Hari ini menangkap beberapa hal yang cukup menggugah - berawal dari apa yang muncul di Ririungan - ada juga yang tidak secara jelas muncul di Ririungan. Salah satu yang muncul adalah tulisan Saskia, Smiling. Membaca tulisan Saskia, perasaan saya agak campur aduk. Di satu sisi saya senang bahwa Saski berani menuliskan tentang perasaannya, pengalamannya dengan cukup terbuka. Selesai membaca, saya klik like... Saya percaya bahwa menuliskan tentang apa yang kita rasakan adalah sebuah proses menerima (acceptance) dan dengan demikian ini jadi proses penyembuhan (healing) juga. Berapa lama? Kita tidak pernah tahu. Tapi menuliskan apa yang jadi kegundahan kita perlu sebuah keberanian besar - apalagi menuliskannya di ruang seperti di Ririungan ini. Tapi selanjutnya, apa yang bisa saya lakukan buat Saski?
Saat ingin menuliskan komentar - saya spontan berhenti... Hmm, jujur saya ingin sekali membantu. Tapi ada keraguan juga apakah yang saya ingin tuliskan bisa membantu Saski... Akhirnya saya melipir ke sana-sini dulu, membaca tulisan teman-teman lain, juga membaca respon Yuli di Group Discussion Lingkar Blogger. Ada yang menarik saat Yuli menuliskan bahwa sebelumnya Yuli juga bukan tipe orang yang suka / mudah menuliskan sesuatu.
Saat membaca esai Bang Joe tentang Smipa bagai keluarga, sy jadi terdorong utk memakai kacamata yang sama. Berbagi dengan keluarga tanpa rasa 'takut, ga enak, segan'. Ini yang menurut saya bisa diangkat terus ke permukaan, bahwa kita adalah keluarga besar.
Bahwa sampai hari ini Yuli sudah menuliskan esainya yang ke 21, bisa jadi ini sebuah pencapaian tersendiri buat Yuli - seperti juga buat banyak dari kita yang mencoba menulis di sini. Tapi intinya ada proses bertumbuh yang terjadi - bahwa kita melakukan sesuatu yang baru dengan demikian melampaui diri kita yang sebelumnya.
Selepas membaca tulisan Yuli, saya kembali ke posting Saski dan memberanikan diri menulis komen buat Saski. Mudah2an diterima dengan baik - karena saya tuliskan dengan segala intensi baik yang saya punya. Ini adalah upaya saya untuk reaching out (entah apa Bahasa Indonesianya - mungkin mengulurkan tangan) - merespon apa yang diungkapkan Saski dalam tulisannya. Tidak ada pretensi apa-apa, hanya karena kita di Semi Palar adalah keluarga.
Tentang satu hal yang tidak jelas muncul di Ririungan, adalah teman menulis saya sejak awal, yang beberapa hari ke belakang ini tidak hadir lagi tulisannya. Saya merasa kehilangan kehadirannya. Waktu saya hubungi, teman saya itu bilang, moodnya sedang tidak bagus... Buat teman saya ini saya belum tau bisa berbuat apa, tapi keinginan untuk reach out itu tetap ada. Mudah2an situasi segera membaik.
Photo by Claudio Schwarz on Unsplash
ijin tag @yulitjahyadi dan @saskia-electra karena saya sebut-sebut dalam posting saya ini. Semoga berkenan. 🙏🏼
Terima kasih kak Andy, ya.. memang saya menjadikan ririungan ini sebagai tempat bertumbuh. Sama seperti saya ikut belajar di Smipa. Sebuah esensi RUMAH yang nyata kak Andy.. nuhun inisiasinya 🙏🏼 Semoga terus menular