"Happy Thanksgiving, Mas! Masak opo?" Pesan salah seorang rekan kerja saya yang juga orang Indonesia.
Saya tersenyum sendiri, dan langsung mengetik di HP,"Sama-sama, Mbak. Ora masak, Mbak. Istirahat."
Kejadian seperti ini hampir terjadi setiap tahun. Bahkan di Indonesia. Perayaan Thanksgiving, somehow, dianggap merupakan perayaan keagamaan, dan dirayakan oleh orang-orang Nasrani. Salah! Hehehe... Mungkin karena biasa Thanksgiving merupakan tanda atau simbol dari awal dari semua kesibukan dalam menyambut perayaan hari Natal, sehingga dengan mudah orang-orang menyangka ini adalah serangkaian perayaan keagamaan. Thanksgiving sendiri setahu saya hanya dirayakan di beberapa negara, seperti Amerika dan Canada serta beberapa negara lain walau tanggal dan waktunya berbeda-beda. Thanksgiving adalah perayaan syukuran panen. Indonesia juga ada perayaan tradisional panen besar, di daerah pesisir malah ada perayaan yang menghanyutkan hasil bumi ke laut lalu kemudian mulai banyak dikaitkan dengan cerita-cerita mitos yang berhubungan dengan dewi Padi, nyai Roro Kidul dan sebagainya. Sah-sah saja, seru malah karena mitos, cerita, legenda adalah bumbu dari kehidupan! Kenapa tidak? Soal perayaan keagamaan atau tidak juga sah-sah saja dan saya tidak terlalu keukeuh dengan pendirian, toh saya bukan orang yang terlalu religius walau pernah sejenak jadi biarawan gagal hahahaha... Eniwei, kembali ke niat saya menulis.
Pagi ini, saya bangun agak siang. Kebetulan semua libur, termasuk Kano yang membuat saya dan Nina berjanji untuk tidak membangunkan dia. Artinya kemungkinan dia tidak tidur hingga subuh dan baru akan bangun siang hari. Saya membuat nasi goreng kampung. Itu permintaan Kano beberapa hari yang lalu. Selesai masak saya sarapan sambil menyaksikan Thanksgiving Parade di TV. Ini tradisi di Amerika yang dilakukan oleh salah satu supermarket besar di New York, di 34th street. Parade ini sebetulnya sangat komersial, seperti nonton iklan berjalan dengan kendaraan hias dan atraksi, sebagai tanda bahwa serangkaian kegiatan belanja untuk liburan akhir tahun dimulai! Ini betul-betul komersial! Tapi ya seru, jadi apa salahnya menyaksikan keramaian dan yang saya tunggu adalah melihat tahun ini Santa seperti apa, karena Sinterklaas selalu baru muncul di akhir parade yang berlangsung biasanya selama 3 jam ini. Parade ini juga sangat disukai anak-anak, karena banyak balon seperti snoopy, minion, dan sebagainya.
Hari ini masyarakat di sini merayakan Thanksgiving. Saya biasanya ikut-ikutan, untuk seru-seruan. Dulu waktu hidup di pulau, saya selalu dapat jatah kalkun dari tempat kerja dan selalu saya bagikan ke para mahasiswa Indonesia agar mereka dapat berpesta. Saya sendiri tidak melakukan apa-apa. Turkey itu burung yang sangat besar, beratnya bisa berkilo-kilo, saya tidak mampu menghabiskan bersama keluarga. Selama di Fort Collins saya memanggang turkey beberapa kali. Saya mengundang teman-teman Indonesia mampir ke rumah dan kami makan bersama. Turkey panggang tradisional, lalu tahun berikutnya saya membuat turkey gaya Korea dengan stuffing gaya Jepang dengan beras ketan dan jamur shitake. Seharusnya menggunakan sosis Lap ciong, sosis manis yang dikeringkan. Tapi karena teman-teman saya tidak makan sosis seperti itu, saya tidak menggunakannya. Bayangkan saja stuffingnya itu seperti bacang! Enak bukan? hahahaha.. Lalu kalau Kalkun panggang tradisional biasanya ditemani dengan buncis panggang, kentang tumbuk, saos cranberry, gravy dan sebagainya. Gaya Korea yang saya sajikan menggunakan kimchi, tumis toge dengan minyak wijen, tumis bayam, dan salad kentang. Bayangkan saja jika kita sedang makan Korean barbeque, nah itu pendampingnya.
Perayaan Thanksgiving adalah bentuk dari sebuah tradisi, dan makanannya juga sesuai dengan tradisi. Katanya jaman dulu ketika para imigran Inggris di Plymouth daerah New England, mereka mengundang suku Indian asli Wampanoag dan berbagi makanan dalam merayakan hasil panen. Pada saat itu kalkun sangat banyak. Kejadian sekitar tahun 1600-an itu kemudian dijadikan tradisi lalu diresmikan oleh presiden untuk dijadikan hari raya nasional setiap tahun. Nah kalau di Amerika itu kalkun untuk perayaan besar, di Indonesia lontong, kari ayam, sambal goreng menjadi makanan istimewa. Kalkun sendiri buat saya pribadi merepotkan masaknya karena butuh lama untuk memanggang karena kalkun adalah unggas yang besar! Lebih repot lagi karena kalkun hanya dijual dalam keadaan beku, butuh waktu sangat lama untuk mencairkannya. Untuk menjajikan makan malam hari kamis, saya sudah harus memulai prosesnya sejak hari minggu! Memanggangnya pun bisa mencapai 6 hingga 8 jam! Tergantung dari besarnya unggas itu. Banyak sekali kesibukannya. Dan yang menarik lagi, sesudah makan malam banyak orang mengalami food coma! hahaha.. Food coma adalah istilah bagi mereka yang makan terlalu banyak lalu merasa mual, sakit atau kelelahan karena makan dan mengantuk hahahaha! Ya bayangkan saja makan kalkun dengan gravy dan stuffingnya (stuffing tradisional isinya potongan roti, celery dan lain-lain lalu dimasukan ke dalam rongga perut turkey dan dipanggang bersama burung itu) belum lagi dessert juga berlimpah, biasanya pie susu, pumpkin pie dan banyak lainnya. Menurut penelitian, rata-rata orang Amerika mengonsumsi sebesar 6300 kalori ketika makan malam di acara Thanksgiving. Bayangkan! Itu 3x lipat dari jatah makan sehat sepanjang hari, dan 6300 itu dikonsumsi dalam 1 kali makan. Yaitu makan malam! Jadi masuk akal kalau banyak orang mengalami food coma! Hahaha... Eniwei, terlepas dari terkena food coma atau tidak, ada satu hal yang bisa saya ambil hikmahnya dari perayaaan thanksgiving, yaitu adalah hari bersyukur, berterima kasih atas segala anugerah yang Tuhan berikan sepanjang tahun!
Foto crdit: tasteatlas.com