Belum semua sudut kota Bandung saya jelajahi semenjak saya kembali. Bayak rasa enggan untuk keluar rumah mengingat kemacetan yang selalu harus dihadapi, hampir setiap waktu. Ini memang banyak menghambat proses adaptasi saya, tapi tak apa karena di rumah banyak sekali kepentingan domestik yang harus didahulukan.
Seperti saya katakan bahwa kehidupan kita sekarang begitu dikendalikan oleh teknologi, saya mau tidak mau harus dapat mengikuti arus. Bukan karena saya menyukainya, tapi semata-mata karena saya tidak punya banyak pilihan. Misalnya ingin pergi ke tempat lain, jika memilih taxi, maka harganya akan jauh lebih mahal dibandingkan misalnya dengan Grab. Jadi saya "terpaksa" mengunduh berbagai aplikasi demi menghemat biaya hidup. Nah hari ini saya berusaha menggunakan aplikasi untuk servis sepeda motor saya. Jika tidak mengikuti anjuran mereka dalam perawatan, maka garansinya bisa hangus. Mau tidak mau walaupun saya enggan, terpaksa mengunduh aplikasinya. Nah ini serunya, begitu sudah diunduh lalu mengisi infomrasi kendaraan yang saya miliki, muncul nama orang tidak dikenal dengan memiliki nomor mesin kendaraan yang sama. Loh kok bisa? Ya, itu salah satu kelemahan di Indonesia. Banyak aplikasi tapi data basenya tidak baik. Terpaksa saya menggunakan metoda kuno, yakni menelepon untuk membuat perjanjian untuk servis.
Pihak bengkel meminta saya melakukan booking lewat aplikasi, begitu saya sampaikan masalah yang sedang saya hadapi, akhirnya mereka meminta saya datang langsung ke bengkel. Jadi apa bedanya? Kepingin canggih tapi systemnya belum sempurna, ya begitu itu. Hanya membuang waktu dan sumberdaya, toh tetap harus lewat telepon dan datang ke lokasi seperti jaman dulu!
Saya lebih menyukai mengendarai motor daripada roda empat. Pertama karena banyak interaksi yang dapat saya rasakan, kedua jauh lebih cepat karena sedikit lebih baik dalam menghadapi kemacetan. Perjalanan begitu lancar karena sudah melewati jam pergi kantor, sehingga saya dapat menikmati perjalanan.
Saya masih belum paham seratus persen jalur-jalur baru. Untuk ke Gegerkalong Hilir apakah harus melewati jalan layang Pasopati atau tidak, saya tidak ingat, jadi saya mencoba lewat bawah yang akhirnya toh harus lewat jalan layang juga lalu lewat Sukajadi. Sekarang saya semakin paham. Perubahan arah jalan memang masih menjadi kendala saya, dulu jalan Cipaganti arahnya ke atas sekarang terbalik, jadi jika akan ke daerah UPI harus lewat Sukajadi, bukan jalan favorit saya karena banyak kemacetan di daerah sana.
Keindahan kota Bandung sudah sangat jauh berkurang dibandingkan jaman saya sekolah. Daerah Gedung Sate menurut saya sudah carut marut, semuanya tidak bersahabat karena penuh dengan pagar dan kepadatan lalu lintas. Taman-taman tidak lagi seindah dulu bahkan berkurang dengan drastis. Seingat saya dulu daerah seputar gedung Sate termasuk salah satu tempat yang Indah. Saya ingat ada sebuah rumah mungil dengan pintu berwarna hijau yang sangat saya sukai di jalan Wira Angun Angun, jalanannya asri penuh pepohonan dan indah. sekarang saya tidak melihatnya sebagai tempat yang menarik lagi. Dulu saya sering bersepeda mengelilingi daerah-daerah ini, seperti Cilaki, Cilamaya dan sebagainya. Sekarang saya mengindari daerah ini sebisa mungkin karena kepadatan dan keruwetan yang luar biasa.
Daerah sekitar rumah sakit Hasan Sasdikin juga dulu menjadi tempat yang sangat asri. Nama jalan dengan tema dokter-dokter sering jadi tempat saya mengayuh sepeda karena sangat teduh, sepi dan menarik. Saya sangat mengagumi rumah-rumah kuno yang cantik dan asri dengan halaman yang penuh bunga dan kebun yang indah. Sekarang jalan utamanya saja sudah berhias tiang beton raksasa untuk jalan layang, belum lagi kendaraan begitu banyak dan macet karena banyak pengendara yang melanggar aturan lalu lintas. Ya, kebanyakan titik macet karena ulah masyarakat yang hanya mementingkan diri sendiri. Tidak kenal "gantian" tidak kenal courtesy. Karakter masyarakat yang masih dibawah rata-rata.
Saya mungkin banyak menjengkelkan orang lain karena banyak mengalah dan memberi kesempatan bergantian. Orang-orang di belakang saya banyak yang membunyikan klakson. Saya tetap ingin menjadi seseorang dengan kualitas baik yang saya yakini. Kalau orang lain bermasalah dengan cara saya, maka itu adalah masalah mereka sendiri. Mengalahpun tidak mengurangi jam tempuh saya ketika tiba di tujuan. Orang yang saya beri jalan tetap berada di depan saya, dan jika saya mengorbankan 2 atau 3 detik, akhirnya akan tiba di perempatan pada saat yang bersamaan dengan orang yang saya beri kesempatan lebih dahulu maupun yang di belakang saya. Tidak ada bedanya karena memang jalanan sangat padat dan perempatan sangat banyak. Satu hal yang membedakan adalah: "I feel good" dan saya dapat menjadi diri sendiri dan tidak berubah seperti mereka yang serabutan dan tidak tahu aturan.
Perjalanan pulang jauh lebih menyenangkan. Saya memilih jalan Cipaganti. Aneh rasanya yang dahulu biasa digunakan untuk naik, sekarang saya pergunakan untuk turun. Cipaganti lebih menarik daripada Cihampelas yang penuh dengan pilar karena ada entah apa di atas jalan Cihampelas itu. Disain jalan yang aneh karena setahu saya di atas tidak digunakan untuk lalulintas. Mungkin saja saya salah. Cipaganti masih termasuk asri dan kebetulan sangat lengang dibandingkan jalan-jalan lain sehingga saya menikmati sekali jalan itu.
Sesudah cipaganti saya masuk lagi ke lalu lintas padat dan tidak banyak yang bisa saya nikmati kecuali konsentrasi dengan banyak pengguna jalan yang serabutan. Saya memilih jalan-jalan lebih kecil dan mampir ke tukang gorengan langganan saya dahulu sejak jaman sekolah. Lalu berusaha segera tiba di rumah agar dapat minum teh panas atau kopi dengan pisang goreng dan tahu isi. Sepertinya ini sepadan dengan pejuangan saya servis motor yang tempatnya lumayan jauh..
Foto credit: adbang.bandung.go.id