Semakin banyak penjelasan, semakin banyak kesalah pahaman. Semakin detil penggambaran, semakin bias gambarannya. Semakin fokus, semakin berantakan. Semakin benar, semakin salah.
Kalau semua yang dikatakan itu benar, maka benarlah yang dikatakan itu bukan semuanya. Yang dikatakan kan yang belum selesai di pemikiran. Yang dilakukan pun yang belum selesai di pemahaman.
Kalau semuanya sudah sesuai, pikiran perkataan perbuatan. Kalau semuanya sudah penuh, pemikiran pemahaman penyerahan. Tidak akan ada lagi pergerakan, tinggal diam tenang damai bahagia.
Seperti pohon, yang kaya dari tiada dan berpetualang dalam diam. Seperti batu yang enggan beranjak dihantam air terjun. Bisa jadi batu itu telah penuh sehingga ia diam dan menerima, transformasinya effortless.
Kalau gitu air masih mencari kepenuhan dan kesatuan dengan dirinya? Soalnya masih bergerak-gerak, terjun-terjunan, nabrak batu pula. Tidak mampu mengendalikan dirinya sendiri.
Eh, atau bisa jadi air itu sudah diam. Karena ia tidak mengendalikan dirinya sendiri, effortless. Justru ia dikendalikan oleh persepsi manusia. Kita. Yang melihatnya kemudian memberikannya predikat, terjun.
Padahal bisa saja air itu yang sejatinya diam dan malahan batu itu yang bergerak. Batu itulah yang memanjat dan menabrak air yang sudah diam tenang tak bergerak, sampai jadi berantakan terciprat-ciprat.
Dan kita tidak terlalu memusingkan hal itu, karena ada hal lain yang lebih penting dan mendesak. Pose badan dan sudut pengambilan foto untuk jadi konten postingan instagram atau tiktok.