Sejak dua hari yang lalu ada masalah dengan kendaraan saya. Sensor aki menyala dan itu berarti tidak ada cukup listrik yang dihasilkan oleh aki tersebut. Aki itu padahal baru saya ganti beberapa bulan yang lalu, dan di sini aki umurnya bisa mencapai 5 hingga 6 tahun walau jika menggunakan yang lebih murah maka bisa bertahan selama 3 atau 4 tahun. Memperhatikan hal ini, saya mulai khawatir ada masalah yang lebih serius.
Hari Senin kemarin saya meminta tolong teman kantor untuk membantu melihat. Dia bilang ada beberapa kemungkinan, sambungan kabel ke aki tidak baik, sambungan kabel ke aki longgar atau yang paling parah adalah alternatornya harus diganti. Yang terakhir ini yang saya takuti karena akan memakan biaya yang sangat mahal.
Siangnya saya mulai mencari-cari bengkel. Nina juga membantu karena kebetulan saya sangat sibuk di tempat kerja. Akhirnya menemukan beberapa bengkel yang bisa mengerjakan. Yang lebih murah harus menunggu hingga minggu depan. Yang bisa mengerjakan segera sekitar $250 lebih mahal. Saya memutuskan membuat appoinment dengan yang terakhir karena saya tidak yakin aki dapat bertahan lebih lama lagi tanpa di-charged! Teman saya berjanji akan membawa charger untuk aki hari Selasa. Rencananya begitu saya parkir, aki dilepas lalu dibawa ke kantor dan dicharge selama saya bekerja.
Selasa pagi seperti hari Senin, sangat dingin. Tapi saya lebih mementingkan Kano dan Nina, sehingga saya memutuskan berjalan kaki ke kantor. Saya sudah bersiap dengan beberapa lapis pakaian. Suhu -24C itu sangat tidak menyenangkan. Tapi itu yang saya pilih karena tidak mau mobil mogok lalu Kano dan Nina harus jalan kaki ke kampus.
Berjalan dalam suhu sangat dingin seperti itu sangat tidak menyenangkan. Sarung tangan yang saya kenakan tidak terlalu banyak membantu, sehingga sambil berjalan saya memasukkan tangan saya ke dalam kantung jaket. Tubuh saya cukup hangat, sesekali ketika jalan sangat bersih saya berjalan lebih cepat bahkan berlari sehingga kehangatan tubuh terjaga. Telinga saya tutup dengan topi kupluk dari bahan wool sehingga cukup hangat, tapi wajah saya rasanya seperti ditusuk-tusuk ribuan jarum. Semakin lama wajah saya semakin sakit, pipi dan mulut saya mulai menjadi kaku dan sulit digerakkan. Rasa sakitnya semakin lama semakin tidak tertahankan. Saya mempercepat jalan dan sering berlari karena rasa sakitnya tidak tertahankan.
Tiba di tempat kerja langsung saya bekerja dengan cepat. Saya harus menyelesaikan pekerjaan saya sebelum Nina menyerahkan kendaraan agar siang nanti bisa saya bawa ke bengkel. Untungnya pekerjaan selesai lebih cepat lalu saya bersiap-siap karena tiba-tiba telepon berbunyi. Nina memberitahu bahwa mobil mogok, persis seperti yang saya khawatirkan. Saya sangat khawatir jika harus menggunakan mobil derek karena itu artinya harus mengeluarkan biaya lagi. Saya bergegas dan untungnya kendaraan sudah ada di tepi jalan sehingga tidak mengganggu lalulintas. Sesudah dibiarkan sejenak, kendaraan bisa dihidupkan lagi dan langsung dibawa ke tempat parkir. Nina terpaksa melanjutkan perjalanan ke kantor berjalan kaki, untungnya hanya beberapa ratus meter lagi saja jauhnya. Aki saya keluarkan dan saya bawa ke kantor. Disana teman saya sudah siap dengan charger.
Sepanjang pagi saya terus memikirkan bagaimana jika nanti kendaraan saya mogok lagi di jalan menuju bengkel yang jaraknya lumayan jauh. Untungnya pekerjaan saya sebagian besar sudah selesai, sehingga walau terus menerus khawatir pekerjaan tidak terganggu. Terus terang, saya khawatir karena biaya mengganti alternator sudah sangat mahal, saya tidak mau harus bayar mobil derek. Sekali kali saya menoleh ke arah charger, lampunya masih merah, artinya aki saya belum penuh. Hingga menjelang pukul 11 masih merah juga, akhirnya switchnya saya pindah ke medium karena berharap nge-charge bisa lebih cepat. Masih ada sekitar 1 jam 30 menit sebelum saya harus kembali memasang aki ke mobil lalu mengendarainya menuju bengkel.
Saya pernah cerita tentang pengalaman mengerikan ketika mengunjungi Death valley perbatasan antara Nevada dan California tahun 2018: Petrifying Adventure. Ketika itu Nina, Kano dan saya mengemudi di lembah kematian yang amat sangat luas yang berada di antah berantah dikelilingi padang pasir dan padang garam. Tempat yang menyeramkan karena di sana konon banyak orang meninggal karena medan yg gersang dan jauh dari mana-mana. Kami waktu itu hampir kehabisan bensin, dan sempat tersesat higga akhirnya menemukan sebuah hotel yang sangat seram seperti di film horor dan twilight zone. Tempat itu katanya berhantu! Kami sangat ketakutan terdampar di tengah padang pasir karena bensin sangat kering. Nah perasaan ngeri itu tadi siang saya alami lagi.
Ketika meninggalkan tempat parkir dada saya berdebar-debar. Memang tidak semengerikan seperti di Death Valley karena di sini ramai dan paling sial ya telepon mobil derek kalau aki mati lalu kendaraan mogok. Waktu di Death Valley kami ngeri karena tidak ada siapa-siapa, hanya kami bertiga. untungnya di belakang kami ada sebuah truk besar, dan itu memberikan semacam harapan bahwa jika terjadi sesuatu kami bisa minta tolong. Waktu itu Kano terus menerus berkata,"We are gonna die!" Nina juga terlihat begitu ketakutan. Nah hari ini saya mengalami ketegangan yang sama. Dada saya terus berdebar-debar takut mobil mogok. Saya tidak yakin apakah sekitar 4 jam itu cukup untuk menyetrum aki. Perjalanan rasanya begitu lama dan tidak sampai-sampai. Saya tidak tahu berapa kilometer jarak yang harus saya tempuh. Setiap terjebak lampu merah saya terus berdoa semoga mobil tidak mati dan berharap segera berubah menjadi hijau. Begitu hijau langsung saya melaju agak cepat karena ingin segera tiba di tempat.
Siang tadi, 10 menit rasanya seperti berabad-abad karena kekhawatiran yang terlalu mencekam. Saya baru merasa lega ketika sudah mulai mendekati lokasi dan lampu sensor tidak ada yang hidup kecuali sensor aki. Nina tadi pagi bilang semua lampu sensor menyala ketika kendaraan akan mogok. Saya belum pernah ke bengkel itu, jadi harus mengemudi perlahan-lahan hingga sebuah gedung yang lumayan besar dengan nama bengkel yang juga besar tampak dari kejauhan. Saya menghela napas lega. Kekhawatiran saya berakhir sudah. Dada yang berdebar-debar semacam itu jarang saya rasakan, dan saya berharap tidak akan pernah lagi merasa khawatir seperti itu karena sama sekali tidak menyenangkan walaupun sesudah semuanya berakhir saya merasa itu seru juga. Tapi jika saya boleh memilih, lebih baik saya tidak mengalami itu lagi hahaha.
Jadi masalahnya dimana Joe? alternator / kabel / ECU kah? Semoga segera beres..
Alterlator 😭. Sarebu euy... ceurik! 2.5 nunggu baru beres.
Mirip2 sama di sini harganya...memang mhala kalau udah alternator.....