Tulisan ini terinspirasi saat teman-teman K7 kembali dari Perjalanan Kecil beberapa waktu lalu. Dua buah angkot warna biru yang kita sewa masuk area parkir dan menurunkan anak-anak sekembali dari perjalanan tersebut.
Saya sempat memotret salah satu angkot seusai mengantarkan anak-anak di area parkir dan kembali ke jalanan kota Bandung. Entah kenapa saya teringat tahap-tahap awal kami merintis Semi Palar. Saat itu, sempat terpikirkan, punya keinginan dan cita-cita untuk menabung hingga suatu waktu bisa membeli / punya Bis Sekolah. Saat itu terpikirkan - seperti di sekolah-sekolah lain, bis sekolah ini bisa jadi salah satu kebanggaan sekolah, saat kesana kemari di jalanan kota Bandung.
Di sepanjang perjalanan, entah kenapa cita-cita itu menghilang - saat mengamati bahwa dari konteks pendidikan holistik, teman-teman Smipa bepergian dengan kendaraan umum justru jadi ruang pembelajaran yang juga baik adanya. Banyak hal dan pengalaman yang tidak bisa didapatkan saat anak-anak terus difasilitasi dengan bis sekolah, terpisah dari dinamika mobilitas masyarakat. Konsep-konsep pembelajaran terutama relasi sosial dan membangun kesadaran bisa lebih didapatkan anak-anak dengan bepergian menggunakan kendaraan umum. Itulah sebabnya, di perjalanan besar kelas 8, teman-teman berangkat ke tujuan dengan menggunakan kendaraan umum, apakah itu bis antar kota ataupun kereta ekonomi. Perjalanan juga adalah bagian dari proses pembelajaran holistik. Kami yakin, teman-teman mendapat banyak pelajaran dari pengalaman-pengalaman semacam itu.
Di atas ini foto Nisrina yang sedang duduk di KA Ekonomi dalam perjalanan ke Solo - saat Perjalanan Besar pertama - Menelusuri Jejak Mataram. Nisrina sedang berinteraksi dengan teman kecil, penumpang satu gerbong di perjalanannya - bagian dari tantangan yang diberikan kakak untuk berinteraksi dengan teman-teman seperjalanan.
Di sisi lain, sebagai alternatif, saat bepergian menggunakan kendaraan orangtua adalah juga bentuk keterlibatan orangtua. Satu situasi di mana anak-anak merasakan betul bagaimana orangtua ikut terlibat dan jadi bagian dari proses pembelajaran. Sebentuk koneksi bisa kita dapatkan lagi. Jadi ya begitulah cerita bagaimana Semi Palar menghilangkan cita-cita punya bis sekolah. Toh yang terpenting adalah proses dan pembelajarannya ya - bukan perangkatnya. Salam.