Kata Marcus Aurelius kalau gak salah, atau kata Seneca ya? Hmm... Jangan-jangan Cicero yang ngomong. Yah siapapun yang bilang deh, katanya bertahan hidup saja sudah merupakan keberanian. Karena dalam stoicism ada empat pilar utama. Wisdom. Temperance. Justice. Courage.
Menyederhanakan. Wisdom lahir dari melepaskan pengetahuan yang selama ini kita pegang. Temperance adalah ketenangan tumbuh ketika kita merelakan kehilangan pengetahuan dan mendapatkan kebijaksanaan tadi. Justice yaa... soal sikap dan tindakan, kebijaksanaan kan dihayati bukan dikhayali jadi gerakkan badan lah.
Nah, keberanian yang menjadi langkah penutup siklus ini. Siklus yak, jadi setelah dari keberanian ya kembali lagi ke kebijaksanaan dengan keluasan dan kedalaman yang exceed. Keberanian yang tadi katanya bentukanya bertahan hidup ini sebenarnya tricky. Bertahan bukan sekadar bertahan.
Bertahan yang sekadar bertahan adalah bertahan pada kebiasaan, tidak mau melepaskan kebiasaan lama dan memaksakannya di ruang baru. Bertahan yang sekadar bertahan adalah bertahan pada cara pikir hitungan-hitungan, tidak mampu naik ke ranah cara berpikir sistem (dengan kesebelas prinsipnya itu).
Bertahan yang sekadar bertahan adalah bertahan pada harga diri dan pengakuan akan benarnya tindakan, tidak mau menyederhanakan sikap yang berdasar pada integritas. Bertahan yang seperti itu semua sih lebih cenderung kepada stagnan. Stagnan bisa dikatakan sebagai tidak hidup.
Seperti stagnan pada hitung-hitungan padahal satu langkah ke depan adalah pengorbanan. Seperti stagnan pada harga diri padahal satu langkah ke depan adalah integritas. Seperti stagnan pada kebiasaan dan pengulangan padahal satu langkah ke depan adalah mengambil tanggung jawab lebih.
Stagnan bisa dikatakan sebagai tidak hidup. Jadi, bertahan hidup yang seperti itu bukanlah keberanian. Karena, tidak ada bertahan hidup bagaimana bisa ada keberanian. Jangankan sampai pada bertahan, hidup saja tidak. Bagaimana bisa bertahan hidup, kalau hidup saja tidak (stagnan).