AES258 Menulis dan Refleksi Diri
Andy Sutioso
Saturday January 29 2022, 4:44 PM
AES258 Menulis dan Refleksi Diri

Tulisan ini masih terkait dengan berbagai tulisan saya tentang literasi - sebagai upaya menuliskan proses belajar dan pemahaman tentang literasi secara umum, lebih spesifik lagi literasi diri dan literasi semesta - bagaimana kita sebagai manusia menelaah sisi dalam dan sisi luar hidup kita. 

Dalam beberapa kesempatan diskusi, muncul banyak pendapat bahwa proses pengenalan diri bisa berjalan melalui berbagai media - dan ini terkait dengan potensi, talenta dan keunikan individunya. Saya sepakat soal ini. Dari konsep smipa kita paham bahwa manusia punya peluang menemukan dirinya lewat hal-hal apa yang jadi minatnya - dengan sendirinya lewat berbagai cara. Kita kenal banyak individu yang memang mengekspresikan dirinya melalui berbagai cara. Salah satunya yang sempat saya tuliskan di Ririungan ini adalah mas Prapto (Suprapto Surjodarmo) seorang penari yang menurut saya - salah seorang yang memang betul-betul penari. He is definitely a dancer. Tidak ada keraguan soal itu.

Yang saya coba sampaikan adalah bahwa dalam konteks refleksi diri - sebagai salah satu hal yang diyakini penting dalam proses pengenalan diri, adalah bahwa menulis (sejauh pengalaman saya pribadi juga melalui amatan dari dinamika interaksi yang terjadi di Ririungan ini) adalah cara yang sangat kuat (powerful) untuk membantu proses refleksi diri. Tulisan adalah cermin kita yang paling jelas - seakan berkaca di hadapan kaca cermin yang bersih dan tidak bergelombang. Karena kata-kata dan narasi adalah sesuatu yang sangat gamblang, jernih untuk mencerminkan apa yang kita pikirkan dan rasakan. 

Walaupun tulisan merupakan satu dari sekian banyak media ekspresi yang ada, tulisan punya satu karakter yang tidak dimiliki media ekspresi lainnya. Hal ini yang perlu dipahami bersama. Saya ambil contoh begini. Seorang penari bisa mengekspresikan kesedihan atau kegalauan hatinya lewat gerakan tarinya, seperti halnya seorang pelukis menggoreskan warna-warna cerah untuk menggambarkan kegembiraan hatinya. Tapi tarian atau lukisan tersebut bagaimanapun juga akan selalu abstrak di hadapan siapa yang hadir untuk mempersepsinya. Lain halnya dengan tulisan, walaupun dengan segala keterbatasannya, tulisan atau kata-kata akan selalu lebih gamblang menggambarkan pikiran dan emosi seseorang. 

Seorang pelukis ataupun penari akan tetap bisa mengekspresikan diri lewat tulisan dan menjadikan tulisan-tulisannya cermin bagi dirinya, sebaliknya seorang yang bisa menulis tidak selalu bisa mengekspresikan pikiran dan emosinya melalui masakan, lukisan, tarian atau media lainnya. Mudah-mudahan lewat penjelasan singkat ini, bisa ditangkap bahwa sampai sejauh ini saya melihat bagaimana tulisan atau kata-kata adalah media refleksi yang luar biasa kuat bagi siapapun yang melakukannya. Kuncinya menurut saya hanya satu, rutin menulis... jadikan menulis sebagai ritual kita di sepanjang kita hidup. Tulisan-tulisan kita akan jadi cermin kita yang luar biasa. Seperti salah satu quote yang saya baca di salah satu tulisan di AES ini:

if you want to know yourself, write a book. 

Saya sepakat sepenuhnya, jadi marilah menulis...