AES 200 Literasi Diri !
leoamurist
Tuesday March 15 2022, 9:53 PM
AES 200 Literasi Diri !

Mengetahui mengenai diri sendiri bukanlah literasi diri. Malahan yang begitu menghambat proses literasi diri. Apa yang luar biasa dari mengetahui yang diketahui oleh diri sendiri. Itu kan masih dalam biasanya, belum ke luar dari biasanya.

Literasi mula-mula adalah mengetahui kalau ada yang tidak diketahui oleh diri. Ada yang di luar dari biasanya. Sehingga tidak tahu berganti status menjadi belum tahu. Lanjutannya ya soal tindak lanjut, membuat pembenaran kah atau percobaan lah.

Literasi selanjutnya adalah menyadari kalau ada yang tidak diketahui mengenai yang tidak diketahui. Memang ini seringkali dimasukkan ke kategori tidak tahu, biar mudah. Di sini lah literasi terjadi, melihat batasan tipis berdampak tebal.

Literasi sesungguhnya adalah membangunkan kebijaksanaan dari kesadaran lewat pengetahuan. Mulai dari mengetahui yang diketahui kepada mengetahui ada yang tidak diketahui, hingga kepada menyadari ada ketidak tahuan yang tidak diketahui.

Sehingga, kita tidak menjadi seperti anak kecil yang tinggal dan besar dalam lingkungan gang sempit. Keluar dan berjalan-jalan di kompleks megah, masuk ke halaman rumah si entahlah dengan polosnya.

Juga, kita tidak menjadi seperti anak kecil yang tinggal dan besar dalam kompleks megah. Keluar dan bermain di lingkungan gang sempit, meletakan benda berharga di lantai teras depan karena merasa privasi berlaku di sini.

Kontekstualitas bukan soal mengetahui konteks kemudian menggunakannya untuk membuat pembenaran akan ketidak tahuan dan perbedaan kebiasaan dari kultur tumbuh ke kultur berkembang. Melainkan soal berubah menjadi.

Berubah menjadi bagian dari kultur tempatnya berada se-ka-rang, bukan memaksakan kultur dimana-mana juga gitu di lahan kalau begini mari begitu. Seperti carica dieng yang menjadi pepaya saja saat di bawa turun gunung dan ditanam di halaman depan atau teras samping gang.

Literasi diri dimulai dari mengetahui yang sudah diketahui. Maju kepada mengetahui ada yang tidak diketahui, kemudian mengetahuinya. Berhenti pada menyadari ada ketidak tahuan yang tidak diketahui.

Kemudian mulai lagi untuk menjadikan yang tidak diketahui itu suatu pengetahuan baru, tanpa usaha. Karena usaha hanyalah bentuk pertahanan menjaga kebiasaan lama, sedangkan literasi adalah soal membuang yang lama.

Agar yang baru dapat masuk mengisi ruang jeda, seperti dataran rendah yang dihampiri oleh air, efortless. Tidak seperti dataran tinggi yang menimba air menggunakan kerekan yang begitu effortful.

Lalu ada yang membuat pembetulan kalau sekarang ada pompa listrik jadi tidak sesusah itu koq. Yah, ini lebih kepada pembenaran daripada pembetulan. Pembenaran untuk tidak berubah posisi dari yang tinggi ke yang rendah.

Kalau literasi diri adalah soal perubahan dan perubahan adalah soal berubah (bukan mengubah), maka memang mengerikan. Karena kengerian itu bukanlah mendapatkan hal baru, justru adalah kehilangan hal (kebiasaan) lama.

You May Also Like