Catatan singkat - dari linimasa kegiatan Semi Palar di mana saya sempat terlibat di dalamnya. Wali Ate adalah judul buku catatan proses dari teman-teman dosen dan mahasiswa Unpar Jurusan Matematika yang kembali ke Sumba Barat Daya untuk mata kuliah PMD3T. Singkatan dari Program Mengajar di Daerah Terdepan Tertinggal dan Terluar adalah mata kuliah pilihan semester pendek yang ditawarkan oleh teman-teman kami, para dosen Jurusan Matemaika bagi para mahasiswa untuk berangkat ke Sumba dan mengajar anak-anak di sana selama jangka waktu 5 minggu. Ini adalah program tahun ke dua di mana tim Smipa Disada berkesempatan untuk mendampingi proses pembekalan 21 peserta program ini.
Tahun lalu saya terlibat cukup banyak bahkan sempat berangkat ke Sumba - yang catatan-catatannya saya dan kak MJ sempat tuliskan dalam sebelas esai Jurnal Sumba. Senarainya bisa dilihat di laman Dari Tanah Sunda ke Tanah Sumba. Di tahun ini yang berangkat ke Weetebula adalah kak Lyn, kak Meita dan kak MJ. Mereka berangkat di penghujung pelaksanaan PMD3T untuk melihat dan mendampingi para mahasiswa, sekaligus berkesempatan untuk memberikan pelatihan singkat kepada para guru, mahasiswa dan dosen di daerah Weetebula.
Semi Palar melalui Smipa Disada mendukung penuh program ini dengan beberapa tujuan, salah satu yang terutama adalah ingin melihat bagaimana pendekatan belajar yang dikembangkan dan diterapkan di Semi Palar bisa dititipkan kepada teman-teman mahasiswa peserta PMD3T untuk mendamping belajar anak-anak di Sumba sana. Bagi kami ini jadi kesempatan yang luar biasa untuk 'membuktikan' bahwa konsep pendidikan holistik bisa diterapkan di mana saja, sejauh para pelakunya cukup memahami apa dan bagaimana caranya. Tentu saja ini jadi kesempatan baik juga bagi Semi Palar untuk bisa mulai menjangkau sudut-sudut Indonesia dan mewarnai pendidikan di sana.
Hari ini buku Wali Ate diluncurkan di Unpar dan kami hadir untuk kedua kalinya menghadiri peluncurannya - di mana kami berkesempatan berperan di dalam berbagai prosesnya.
mahasiswa peserta dilatar belakangi foto anak-anak Sumba
Bagi kami tentunya ini juga sebuah proses belajar, karena dinamika yang sangat berbeda dari apa yang kami alami di tahun sebelumnya. Buku yang dihasilkan juga secara format berbeda. Buku pertama, Ole Dewa adalah buku tekstual (naratif) sedangkan buku yang sekarang ini disusun sebagai sebuah catatan visual, sebuah photobook.
Buku kedua tentunya bisa lebih banyak bercerita lewat gambar - cukup banyak panorama berbagai lokasi di Sumba Barat Daya - yang luar biasa indah - yang dituangkan di sana. Di sisi lain, untuk memahami prosesnya, buku Ole Dewa bisa bercerita lebih utuh dan lebih mendalam. Bagaimana interaksi dan ikatan yang terbangun antara mahasiswa peserta dan anak-anak di Sumba sana terjalin dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama. Dampaknya kami lihat sendiri cukup mengagumkan - terlihat dalam perubahan diri (beberapa) teman mahasiswa dan juga anak-anak di Sumba sana.
Menutup tulisan ini, saya mengetuk hati rekan-rekan semua untuk berkontribusi untuk pendidikan anak-anak di Sumba dengan memiliki buku Wali Ate. Saya dan tim Smipa Disada terlibat penuh dalam memproses buku Wali Ate ini, dari mulai proses kurasi konten foto dan narasi, proses editing, juga perancangan grafis dan tata letak buku ini.
Spesifikasi buku Wali Ate :
Saya cuplikkan dua halaman buku Wali Ate di bawah ini:
Info pemesanan ada di bawah ini (untuk pemesanan bisa dilaksanakan kolektif di Semi Palar).
Besar harapan kami rekan-rekan orangtua berkenan terlibat dalam mendukung pendidikan anak-anak di Sumba melalui pembelian buku ini. Terima kasih atas segala perhatian dan dukungannya. Salam.