Tanaman mestilah tumbuhan. Tumbuhan tidak selalu tanaman. Yang tumbuh tidak selalu ditanam. Yang ditanam tidak melulu tumbuh.
Bedanya tanaman dengan tumbuhan, hanya soal ruang. Samanya tanaman dengan tumbuhan, hanya soal harapan. Hmm… Ruang dan Harapan.
Kalau ada tumbuhan liar, kita suka gatal me-ruang-kannya. Dengan definisi, dengan ekspektasi, dengan potensi, dengan refleksi, sampai proyeksi. Menjadikannya tanaman.
Setelah jadi tanaman, kita sibuk menumbuhkannya untuk memenuhi ekspektasi. Dengan definisi, dengan ekspektasi, dengan potensi, dengan refleksi, sampai proyeksi.
Harapannya kelupaan. Hope isn’t expectation, is it? Bagaimana ya mengembalikan harapan pada harapan dan keinginan pada keinginan?
Mungkin melalui membedakan antara tanaman dengan tumbuhan. Antara menanam dengan menumbuhkan. Antara tertanam dengan bertumbuh.
Bukankah kesadaran hanyalah soal antara. Antara yang iya dengan yang bukan, adalah jeda yang bersebutan kesadaran.
Sadar yang aku dan bukan aku, untuk mencapai kesadaran akan kesatuan. Seperti menyadari tangan ketika menyentuh duri tumbuhan/tanaman mimosa pudica.