AES174 Semarang (Bagian 2)
carloslos
Monday December 29 2025, 8:49 AM
AES174 Semarang (Bagian 2)

Halo teman-teman yang budiman, tanggal 27 Desember saya habiskan dengan langkah yang lebih pelan. Tidak terburu-buru, seolah tubuh dan pikiran sudah sepakat untuk berdamai dengan ritme kota.

Pagi itu kami sarapan bubur, tidak ada kisah besar di sana hanya semangkuk bubur yang lumayan enak dan perut yang akhirnya berhenti mengeluh. Kadang hal sederhana seperti itu sudah cukup untuk memulai hari tanpa ekspektasi berlebihan.

Dari sana saya kembali ke kawasan Kota Lama Semarang, tepatnya ke Museum Kota Lama. Dua tahun lalu saya datang ke tempat ini sebagai murid, bagian dari barisan panjang yang digiring jadwal dan peluit. Sekarang saya datang sebagai anggota keluarga yang lebih bebas tapi justru lebih sadar. Isinya ternyata masih sama, tidak ada yang berubah, ruang-ruangnya tetap, narasinya juga tetap yang berubah hanya posisi saya sebagai pengunjung. Rupanya waktu tidak selalu bekerja pada tempat, tapi pada orang yang datang ke tempat itu.

Kami lalu menyeberang ke Skola, sebuah restoran yang berdiri tepat di depan Stasiun Semarang Tawang. Tempat ini punya dua wajah: siang sebagai restoran, malam sebagai klub. Makanannya memang enak itu harus diakui tapi harganya… yah, kurang bersahabat. Ada kenikmatan yang harus dibayar lebih mahal dan ada pula rasa kenyang yang dibayar dengan sedikit penyesalan.

Selesai makan, saya meluangkan waktu sendiri ke pasar antik. Di sanalah saya menemukan benda-benda kecil yang menyimpan cerita besar. Beberapa kartu pos saya beli salah satunya bergambar Raden Ajeng Kartini dan satu lagi foto Pakubuwono X. Kartu-kartu itu kecil, mudah diselipkan ke saku tapi membawa sejarah yang jauh lebih besar dari ukuran kertasnya. Saya selalu percaya, benda-benda semacam itu tidak sekadar barang lama, mereka adalah ingatan yang menunggu untuk diingat kembali.

Menjelang sore, saya akhirnya sampai ke Spiegel Bar & Bistro. Tempat yang dua tahun lalu gagal saya datangi karena waktu tidak berpihak. Kali ini saya berhasil, duduk di sana memberi rasa puas yang aneh bukan karena makanannya tapi karena sebuah niat lama akhirnya lunas. Kadang yang kita kejar dari perjalanan bukan tempatnya, melainkan penutupan dari sebuah penyesalan kecil.

Dari Semarang, perjalanan saya berlanjut ke Yogyakarta. Kota berikutnya sudah menunggu dengan ceritanya sendiri. Dan kisah itu akan saya ceritakan esok hari.