Ingin sedikit membelokan kutipan jadi, "Jangan tanya apa yang bisa diberikan oleh negaramu, tanyakanlah kapan?"
Konteksnya ini adalah negara konoha. Atau negara api. Yaa.. bisa juga negara mini tempat kita ngucek-ngucek mata baca tulisan ini; rumah.
Seperti di tulisan sebelum-sebelumnya lupa juga yang mana, ketulis (bukan tertulis), "Tidak pernah ada waktu yang tepat, yang ada hanyalah tepat waktu." Bertanya kapan yang disebut barusan bisa jadi soal ketepatan waktu diri sendiri untuk menjadi mampu menerima apa yang selalu diberikan negara tempat berada saat ini.
Jadi bukan negara ini yang perlu tepat waktu memberikan sesuatunya, malahan kita yang perlu tepat waktu untuk menerima segala yang diberikan negara tempat berada saat ini. Kapan dong yang dibilang tepat waktu itu? Sekarang. Udah dua kali lho disebut 'negara tempat berada saat ini.'
Negara selalu memberi, setiap hari setiap menit setiap detik. Memang sih kita seringkali merasa tidak terima kalau apa yang diberikan tidak sesuai selera kita. Makanya, menerima itu butuh kemampuan kan. Yang perlu dimampukan dari diri sendiri adalah menerima ketidak sesuaian itu, sehingga nanti kalau ada pemberian yang sesuai selera kita pun jadi mampu menerima.
Mampu menerima bukan berarti tunduk juga, bisa koq menerima dengan cara keluar pergi meninggalkan negara tempat berada saat ini. Itu pun menerima, itu butuh kemampuan.
Mampu untuk menerima bukan pada waktu yang tepat, malahan mampu menerima tepat waktu. Kapan tepat waktu itu? Sekarang!
Sekarang, udah bisa nerima?
Kalau sudah bisa menerima, berarti sekarang sudah ada ketetapan pilihan kan. Lanjut atau cabut, karena tidak menetapkan pilihan bikin ngambang di antaranya. Hanya menghambat. Seperti batu bata di antara ban truk pengangkut batu bata. Bikin truk gak bisa jalan, keganjel soalnya.
Karena bata se-batu, rusak batu sebata-bata. Duh, modifikasi yang gak enak. Kembalikan ke aslinya aja lah. Karena nila setitik, rusak susu sebelanga.
Kalau menetapkan pilihan di mau lanjut, ada tips di tulisan besok pagi.