Tepat empat belas hari dari terakhir aku menulis, terlalu banyak cerita yang terangkum di setiap hari yang terlalui. Mengawali awal bulan baru baik dalam penanggalan hijriah maupun masehi. Ada hal-hal yang berubah meski terlihat sama, seperti celoteh anakku saat makan malam tentang perasaan rindu membuat ketupat bersama sang kakek. Tradisi dan ritualnya memang tetap sama dalam menyambut hari raya, hanya mungkin bentuk rasa kami-lah yang berubah, bercampur padu dengan segala kebersyukuran. Apalagi di tahun ini mulai ada kelonggaran untuk kembali bertegur sapa secara langsung. Tentu momen itu juga menjadi satu kesempatan untuk mengantar ibuku yang juga rindu bertemu sanak famili.
Teringat sebuah nasihat untuk tetap menjaga silaturahim dengan mereka yang amat dikasihi oleh bapakku rahimahullah. Nasihat yang sudah pasti selalu diselipkan oleh para sesepuh terdahulu, 'Kade, ka dulur teh ulah nepi ka pareumeun obor.' Makna mendalam untuk sebuah keharusan agar jangan sampai kehilangan arah atau kehilangan ilmu yang diturunkan secara turun temurun dari satu generasi ke generasi. Jika nyala obor ini ibarat ilmu, di estafetkan ke anak- cucu untuk membentuk peradaban, mampukah kita menjaga nyala obor yang telah digenggam oleh para leluhur untuk tetap dilanjutkan di masa kini dan nanti? Rasanya kalau tidak mengenal diri dan sejarah mana mungkin kita bisa mengetahui amanah yang tepat untuk kita kerjakan?
Mengenal diri, mengenal leluhur, memaknai setiap liku perjuangan yang telah dilakukan hakikatnya membangun kesadaran berterima kasih, kebersyukuran juga keinginan untuk terus melanjutkan apa yang dicontohkan. Bukankah kita sebagai manusia memiliki tugas untuk memberi manfaat sebanyak-banyaknya? Karena kita terikat dalam lingkar habluminallah dan habluminannas, yang semuanya diatur dalam ketetapan-Nya.
Aku yang dulu cuma manggut-manggut saat diberi nasihat untuk terus menjaga silaturahim ini, baru merasakan pentingnya nasihat tersebut setelah kehilangan satu persatu para sesepuh. Dan tentunya saat melihat foto yang dikirim oleh salah satu sepupu, alamak! Dua tahun dalam pandemi, banyak sekali hal yang terlewat. Muka keponakan sudah berubah semua, belum lagi bertambahnya anggota keluarga baru. Setiap bertemu, pasti ada momen ngahuleung sebelum akhirnya saling melempar kabar dan tertawa sampai bercucur air mata.
Wah kebayang serunya lebaran Bubuy dan keluarga. 🙏