Lagi baca buku, Imajinasi Sebagai Pendamping Pendidikan, sambil ngopi. Ada bagian yang mengena, sampai membuat berhenti membaca. Kopinya gak setop, tetep diseruput.
Pas bagian cerita Paulo Coelho tentang kedamaian. Singkatnya, yang merepresentasikan rasa damai adalah senyum anak burung yang mendapatkan makanan dari induknya. Terlepas situasi sekitarnya yang mencekam.
Jadi keinget master Oogway pas bilang ke Po, inner peace sambil mempraktikan kungfu tingkat tinggi. Jadi, mengena karena narasinya senada dengan salah satu sin film kungfu panda? Gak lah, yang bikin mengena adalah rasanya.
Seperti mengenal rasa yang disampaikan narasi itu. Rasanya mirip-mirip dengan kutipan let thyself get into the storm but don't let the storm get into thee. Rasa ketika bisa merawat kedamaian diri di saat lingkungan mencekam. Rasa damai yang terkelola ketika situasi berantakan dan riuh tergesa-gesa.
Mengenal, karena pernah mencapai rasa itu. Dulu sih, sekarang malah jadi bagian dari keriuhan ketergesaan. Mungkin ini pengingatan untuk mencapai kembali dengan cara bukan kembali (balik ke dulu lagi), justru dengan langkah melampaui.
Jadi keinget kata beberapa praktisi spiritual. Before enlightment i feel depressed, after enlightment i still feel depressed. Yet i realize that i am not my depression.
Kalau kutipan tulisan pribadi jaman dulu yang pernah bahas ini, kalau ga salah inget, tulisannya begini.
Dasein dan das Man ketemu di mini market, keduanya sama-sama belanja, keduanya sama-sama berada di sana. Bedanya, satu meng-ada dan yang satu lagi mengada-adakan.
Wah buku ini belum baca nih... Nuhun ka Leo