Semesta bekerja dengan cara yang sangat misterius. Seringkali kita tidak mampu melihatnya dengan jelas hingga tiba pada kondisi dimana segala sesuatu menjadi begitu teratur dan berada di tempatnya masing-masing dengan sangat sempurna. Tidak jarang juga kita tidak melihatnya sama sekali, tidak menyadarinya dan malah lebih sering kita menganggap semua itu adalah hasil dari kerja keras kita sendiri. Seperti beberapa waktu yang lalu saya mengungkapkan, mencotek dari beberapa pendapat yang pernah saya temukan, "Life is not merely a series of meaningless accidents or coincidences, but rather, it's a tapestry of events that culminate in an exquisite, sublime plan." Jalan hidup itu merupakan serangkaian keajaiban yang kalau kita amati dengan sungguh-sungguh menuju ke sebuah kesempurnaan yang seringkali tanpa kita sadari.
"Dear Nina and Joe, We are so sorry to hear of your Dad's death, Joe. When I took Kano home the other night after supper at our house, he spoke fondly of him for the entire trip. "I didn't get to know him a lot, but because he was my Dad's Dad, I know he was a great man!"
Kalimat-kalimat di atas Itu saya baca semalam ketika sedang beristirahat. Selama sekian hari saya tidak mampu mengamati pesan-pesan yang teman-teman saya berikan karena hidup saya sangat kacau balau. Untuk kesekian kalinya saya terharu. Pesan diatas membuat saya meneteskan air mata lagi. Yang saya tangkap, Kano melihat ayah saya, kakeknya, melalui diri saya.
Ketika segala bentuk armor, atau tameng yang melindungi kita dari berbagai hantaman emosi sedang tidak berdiri tegak melindungi diri, segala bentuk ungkapan emosional langsung terasa menghujam dalam ke sanubari. Pada saat ini pertahanan saya belum lagi pulih seperti sedia kala, bahkan saya bisa menangis dimana saja dihadapan siapa saja. Pada saat ini rasa malu maupun keinginan untuk menjaga imaji menjadi prioritas urutan entah yang ke berapa. Semua itu saat ini tidak lagi terlalu penting. Yang saya fokuskan adalah bagaimana bisa menyelesaikan semua kedukaan yang sedang saya jalani. Jika memang perlu menangis, saya akan lakukan, ketika saya perlu bersedih, saya akan jalani. Saya menerima kondisi ini tanpa syarat dengan segala bentuk konsekuensinya. Itu katanya salah satu hal yang harus dilakukan jika ingin "sembuh". Yaitu dengan menerima dan merangkul semua perasaan yang timbul.
Eniwei, semua rangkaian ritual sudah hampir selesai. Hari minggu kami mengantar abu ayah ke tempat peristirahatannya yang terakhir, di laut lepas pantai . Ayah menyukai laut, saya sempat beberapa kali berperahu dengan beliau bahkan menginap di tengah samudra. Kedekatan dan keindahan relasi kami berdua menjadi berbagai kenangan yang saya simpan dalam-dalam sebagai sebuah harta yang sangat indah. Malam nanti kami akan berkumpul dengan teman-teman dan tetangga untuk mendoakan ayah di hari ke-7, sebagai serangkaian tradisi dan kesempatan penting untuk mendoakan yang telah tiada.
Saat ini juga bagi umat Katolik sedang menjalani minggu Adven, yaitu masa penantian menjelang hari Natal. Konon dipercayai masa-masa Adven adalah masa yang penuh dengan keajaiban. Jaman kecil hingga dewasa saya meyakini itu, walau berbeda cara pandangnya. Kita seringkali terpaku pada keajaiban-keajaiban yang besar, dan yang sederhana sering terabaikan. Selama beberapa hari terakhir ini saya mengalami banyak keajaiban yang sangat luar biasa. Sebulan terakhir ini hampir setiap hari saya menjalaninya. Mungkin tidak tertangkap ketika menghadapinya, tapi begitu direfleksikan dalam-dalam saya sangat bersyukur telah menerima berbagai keajaiban, berbagai anugerah.
Di kalangan anak-anak menjelang Natal mengenal adanya Sinterklaas atau Santa Claus yang merupakan simbol kegembiraan, saat-saat memberi, keramah-tamahan, kemurah-hatian, dan semangat untuk berbagi. Kali ini sepertinya saya berada di pihak yang menerima. Saya syukuri dengan randah hati bahwa ada kalanya pemberian merupakan sebentuk anugerah melimpah yang diberikan semesta melalui tangan-tangan yang berada di sekeliling saya. Rasanya seperti masa kecil ketika kita berharap Sinterklaas memberi hadiah secara rahasia karena merasa telah menjadi anak yang baik sepanjang tahun. Kali ini saat dewasa saya merasa seolah-olah telah diguyur dengan berbagai kado dan hadiah dari tangan-tangan ajaib yang disampaikan oleh Secret Santa!
Foto credit: giftsomething.com