AES 1567 Keheningan Dan Tangis
joefelus
Sunday February 8 2026, 8:58 AM
AES 1567 Keheningan Dan Tangis

Dunia itu sangat bising. Bising karena berbagai suara yang bercampur baur tanpa henti, setiap saat, setiap detik ada jutaan atau mungkin malah milyaran suara yang hanya sebagian kecil dapat kita tangkap dengan telinga telanjang. Itu pun sudah sangat bising.

Dunia itu juga sangat bising dengan perdebatan, pendapat, dengan berbagai tekanan, pertikaian dan kebisingan-kebisingan lain. Pada saat yang sama, karena berbagai kebisingan ini, manusia mulai sulit untuk mendengarkan. Telinga telanjang dan telinga hati menjadi begitu sibuk memilah suara dan kebisingan yang ada di antara kita. 

Karena kebisingan ini, kita sering tersesat dan sulit memilah mana suara yang perlu kita dengarkan dan mana yang perlu kita abaikan. Manusia begitu panik dengan berbagai kebisingan itu dan mulai bingung serta tidak tahu lagi mana yang harus benar-benar didengarkan dan diresapi baik-baik.

Lalu sekelompok Biksu berjalan dengan keheningan, tanpa kata-kata dan teriak-teriak seperti halnya kelompok lain yang berusaha menyuarakan pendapatnya. Perhatikan saja selama tahun 2025 hingga saat ini di jalan-jalan raya kota-kota besar di Amerika, terutama di akhir pekan. Berapa juta masyarakat berusaha berteriak-teriak menyuarakan pendapat mereka, meneriakkan ketidaksetujuan mereka, mengelu-elukan harapan mereka dan berusaha memperjuangkan keinginan mereka. Gegap-gepita, ramai bersorak-sorai dengan tetabuhan dan bahkan nyanyian. Siapa yang mendengarkan? Yang diteriaki bergeming dan terus melakukan apa yang sejak awal mereka kerjakan hingga banyak korban, termasuk korban jiwa.  

Tapi beberapa bulan terakhir, kelompok biksu ini melakukan hal yang tidak biasa. Berjalan kaki tanpa suara, tanpa yel-yel, tanpa spanduk maupun kardus yang bertuliskan keinginan mereka. Tidak, mereka hanya berjalan dengan diam. Langkah mereka seperti serangkaian doa yang didaraskan seirama dengan gerakan kaki mereka menembus cuaca dingin, debu, bahkan es. Dan masyarakat menangis! Bukan lagi kemarahan yang menandai gerakan ini, tapi keheningan, doa, kedamaian dan jeritan hati serta keharuan yang menimbulkan tangis.

Manusia berusaha mempertahankan benteng diri untuk mempertahankan diri dari berbagai ketakutan, mempertahankan diri dari berbagai tekanan, kegelisahan, kepenatan dan berusaha mempertahankan keutuhan diri agar tidak hancur berkeping-keping. Kita terus berjuang mempertahankan benteng ini seumur hidup. Manusia terus berusaha mempertahankan benteng ini agar tetap utuh, menghalau segala benturan agar tetap kokoh.  

Kekerasan dan hantaman dihadapi dengan pertahanan diri, teriakan dihalau dengan teriakan, dorongan dipertahankan dengan reaksi serupa. Manusia mulai lelah dan semakin lama semakin tak berdaya karena sekokoh apa pun benteng, dengan benturan yang tiada habisnya, akan sampai pada batas. 

Mengapa masyarakat menangis? Karena sekelompok biksu yang berjalan kaki tanpa suara. Ketika mereka lewat dalam keheningan dan doa, masyarakat mulai mengerti bahwa kebisingan yang mereka dengar, kebisingan yang juga mereka buat untuk mempertahankan benteng diri, mulai terbuka dan bagian dari dalam, yang ada di relung jiwa yang paling murni, mulai tersentuh. Bagian yang masih dapat menikmati keheningan merekah dan merasakan kedamaian! 

Kita sudah sekian lama harus bertempur dengan kebisingan, akhirnya terjebak dalam segala macam keruwetan dunia. Bising dibalas dengan bising hingga lupa untuk mendengarkan, lupa akan keheningan, tidak lagi menyadari kedamaian. Pada saat kita disadarkan, kita menangis. Bukan menangisi para biksu yang menderita menghadapi jalan aspal yang keras, menderita karena tergencet kendaraan hingga kehilangan satu kakinya, menderita menghadapi suhu ekstrem yang dingin selama badai salju, mereka terus menghadapi kedinginan, tapi tetap melangkah dalam doa. Bagian yang paling lembut dalam diri kita tersentuh, terkuak, dan membuka diri. Pada saat itu kita ingat akan keheningan, kita ingat akan kedamaian, dan kita menangis!

Foto credit: calm.com