AES 019 Nasi Kucing
leoamurist
Wednesday October 13 2021, 8:30 PM

Di warung nasi simpang tiga. Tiap sore seringnya ada sisa nasi tak terjual, daripada dibuang percuma kasih kucing aja. Kucing kan ga makan nasi, ini sih kebuang percuma secara gak langsung.

Gak mengapa katanya, toh tidak kehilangan apa-apa. Karena memang dari berkelebihan saja pemberian itu. Nol. Yang penting niatnya baik.

NO! Kalau yang seperti ini, bukan kebaikan. Ini EGO. Kebaikan itu plus satu, selalu memberikan timbal balik membuat yang memberi malahan menerima lebih. Itulah pemberian, itulah kebaikan. Kalau nol, ego yang mendesak ingin terpuaskan saja.

Oke, kalau gitu memberi dengan ketulusan deh. Memberi dari kekurangan, bahkan sampai memberikan dirinya demi orang lain. Ini beneran kebaikan kan. NO! Kalau yang seperti ini, bukan kebaikan. Ini sih bEGO.

Jadi, gimana kalau semuanya disalahin gini? Gak mau bahas persepsi disalahinnya ya, kita bahas gimananyaaja. Jadi, kebaikan butuh kecerdasan. Gak perlu wah luar biasa, justru kecerdasan sederhana.

Kelebihan nasi itu, jadiin nasi goreng. Panggil dua orang yang lagi duduk-duduk tuh. Mereka gak sempat kena jangkauan pendidikan dan tumbuh di kerasnya jalanan. Ajarin cara masak nasi goreng. Buka lapak, sewain ke mereka. Bayarannya, gampang! Minta mereka olahin kelebihan nasi jadi jualan mereka.

Bahan utama gratis nih dari kelebihan nasi, mereka berdua jadi ada kerjaan dan pemasukan. Warung nasi ini jadi punya cabang usaha, nasi goreng. Pemasukannya ya setoran lah, dua puluh persen keuntungan misalnya. Atau sepuluh persen omset tiap malam. Coba cek, ini plus satu kan. Ini lah kebaikan. Yang memberi nasi. justru menerima royalti dan terutama bertambah dua saudara seperjuangan hidup.