktunya, tanpa ada saya yang mengondisikan di rumah. 

Kembali pada pendidikan yang (idealnya) memanusiakan manusia. Revolusi memang dibutuhkan untuk mengubah sistem besar. Menurut saya, prosesnya sedang berjalan sedemikian rupa di berbagai lini. Butuh keberanian dan kegigihan untuk dapat terus berjuang, dalam kapasitas, ruang, dan peran yang saat ini kita jalankan. Bismillah..

joefelus
@joefelus   4 years ago
Mungkin lebih tepat manipulasi kondisi daripada pengondisian. Saya melihat "flaw" di sana karena alat ukur untuk mengukur tingkah laku sangat mengerdilkan perilaku sesungguhnya, dan pendididik (bisakah disebut sebagai pendidik?) sangat mudah terjebak dengan proses pengukuran yang sama sekali tidak akurat. Sama seperti di sekolah, jika perilaku diberi nilai A, B, C dan seterusnya, ini sama sekali tidak menunjukkan arti apa-apa. Saya pernah membahas ini ketika menulis soal Rapor Smipa :)
You May Also Like