"Sometimes you will never know the value of a moment until it becomes a memory."
Entah siapa yang mengatakan itu. Ada yang bilang dr. Zeuss tapi banyak yang mengatakan anonymous alias tidak diketahui sumbernya. Tapi tak apa, saya suka kalimat di atas dan cocok sekali dengan obrolan saya dengan Nina tadi pagi ketika kami sedang ke pinggir kota untuk mengisi bensin dan mampir sebentar ke beberapa toko untuk belanja kebutuhan sehari-hari.
Saya tidak benar-benar ingat awal dari percakapan kami, tapi kemudian saya memberi contoh sebuah foto yang pernah saya lihat di suatu tempat. Seorang kakek dan nenek duduk di perahu gondola di sungai di Viena, Italia. Pemandangan yang sangat umum dilihat di sana, dengan seorang pendayung yang menggunakan pakaian hitam putih garis-garis. Nah yang menarik, kakek dan nenek itu tertidur.
"Jangan sampai kita seperti itu, pada saat ada kesempatan untuk berlibur tubuh kita sudah terlalu renta untuk bisa menikmati." Kata saya yang disambut Nina dengan senyuman.

Banyak contoh yang dapat kita lihat di masyarakat bagaimana hampir setiap orang tergesa-gesa. Jaman sekarang memang segala sesuatu menuntut kita untuk begitu. Lihat di jalan raya pada saat menjelang jam kerja bahkan pada saat bubarnya jam kantor. Masyarakat berjubel di jalan raya dan bergegas, bunyi klakson terdengar ramai dan tidak jarang bunyi caci maki karena tidak sabar. Syukur Alhamdulillah selama 7 tahun terakhir ini saya dapat kesempatan melepaskan diri dari keruwetan situasi itu. Saya bisa berjalan kaki setiap hari ke kantor sambil merenung atau melamun. Ini saat-saat yang menyenangkan yang selalu saya tunggu-tunggu setiap hari.
Kemarin dalam renungan yang saya tulis, saya mengajak diri sendiri (dan orang lain jika setuju) untuk berhenti sejenak, mengambil jarak dan slow down. Kita akan banyak kehilangan dan tidak mampu meraih serta menikmati the present, saat ini, sekarang, karena terlalu sibuk dan terfokus untuk mengejar kesia-siaan. Nah refleksi yang ke 3 ini masih terkait dengan hal itu.
Saya kemudian teringat akan film yang saya saksikan lebih dari 30 tahun yang lalu, Dead Poets Society. Mendiang aktor Robin William dalam film itu mengutip sebuah istilah yang sudah ada ribuan tahun yang lalu, Carpe Diem yang kemudian diterjemahkan menjadi seize the day, walau katanya ada semacam lost in translation di sana, tapi saya jauh lebih ingin menangkap pesannya. Atau jika menggunakan versi Robert Herrick, "Gather ye rose-buds while ye may" Raihlah hari ini, nikmati dan gunakan sebaik-baiknya ketika kita masih bisa, jangan disia-siakan!
Nah, karena kita terjebak dengan berbagai kesibukan, kita lupa bahwa banyak momen dalam hidup yang terlewatkan dan terabaikan begitu saja. Lalu pada akhirnya, seperti kutipan di awal tulisan ini kita baru sadar bahwa banyak momen berharga yang terlewat begitu saja. Kita baru sadar betapa berharganya masa-masa itu sesudah semuanya berlalu, menjadi memory, hanya kenangan.
Saya juga tidak mau terlambat "melakukan" sesuatu seperti cerita saya soal kakek dan nenek yang seharusnya menikmati liburan mereka naik perahu gondola di Vienna karena mereka sudah terlalu renta sehingga kondisi tubuh mereka sudah menurun dan tertidur di saat-saat yang sangat berharga. Banyak contoh yang bisa saya utarakan dari pengalaman. Ada setidak-tidaknya 2 rekan kerja di kantor sini yang memutuskan untuk pensiun dan mereka hanya mendapat kesempatan menikmati masa istirahatnya beberapa bulan saja lalu pergi menghadap yang Ilahi. Pertanyaan yang terus menghantui saya, untuk apa bekerja keras sepanjang masa lalu kehilangan momen penting yang berharga yang seharusnya menjadi buah dari kerja keras seumur hidup?
Kita tidak pernah tahu akan masa depan. Siapa yang mampu melihat kecuali yang menguasai semesta! Saya berada di sini, saat ini pun bukan merupakan sesuatu yang pernah saya duga dan saya ketahui di masa lalu. Nah kesempatan ini harus benar-benar dihargai, dinikmati dan disyukuri. Carpe diem! Seize the day! Pluck the day! Gather ye rose-buds while ye may! Sama seperti yang kemarin saya katakan juga, slow down and step back, atau seperti kata mbah kakungnya Kano: Ojo ngoyo, mengko sio sio! Karena kita tidak akan pernah tahu, we never know!
Foto credit: quora.com