Panas pengap gerah cuaca mau hujan. Kalau mau hujan, malah panas duluan. Kalau panas, anginnya dingin menusuk kalbu. halah..
Jalanan padat, saling susul dan saling senggol tanpa lihat spion. Gak hanya penunggang sepeda motor, sepertinya pengendara mobil juga begitu. Memang beda daerah beda perilaku berkendara ya.
Perlu membiasakan diri, biar gak kebanyakan mengumpat di jalanan melemparkan ketidak sukaan. Di jalan koq malah ngasih materi perkuliahan tentang ketertiban ya, padahal survive dulu saja kalau sudah berjibaku di lapangan.
Tidak tahan, akhirnya berhenti di warung eskrim yang lagi ngehits. Pesan, bayar, ambil, duduk, nikmati. Memang di saat situasi panas tidak mengenakkan, makan eskrim jadi sangat menyenangkan.
Jreng jreng, ilham pun datang menghampiri. Katanya demikian.
Kalau membenci sesuatu berarti mengagumi kebalikannya, bisa jadi membenci pelanggaran berarti mengagumi pengendalian.
Membenci ketertindasan berarti mengagumi kekuasaan.
Membenci kemelaratan berarti mengagumi kemewahan.
Yang dapat diperluas sampai, mengagungkan kesederhanaan bisa jadi menghindari ketidak mampuan melebihkan.
Mengagungkan kesendirian bisa jadi menghindari ketidak mampuan kebersamaan.
Mengagungkan kembali pada bisa jadi ketidak mampuan menuju kepada.
Sehingga, menyembuhkan kebencian jadi percuma tanpa meredakan kekaguman.
Meredakan pengagungan pun sia-sia tanpa menerima penyangkalan.
Sepaket, sekaligus bukan sekalian.
Agar berbuah, baiklah tanpa kecenderungan.
Ini pun kecenderungan.
Eskrim habis. Oke saatnya menelan pemikiran barusan, kembali berjibaku senggol-senggolan di jalanan padat jalur perkotaan. Gas.