Disclaimer : Bila tulisan ini tidak sesuai dengan kepercayaan dan keyakinan anda, maka jadikan ini hanya semacam cerita fiksi untuk menemani secangkir kopi.
Kesadaran Semesta, Tuhan, Sang Pencipta atau apapun labelnya itu, seperti keheningan dan kegelapan total yang menyelimuti jagat :
DIA menaungi segalanya. Baik dan buruk, positif dan negatif, cahaya dan kegelapan dan semua polaritas yang ada.
Inilah kenapa, Leluhur Nusantara menyebut Tuhan dengan sebutan Sang Hyang Embang, yang artinya : Dia Yang Takterdefinisikan, Dia Yang Takterlukiskan, Dia Yang Maha Hampa / Kosong / Suwung.
Melambangkan kekosongan absolut, keadaan sebelum alam semesta tercipta tanpa polaritas, yang tidak bisa dilukiskan dan didefinisikan oleh apapun
Realitas ini (yang lalu dilabeli oleh manusia dengan sebutan Tuhan, Sang Pencipta, dll) dipandang sebagai asal mula segala sesuatu, yaitu kekuatan yang tidak berbentuk, tidak dapat dilihat, tidak dapat didefinisikan, tetapi menjadi sumber dari semua wujud.
Konsep ini sejalan dengan gagasan Sunyata (kekosongan) dalam Buddhisme dan Tao dalam filsafat Tiongkok, Laisa kamitslihi syai’un dalam spiritual Islam, atau Void dalam filsafat mistik lain.
Sang Hyang Embang adalah sebutan Leluhur Nusantara untuk Realitas Tertinggi yang Maha Kosong namun Maha Ada—sumber dari segala ciptaan sekaligus tujuan akhir kesadaran. Ia bukan sekadar “kekosongan nihil”, tetapi kekosongan yang menjadi benih seluruh potensi realitas, tempat awal dan akhir segala wujud.
DIA adalah sesuatu yang tidak bisa definisikan dan dilukiskan, DIA hanya bisa dialami oleh pengalaman rasa. Serupa mengalami Keheningan dan Kegelapan yang langsung kita saksikan begitu kita menutup mata. Suatu bentuk pengalaman yang hanya bisa dialami oleh diri kita sendiri.
Itulah Sang Hyang Embang paling dekat yang bisa kita alami. Sungguh, DIA jauh lebih dekat dari urat leher kita sendiri
Itulah tempat pulang sejati kita. Yaitu pulang kedalam diri kita sendiri.