Tadi pagi di Taman Lansia, ada seekor kucing yang manis sekali. Dia selalu lompat seperti lumba-lumba kalau dielus-elus, menggesekkan badannya dengan senang. Saat dia sedang duduk-duduk di rumput, lewatlah seorang pria. Kucing itu langsung lari mendekatinya, menempelkan badannya dengan semangat, mengikuti langkah-langkahnya.
Pria itu punya ransel kemah besar, dengan gelas kaleng tercantol padanya. Sepatunya juga seperti sepatu kemah, pakaiannya juga, aneh untuk dilihat di tengah kota. Tapi lebih aneh lagi, tidak sedikitpun tampak kotor atau kusut. Tampaknya lebih seperti berdebu. Semua barang yang dia bawa juga tampak berdebu, tapi debu yang tidak biasa, seperti debu yang melapis mainan yang kita tinggalkan bertahun-tahun di rak. Tidak tampak seperti debu yang akan melapisi orang, karena orang pada umumnya tidak akan terlapisi debu, karena bergerak. Meski berdebu, semuanya luar biasa bersih dan licin, seperti baru dari toko.
Ketika kucing itu berlari menyambutnya, pria itu juga menyambutnya dengan senang. Dia terus berjalan, dengan kucing itu berputar-putar di kakinya. Sepertinya mereka saling kenal. Kucing itu sempat menghilang mengikuti temannya, tapi tak lama kemudian muncul lagi di tempat yang sama saat aku pertama melihatnya.
Dengan pakaiannya dan ranselnya dan langkahnya yang cepat dan tepat dan yakin, pria itu membuatku penasaran. Seru untuk membayangkan dia sesungguhnya siapa. Mungkin dia penjelajah waktu. Mesin waktunya ada di dalam pohon pusat listrik yang ada di Taman Lansia (aku selalu heran dengan pohon pusat listrik karena buat apa menutup-nutupi sesuatu yang jelas bukan pohon supaya seolah pohon). Dia selalu menyapa si kucing karena si kucing adalah bosnya yang memberikan misi, dan informasi yang dia dapatkan kemudian ditransfer lewat belaian dan sentuhan. Dia selalu berdebu karena itulah efek samping dari mesin waktu, dia selalu bersih karena itulah efek preservasi para penjelajah waktu. Itu kenapa Taman Lansia namanya Taman Lansia, bukan karena patung dinonya, tapi karena memang jadi pusat penjelajah waktu.