Di luar terdengar banyak ibu-ibu ngobrol sambil jalan kaki hilir mudik di jalan kompleks yang menanjak. Suara mereka sangat khas, ada yang melengking tinggi ada yang berat, bercampur aduk. Ada yang mengobrol soal sembahyang Tahajud, ada yang mengeluh badan sakit-sakit. Ya begitulah.
"Pak Jon, kok ga pernah olahraga lagi?" Tanya salah satu diantara mereka. saya biarkan ibu itu memanggil saya dengan nama yang salah. Haha.
"Saya olahraganya di dalam, Bu. Lulutnya cidera, sulit di tanjakan curam." Kata saya sedikit beralasan yang agak gombal. Padahal alasan sebenarnya adalah olahraga dengan ibu-ibu kurang intens karena banyak ngobrolnya, sementara saya ingin serius mempertahankan heart rate pada level tertentu. Saya kemudian pamit dengan alasan gombal lainnya. "Ada tugas membersihkan rumah." Kilah saya ketika diajak bergabung. Padahal saya sedang ingin menikmati pagi ini sendirian sesudah selesai mengurus bapak pagi ini. Adik saya menawarkan rondo royal atau tape goreng. Ini tidak bisa ditolak walau saya nanti akan menyesal karena kalorinya sangat tinggi untuk sepotong kudapan yang tidak terlalu besar ini. Saya bawa satu yang paling kecil. Lalu pulang sambil membayangkan makan jajanan ini dengan ckopi. Pasti nikmat sekali. Dapat menemani saya merenung sendirian pagi ini.
"Life is not merely a series of meaningless accidents or coincidences, but rather, it's a tapestry of events that culminate in an exquisite, sublime plan." Ini adalah sebuah kutipan yang saya ambil dari sebuah filem. Ini mengingatkan saya kembali bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidup itu ada alasannya. Saya memulai renungan pagi ini dengan mengungkap kembali kutipan yang barusan saya tulis ulang. 3 tahun yang lalu saya merenungkan hal yang sama dan saya tulis di AES 468. Pagi ini saya terdorong untuk merenungkan kejadian-kejadian yang saya alami akhir-akhir ini.
Hidup itu membingungkan. Memang kutipan tadi, jika saya tangkap dengan benar, berkata bahwa hidup itu bukan merupakan serangkaian kejadian atau kebetulan semata-mata, tapi merupakan sebuah karya yang luar biasa besar dan maha indah. Setiap helai benang yang digunakan merupakan bagian dari satu kesatuan masterpiece yang tidak dapat diabaikan begitu saja. Benang hitam mungkin dianggap jelek tapi tanpa benang hitam, tapestry itu tidak akan sempurna. Kehidupan tidak bisa dilihat hanya di satu titik, tapi kita harus mampu memadang secara keseluruhan. Apakah artinya sehelai benang hitam jika kita hanya terpaku pada itu? Tapi jika kita gabungkan dengan benang-benang yang lain, lalu kita pandang hasil tenunan dari ribuan helai benang, maka kita akan dapat menyaksikan sebuah karya yang sangat indah. Begitulah hidup!
Kita memang sering terjebak pada satu periode kehidupan. Salah seorang sahabat saya pernah merasa begitu terpuruk dan menangis. Dia berkata," Salah aku dimana? Selama ini tidak pernah ngejahatin orang, tidak pernah menipu, tapi masalah terus datang secara bertubi-tubi." Saat itu saya tidak mampu berkata-kata. Yang sahabat saya rasakan belum tentu sama dengan yang saya bayangkan. Empati saya terbatas, walau berusaha be in his shoes, saya yakin tidak akan sama. Saya juga tidak mau menghibur dengan kata-kata cliche yang tidak berarti apa-apa. Tapi hidup memang begitu. Kita tidak pernah bisa mengerti mengapa harus mengalami itu semua hingga mata kita nanti terbuka dan dapat menghubungkan berbagai titik-titik peristiwa yang sudah kita alami.
Tidak jarang kita terus terpaku pada penderitaan lalu mulai mempertanyakan hidup. Itu saya alami juga berkali-kali. Sangat manusiawi. Siapa yang ingin menderita? Tidak ada. Tapi mengapa kita harus melalui itu? Pasti ada jawabannya. Mungkin jawaban itu lama baru muncul, tapi yang jelas tanpa penderitaan kita tidak akan mampu mengapresiasi kebahagiaan. Itu adalah dualisme semesta. Satu tidak akan dapat hadir tanpa kehadiran yang lain. Hanya saja kemampuan kita untuk dapat melihat dan mencerna sangat terbatas. Ketika kita menderita, yang biasa kita rasakan dan perhatikan adalah penderitaannya saja. "Kok begini terus? Kapan selesainya?" Ya, itu pertanyaan bertubi-tubi ketika kita sudah merasa lelah. Lalu kita mulai mempertanyakan eksistensi kita.
Akhir-akhir ini saya mempertanyakan yang dialami ayah saya, misalnya. Jika yang sedang ayah saya alami itu merupakan benang-benang hitam yang menjadi bagian kecil dari sebuah tapestry yang luar biasa indah sepertinya saat ini saya belum mampu melihatnya karena masih tertumpu dan terpaku pada benang hitam itu. Ini adalah tugas yang harus saya lakukan agar mampu melihat hasil karya indah yang sesungguhnya.
Foto credit: edupaint.com