Lihat berita pagi nemu pembahasan opini Okky Madasari. Sekilas tahu kalau dia adalah penulis.
Pesannya jelas (untuk saya) arahnya kemana.
Respon dari warganet terhadap pesan yang disampaikannya juga wajar (menurut saya) .
Pesannya, bahwa pihak berwenang / berkuasa / bos / penjaga alur / pembimbing / pendamping / apapun lah yang tugasnya mendukung pembelajaran & pendewasaan karakter warga, perlu bertindak bijaksana sekaligus bijaksini.
Bukan jago berpikir bijaksana saja atau jago retorika bijaksini saja.
Respon wajar warga jamak adalah mempersoalkan narasi dan diksi.
Selalu.
Penggunaan kata "Norak" jadi persoalan. "Ekspresi" dan "Penghinaan" jadi bahasan.
Seakan kritikus narasi dan ahli kritisi diksi.
Gak semuanya sih, kebanyakan aja. Jamak.
Jadinya lanjut deh lihat akun instagram yang bagian publikasi pendapatnya itu, dan lama di baca-baca kolom komentar.
Iya, wajar.
Ada yang ngerti pesan, memaklumi cara & media penyampai pesannya.
Ada yang abaikan pesan, malah fokus ke cara & media pesannya. Maksud saya media pesan tuh, struktur narasi dan diksi.
(gaktau deh narasi & diksi yang saya pakai ini tepat atau enggak, soalnya saya bukan ahli bahasa, bukan juga polisi diksi atau penjaga gramatika, hehe..)
Niatnya baca banyak berita, jadinya hanya berhenti di satu berita ini.
Ramai soalnya, membaca kolom komentar sudah seperti berada di tengah keramaian dalam ruangan sempit omongan kemana-mana tak putus napas dengan nada suara frekuensi tinggi & tempo cepat. Sesak (kayak baca kalimat ini kan).
Yaudah berhenti, cukup konsumsi berita pagi. Seduh teh, lah yuk! Kopinya lagi abis stok.