Kesadaran pertama adalah bahwa semakin kuat saya mendorong sistem, semakin kuat juga dorongan balik dari sistem. Sistem di sini adalah kebiasaan terstruktur, ingatlah bahwa sistem tanpa struktur hanyalah bayang-bayang kenyataan. Dan struktur terkuat adalah kebiasaan, bahkan yang dibilang pola itu hanyalah kebiasaan yang relatif sudah dapat dipastikan keterjadiannya. Seperti, yang di atas adalah yang selalu penuh dengan bahan dan gagasan tetapi minim bahkan tidak membantu dan menggagas. Seperti, yang di samping adalah yang selalu membandingkan tetapi tidak mampu mengurutkan. Juga seperti, yang di tengah tidak lain seperti yang di atas dan yang di bawah tidak lain seperti yang di samping.
Kemenyadaran yang perlu dilakukan atas kesadaran pertama ini adalah kontekstualisasi paradigma. Menempatkan cara pandang saya terhadap dunia, lingkungan tempat saya berada, orang-orang di sekitar saya sekarang ini, pada kerangka yang paling tepat. Paling tepat adalah yang paling dikuasai. Kekuasaan perlu selalu digunakan semaksimal mungkin untuk memperluas penguasaan, dan satu-satunya penyalah gunaan kekuasaan adalah dengan tidak menggunakannya. Kerangka yang yang paling tepat seperti tulisan ini sepenuhnya, adalah kerangka yang menggaris batasi mana yang dalam kekuasaan dan penguasaan dan kemana pendalaman dan perluasannya.
Perangkat kemenyadaran menggunakan kesadaran ini adalah kerangka yang menggaris batasi kepentingan pribadi dan kepentingan orang lain. Nama garis ini adalah kepentingan bersama. Pada garis inilah darma dan guna diaktualisasi, bukan pada area yang dibatasi garis ini malahan. Karena area dalam garis ini adalah keniscayaan alias fakta, area di luar garis ini adalah ketidak tahuan alias wacana, dan area tipis seluas garis ini adalah realita yang mengandung tiga hukum utama. Posibilitas, probabilitas, dan kausalitas. Ketenangan adalah ukuran kekuasaan, sebesar apa kekuasaan yang saya miliki setenang itulah saya hadir dalam kenyataan. Kualitas kehadiran ini yang jadi ukuran penguasaan, kepentingan bersama.