AES 093 Relasi dengan
leoamurist
Saturday August 28 2021, 9:15 AM
AES 093 Relasi dengan

Satu orang menghilang dari kumpulan yang bersepakat di awal perjalanan. Ia mengambil jalan sampingan yang selama ini lebih diprioritaskan. Memang karena masih bergantung dalam kehidupan dan ketergantungan ilusi kebebasan, jadinya melakukan yang tidak diinginkan berbarengan dengan perlawanan. Semacam masuk kuliah agar bisa bolos, semacam berjanji agar bisa melanggarnya. Kalau ga ada lampu merah menyala, apa yang diterobos? Oh ada, palang pintu kereta api.

Satu orang menghilang dari kumpulan yang katanya terlalu mengekang dan butuh kebebasan. Memang begitu, tidak ada yang perlu dipermasalahkan. Kalau tidak ada kekangan, bagaimana bisa mengupayakan kebebasan. Kekangan pertama malahan kebebasan itu sendiri, semacam akan kehilangan uang jajan kalau tidak mau dibayarkan uang semesteran. Dengan kata lain, kuliah jadi syarat untuk mendapatkan uang jajan. Kemudian kuliah jadi hal yang bisa dilanggar untuk mendapatkan kebebasan, menggunakan jatah uang jajan.

Kalau kata hukum cara berpikir sistem yang ke sebelas sih, there is no blame. Ya emang begitu. Tidak perlu persoalan ini diobsesikan sampai mengganti labelnya jadi permasalahan untuk mencari kesalahan dan menemukan yang dipersalahkan. Justru, persoalan ini perlu direspon dengan menemukan apa sih relasi antara situasi nyata dengan tendensi menyalahkan. Bagaimana sih relasi antara kondisi nyata dengan kecenderungan menyalahkan pihak tertentu. Penemuan relasi dengan ini pun hanya untuk mengatur buffer size. Mudahnya, kalau ada apa-apa konsekuensinya masih tertangani dan tidak terlalu fatal.

Karena ya emang begini dan selalu begitu. Coba cek, bukankah persoalan jadi permasalahan karena temporal mindset. Udah dibayarin kuliah masih bolos, udah dibantuin masih kabur, udah blablabla masih blebleble. Temporer sekali kan cara pandang ini. Kalau mau coba diperluas, memandang dengan cara pandang infinite game. Coba lihat permainan yang dilakukannya, oh.. dia lagi bermain seperti yang dituliskan di paragraf kedua di atas (coba baca lagi). Karena ternyata dari kecil terbiasa begitu, lingkungan bergaul dan teman-teman yang dianggapnya prioritas pun begitu, bahkan secara tidak sadar orientasinya pun begitu.

Maka, lepaskan dan biarkan saja dia melanjutkan dan menjalani demikian. Bukankah kita hanya bisa melakukan hal yang kita ketahui saja. Alih-alih mencoba mengubah arahnya dengan menabrakkan pengetahuan baru yang kemungkinan besar tidak mampu diserapnya, lebih baik menciptakan sistem dengan adjustable buffer size. Gimana caranya dampak dari tindakan kelakukan satu orang itu, tidak berpengaruh banyak kepada kumpulan bersepakat (komunitas) ini. Banyak caranya dan sederhana ya ternyata. Mudah pula! Iyalah, karena mengendalikan yang bisa dikendalikan di sini. Yang susah kan berusaha mengendalikan yang di sana padahal kita ada di sini.