Upacara bendera memang sesuatu yang rutin dilaksanakan pada setiap tanggal 17 setiap bulan di Semi Palar. Kenapa sebulan sekali, tujuannya memang menjadikan sesuatu yang berulang ini bukan sekedar menjadi rutinitas, tapi sebaliknya menjadikan upacara bendera di Semi Palar menjadi sesuatu yang bermakna dan ditunggu-tunggu.
Pagi ini ada satu peristiwa menarik yang akan saya ceritakan di sini, bukan terkait upacaranya, tapi perangkat yang digunakan dalam upacara ini. Bukan benderanya, bukan pasukan pengibar benderanya, tapi tiang bendera yang digunakan. Saat pasukan pengibar bendera melaksanakan tugasnya, di tengah berkumandangnya Indonesia Raya, bendera yang sedang dikerek naik tampak seperti kembali turun, seakan tali pengerek bendera terlepas dari tangan pengerek bendera. Tapi sebetulnya bukan itu yang terjadi. Yang terjadi sebenarnya, tiang bendera yang terdiri dari beberapa bagian, merosot turun sehingga tiang bendera menjadi lebih pendek dari sebelumnya.
Sudah beberapa kali ada diskusi, kenapa Semi Palar tidak membuat tiang bendera yang permanen. Sebetulnya hal ini sudah beberapa kali jadi pemikiran kami. Tapi sekian tahun tiang bendera ini yang digunakan, karena tiang bendera yang pemiliknya adalah kak Imam, adalah tiang bendera yang punya segudang cerita. Tiang bendera yang sudah dibawa oleh kak Imam dan digunakannya ke banyak lokasi di pelosok Nusantara, dari ujung Barat sampai ke ujung Timur di berbagai upacara dan peristiwa - terutama dalam Ekspedisi Garis Depan Nusantara yang dilaksanakan eh Wanadri dan Rumah Nusantara beberapa tahun yang silam. Pendek kata, tiang bendera yang selalu kita gunakan di Semi Palar ini adalah bukan tiang bendera biasa. Tiang bendera yang istimewa dan menyimpan banyak cerita. Di mana saja kak Imam pernah mengibarkan bendera, beliau yang lebih tahu.
Setelah upacara ditutup oleh pemimpin upacara, seperti biasa, petugas upacara berkumpul untuk merefleksikan apa yang sudah terlaksana. Tiang bendera diperbaiki - dikembalikan ke ketinggian semestinya, Dalam kesempatan itu saya mengajak para petugas berkumpul di sekitar bendera untuk sedikit bercerita tentang tiang bendera ini. Mudah-mudahan kesempatan ini memberikan makna yang berbeda kepada mereka. Terakhir saya mengajak seluruh petugas upacara dan kakak-kakak untuk memberikan perhatian penuh, tanpa bicara, mengamati berkibarnya bendera Merah Putih yang dilatari langit biru. Beberapa menit dalam hening kami melakukan itu dan mudah-mudahan pengalaman tersebut juga memberi kesempatan bagi Sang Merah Putih untuk 'bicara' kepada kita semua yang hadir di dalam lingkaran itu. Semoga...