Tulisan ini saya kira juga jadi kepingan pengalaman saya yang saya rasa cukup memengaruhi cara berpikir saya dan dengan demikian konstruksi Konsep Pembelajaran Holistik di Semi Palar. Tulisan ini akan jadi dua bagian - karena memang terjadi dalam dua segmen peristiwa yang bagi saya sangat bermakna.
Kalau sebelumnya saya bercerita tentang interaksi saya dengan seorang seniman lukis (Iweng), kali ini saya punya pengalaman unik dengan seorang seniman tari. Beliau - meninggal beberapa waktu lalu, dikenal sebagai mas Prapto. Nama lengkap beliau adalah Suprapto Surjodarmo. Perjumpaan saya dengan beliau juga bisa dibilang cukup aneh - kalau tidak mau dibilang ajaib. Tulisan ini sekaligus juga saya tujukan untuk mengenang almarhum mas Prapto, salah satu sosok yang sempat saya jumpai - perjumpaannya yang sangat singkat, tapi punya dampak luar biasa bagi diri saya pribadi.
Perjumpaan-perjumpaan saya dengan orang-orang seperti Iweng, mas Prapto, dan lainnya terjadi di sekitar tahun 1998 - saat Krisis Moneter menghantam Indonesia. Buat saya Krisis Moneter adalah blessings in disquise. Kalau krisis moneter tidak terjadi, sepertinya jalan hidup saya akan sangat berbeda. Intinya, karena saat itu saya pengangguran - saya punya banyak waktu untuk berkeliaran ke sana kemari dan proses itu menghantarkan saya untuk berjumpa berbagai figur yang sangat mengubah cara berpikir saya, membuka perspektif saya lebih luas dan menyadarkan saya bahwa 'dunia' saya saat itu sangat sempit dan terbatas.
Kembali ke kisah perjumpaan dengan mas Prapto... Di suatu sore tiba-tiba masuk pesan SMS ke hape saya, seorang teman mengundang saya untuk mampir ke ITB untuk melihat sebuah pertunjukkan. Saya tanya kepada teman saya, pertunjukkan apa? Teman saya jawab ada pertunjukkan tari, tempatnya di teater terbuka di FSRD ITB. Pertunjukkan dimulai sekitar jam 20.00. Dan ya. karena pengangguran sayapun memutuskan untuk hadir.
Setiba di sana, saya menjumpai suasana yang sangat asing buat saya. Saya tidak menemui lampu sorot yang menyinari panggung, area pertunjukkan hanya diterangi beberapa obor. Suasana cenderung gelap. Suasana diperkuat dengan musik yang sangat etnis, dengan berbagai instrumen musik tradisional yang bunyi-bunyiannya juga cenderung mistik. Saya juga ingat ada rempah-rempah yang dibakar yang juga ikut membangun suasana yang terbentuk di sana. Mas Prapto dan kawan-kawannya dari Padepokan Lemah Putih, Solo akan menggelar tarian menyambut bulan purnama. Tarian yang dibawakan mas Prapto adalah bukan tarian pertunjukkan yang sifatnya hiburan, tapi lebih sebuah ritual. Lagi, sesuatu yang tidak saya pahami. Mas Prapto berkolaborasi dengan beberapa seniman Bandung - yang saya kenal adalah kang Tisna Sanjaya, juga ada seorang seniman Tribal Art, pak Toni Kanwa Adikusumah. Tentang pak Toni ini akan saya kisahkan juga dalam tulisan terpisah.
Spontan saya berpikir, apaan sih ini? Ini jaman milenium baru, kok ada orang yang menari untuk menyambut bulan purnama... saya ga paham... Tapi ya saya mengikuti pertunjukkan sampai tuntas. Sekitar jam 23.00 pertunjukkan diakhiri, salah satu penari berkeliling dan memerciki para penonton dengan air putih. Sebelum usai, salah satu dari penari menjelaskan apa yang disimbolisasikan dari berbagai segmen pertunjukkan yang digelar. Saya tidak ingat persis, tapi bahasa-bahasa seperti buana alit dan buana ageng banyak disebut... bahwa tarian ini adalah salah satu upaya untuk menjaga keseimbangan di alam semesta. Hal-hal yang jauh dari pemahaman saya saat itu. Singkat kata semuanya ternyata punya makna dan hal-hal yang ditempatkan di dalam pertunjukkan maupun diekspresikan melalui gerak dan bunyi-bunyian semua memiliki simbolisasinya masing-masing.
Di perjalanan pulang saya berpikir apa yang membuat saya bertahan di sana sampai akhir acara, mengikuti pertunjukkan yang tidak saya pahami artinya. Tapi sepertinya ada enerji yang luar biasa yang saya rasakan karena segala yang ditampilkan tadi dibawakan dalam penghayatan dan pemaknaan luar biasa. Saat saya menutup hari malam itu, saya tidak membayangkan apa yang akan saya alami di keesokan harinya. Saya akan kisahkan di tulisan selanjutnya...
sumber foto : kajanglako.com dan gelaran.id