Sehubungan dengan kepulangan Rico - setelah sekian lama tidak 'pulang kampung', kami melakukan perjalanan ke daerah Jawa Tengah. Kenapa Jawa Tengah? Mungkin sederhananya banyak kisah perjalanan sebelumnya yang cukup berdampak pada proses kami - tidak hanya Rico - belajar, memandang dan memahami segala sesuatu. Setidaknya bagi saya, Jawa Tengah cukup banyak menyimpan kisah sejarah. Kedua orangtua saya juga lahir di dua kota di Jawa Tengah. Singkat kata bagi saya Jawa Tengah punya signifikansi tersendiri.
Jadi bagian dari proses perancangan Kurikulum di Semi Palar, Jawa Tengah juga jadi tempat khusus. Perjalanan Besar di kelas 8 yang pertama dilakukan adalah menjelajahi 2 kota di Jawa Tengah, Solo dan Jogja - bertajuk Menelusuri Jejak Mataram. Sebelumnya kami mampir juga ke Temanggung menyambangi teman-teman di Kaloran dan Kandangan (mba Siska dan mas Singgih) yang sudah banyak membantu proses belajar Rico dan juga teman-teman dari kelompok lain di Semi Palar. Terakhir teman-teman KPB juga difasilitasi proses pembelajarannya saat tinggal selama 4 minggu di Dusun Ngadiprono.
Jadi ke sanalah rute perjalanan kami arahkan. Diawali dengan mengunjungi Parakan - kota kecil di dekat Temanggung, yang ternyata menyimpan banyak peninggalan sejarah - khususnya rumah-rumah kuno di daerah Pecinan. Kami mengunjungi rumah-rumah tua - tradisional Cina, rumah Cina Peranakan yang sudah direnovasi dengan sangat luar biasa, dan menginap di Omah Tangsi, satu rumah yang dibangun di jaman Belanda. Kondisinya masih sangat terjaga dan sekarang dikonversi menjadi rumah penginapan bagi pengunjung yang mengistirahatkan dirinya di kota Parakan.
Di Temanggung kami ke rumah mbak Siska yang sempat jadi mentornya Rico selama magang di Spedagi. Setelahnya kami berkunjung dengan mas Singgih yang banyak sekali menjadi inspirasi melalui berbagai karya dan pemikiran-pemikirannya... Sayangnya kami tidak berhasil ketemu mas Yudhi yang juga salah satu tokoh kunci di berbagai gerakan di Kandangan dan Ngadiprono sana. Sore hari dari Kandangan kami meluncur ke Jogja. Sempat mampir ke pasar Ngasem dan rencananya ingin ke Taman Sari. Sayangnya Taman Sari tutup pada tanggal 17 Agustus lalu.
Sore harinya, setelah entah belasan atau puluhan tahun kami memutuskan ke Candi Prambanan. Ada sesuatu yang berbeda saat kali ini hadir di sana. Mungkin karena di benak dan batin saya sedang kuat sekali keyakinan tentang Kembali ke Akar. Mungkin karena itu juga kesadarannya berbeda. Candi-candi yang banyak tersebar di Indonesia adalah jejak peradaban luhur bangsa Indonesia. Luhur... dan ini yang sangat terasa saat berdiri di sana di pelataran Candi Prambanan, menyaksikan siluetnya diterpa matahari sore... Saya meraba batu-batunya membayangkan satu demi satu batu disusun dan kemudian digoreskan relief di atasnya... Tidak bisa membayangkan, tidak masuk logika bagaimana ratusan tahun silam, bangsa Indonesia sudah bisa menciptakan hal-hal yang demikian agung, megah dan sarat makna. Betapa banyak waktu, tenaga, kesungguhan yang ditumpahkan selama proses pembangunan bangunan-bangunan ini... Bukan untuk dimanfaatkan manusianya semata - justru karena keyakinan mereka bahwa ada para dewata, ada semesta yang tak terukur kebesarannya di mana manusia mendapatkan anugerah kehidupannya...