Kupikir ku mikir. Padahal enggak. “Iya gak?”
“Tergantung.” Jawaban ini pun mengonfirmasi.
Jawaban tergantung mengindikasikan ketidak mampuan berpikir yang ditutupi dengan memikirkannya. Memikirkan ketidak mampuan berpikir, bukan berpikir. Buktinya, jawabannya aja tergantung. Ngambang. Ngawang. Kegantung.
Jawaban selalu terletak, bukan tergantung. Berpikir selalu menapak, bukan mengawang. Kalau aku pikir aku mikir, bukan berpikir itu. Tergantung selalu lah jawabannya, tidak ada jawaban sama sekali jadinya. Awan hanya meneduhkan, air hujan lah yang menumbuhkan.
Aku pikir aku mikir, hanyalah peneduhan kesadaran dan menenang-nenangkan kemenyadaran. Karena kesadaran itu menggelisahkan diri, makanya perlu ditindak lanjuti dengan berpikir agar tersalurkan ke luar sebagai guna dan kembali ke dalam sebagai darma.
Bukan tindak lanjutnya dengan memikirkan (i think i think) yang malah menggusarkan ke luar dan kembali menggelisahkan ke dalam. Seperti tulisan saya sebelumnya yang menceritakan seringkali kita tertukar antara budi dan bakti, balas budi dan balas bakti. Lelah tanpa arah, kalau istilah kekiniannya.
Berpikir adalah bertindak. Kaki di tanah, tangan di perangkat, mata di titik pahat. Manusia adalah pematung sekaligus patung yang sedang dibuatnya sendiri. The way we think is the way we feel. Hati-hati dengan jebakan belajar (atau berpikir) karena,
“Kalau kita tidak mengetahui apa-apa, kita tidak bisa belajar apa-apa. Kalau kita sudah mengetahui apa-apa, kita tidak bisa belajar apa-apa.”
“Tergantung, karena kita gak tahu apa-apa jadinya kita belajar kan.” Jawaban yang muncul merespon frasa di atas, dari kita yang berpikir kalau kita berpikir.