Belakangan ini lagi teringat konsep ikigai. Intinya, kita perlu menemukan apa sih alasan kita untuk hidup.
Metode yang dipakai semacam kategorisasi empat hal. Yaitu hal apa yang disukai, keterampilan apa yang dikuasai, kontribusi apa yang bermanfaat, dan apa yang dibutuhkan oleh dunia.
Dua dari beberapa cara untuk merangkai kategori tadi, yang pertama adalah isi saja sebanyak-banyaknya untuk masing-masing kategori, nanti akan menemukan hal yang sama. Itu deh ikigainya.
Kedua, hanya isi satu hal saja untuk masing-masing kategori. Nanti irisan setiap kategori akan membawa kepada penemuan keterhubungan, yang perlu dirangkai jadi satu alur. Nah, inilah yang akan kita pakai untuk menemukan ikigainya apa.
Kita bisa untuk memetakan ikigai ini berkali-kali, tidak hanya sekali lalu terpaku pada ketetapan itu seumur hidup. Dinamis koq, seperti hidup kan. Ini pun yang saya lakukan beberapa minggu belakangan ini. Di tahun lalu, ikigai saya lebih ke arah membuat inovasi yang mempermudah banyak orang dalam berkarya.
Bulan ini, lebih tepatnya dua minggu ini, saya malah menemukan kalau ikigai saya lebih kepada menjadi bagian dalam dinamika reguler kehidupan komunitas. Bukan hal baru karena dulu pun saya berminat pada paham munisipalisme bersamaan dengan mengikuti paham anarkisme-individual yang lebih ke arah asketisme. Dua ‘isme’ yang seakan kontradiktif padahal enggak koq.
Dari dua kali membuat ikigai itu, sebenarnya selalu ada irisan antara meningkatkan kualitas individu dengan peningkatan kualitas lingkungan. Jadi teringat kepada pernyataan yang dulu saya pegang sebagai orientasi, “bukti bahwa diri berkembang adalah lingkungan tempat berada pun berkembang.”
Sekarang jadinya kepikirannya nih, "gimana cara ya?"