kelompok sosial itu sangat penting dalam kehidupan, itu saya alami dan mengerti betul karena kalau ingin jujur, kehidupan pada saat dewasa saya itu lebih banyak dihabiskan di rantau daripada di dalam keluarga. Ketika kita berada di rantau, support group itu sangat penting. Bayangkan saja ketika kita berada di sebuah tempat yang asing, tanpa mengenal seorangpun, sangat sulit untuk menyesuaikan diri.
Pengalaman saya, yang pertama harus dilakukan adalah orientasi terhadap semua hal. Arah, lokasi, transportasi umum dan sebagainya yang sangat penting untuk dapat menjalani keseharian kita secara normal, itu harus benar-benar dipahami. Dimana perhentian bus, supermarket, ATM, mengadakan alat komunikasi dan sebagainya tidak hanya di jaman modern, di masa-masa lampau juga sangat penting.
Saya ingat Nina pernah bercerita di hari pertama dia tiba di Hawaii, dia menangis sebab menghadapi banyak masalah dan tidak mengenal siapa-siapa, harus melakukan semua sendiri, pada saat itu penggunaan internet masih minim, tidak ada telepon celular, dan informasi masih sulit diperoleh. Itu masa orientasi yang berat. Naik bus tersesat dan tidak dapat kembali karena tidak mengetahui jalur bus kota, misalnya. Sekarang segala bentuk informasi dapat diperoleh dengan internet. Dulu untuk mengetahui letak bank, ATM dan supermarket harus bertanya kesana kemari, sekarang tidak!
Mengingat pengalaman kurang menyenangkan yang kami alami itu, timbul ide untuk menjadi sukarelawan yang menyambut teman-teman yang baru tiba di rantau. Itu yang selama belasan tahun kami lakukan. Menjemput teman baru yang tiba di bandara, misalnya. Ini sangat berarti bagi mereka yang baru tiba. Bayangkan kami tiba di sebuah tempat baru, tidak mengenal siapapun, buta arah dan buta akan hampir semua informasi yang penting. Jaman itu sangat amat sulit! Kami merelakan diri untuk membantu agar mereka tidak mengalami pengalaman buruk yang kami alami dulu. Buktinya tradisi semacam ini kemudian mulai banyak dilakukan orang lain. Selain membantu orang-orang yang baru tiba, kami juga bertambah teman bahkan akhirnya bersahabat selama puluhan tahun hingga sekarang.
Kekuatan kelompok sosial dirantau itu sangat luar biasa. Kami akhirnya membangun semacam keluarga baru, menciptakan network dan menjadi support group untuk satu sama lain selama di rantau. Entah sejak kapan, saya juga senang hosting teman-teman untuk ngumpul di rumah untuk sekedar ngobrol, bersantai dan menikmati kebersamaan. Acara kumpul-kumpul ini perekatnya biasanya satu, yaitu makanan!
Dulu ketika saya di Hawaii, sering sekali membuat makanan Indonesia, seperti nasi Padang, karena makanan seperti ini sangat langka, malah boleh dibilang tidak ada. Berbeda dengan di Colorado dimana banyak teman-teman yang berasal dari Padang dan sering masak sehingga warga Indonesia dapat memesan. Waktu di Hawaii, saya harus buat sendiri. Mungkin itu yang menjadi penyebab saya berkecimpung dalam pekerjaan yang berkaitan dengan makanan. Nah selain nasi padang, saya membuat macam-macam, nasi pecel, hingga shrimp scampy yaitu masakan udang ala Italia dengan banyak garlic, butter dan white wine. Ketika di Colorado beberapa kali saya memanggang kalkun, membuat betutu tapi menggunakan cornish hens, entah apa dalam bahasa Indonesianya, ini sejenis ayam yang ukurannya lebih kecil dari telapak tangan. Lalu karena makin lama rumah saya makin kecil, acara kumpul-kumpul pindah ke tempat seorang sahabat tapi saya yang tetap masak.
Kebiasaan itu kemudian juga saya lanjutkan di Indonesia. Dari warga kompleks yang kami undang hingga teman-teman lainnya. Sejak saya kembali ke Bandung, setidak-tidaknya sudah 2 kali saya menjamu tamu. Yang pertama warga kompleks dengan menu native American yang saya pilih adalah makanan ala suku Navajo dan yang kedua sahabat-sahabat saya dengan menu ala Mexico yaitu tortas, atau roti lapis menggunakan roti bolillo. Nah sekitar 2 minggu lagi saya akan menjamu teman-teman kantornya Nina, mungkin sekitar 15 hingga 20 orang. Kali ini menunya agak berbeda, saya ingin menyediakan charcuterie board tapi tanpa daging, melainkan buah segar seperti irisan apel dan anggur, raisin, keju lembut dan cheddar serta crackers. Disamping itu jika ada yang tidak suka keju, saya akan juga menyediakan sayuran segar seperti bunga kol, wortel dan celery sticks yang bisa dinikmati dengan ranch dressing. Menu pembuka lainnya adalah ubi cilembu yang nanti akan saya iris tebal lalu dipanggang kemudian diatasnya nanti akan saya beri irisan tipis bengkoang, alpukat dan acar red onion lalu diberi balsamic vinegar. Saya harap nanti rasanya empuk dan manis dari ubi, renyah dan segar dari bengkoang dan acar bawang serta creamy dari alpukat ditambah kesegaran balsamic vinegar yang asam dan sedikit manis. Hampir lupa, jika waktu mengijinkan, saya ingin juga membuat deviled egg, yaitu telur rebus yang kemudian dibelah dua, lalu kuning telurnya akan saya proses dengan menggunakan mayonnaise, dijon mustard, dill pickle dan bubuk paprika.
Bagaimana dengan makanan utama? Karena acara berkumpulnya siang hari, saya ingin membuat sliders, yaitu roti lapis berbentuk burger kecil menggunakan french bread yang akan saya buat sendiri dari scratch dengan isian ayam suwir bumbu sereh ala Vietnam dengan acar wortel dan daikon dengan saos garlic and basil aioli. Mungkin lebih tepat makanan ini disebut Bahn Mi slider. Kalau suka pedas nanti saya akan sediakan sambal sriracha. Teman kantor Nina ada yang tidak makan daging, seafood dan cabe. jadi nanti saya akan membuat slider dengan isian jamur portabella yang akan saya masak dengan menggunakan balsamic vinegar, dan juga dengan carmelized onion. Begitu kira-kira.
Pada intinya kita tidak hidup sendirian. Kelompok sosial seringkali sangat dibutuhkan agar dapat mendukung satu sama lain. Berbagi pengalaman dapat membantu menghadapi masalah, bahkan kebutuhan untuk didengarkan saja sangat berarti bagi mereka yang sedang dihdapkan pada banyak masalah hidup. Jika tidak pun, dengan duduk bersantai, melepas lelah dan bersenda gurau akan dapat saling menghibur, dan melepaskan diri dari rutinias. Ini kegiatan yang sehat selain juga bagi saya merupakan kesempatan menjalankan hobby di dapur hahaha.
Foto credit: vegetarianmamma.com