AES 555 Assumption?
joefelus
Tuesday November 29 2022, 7:53 AM
AES 555 Assumption?

Saya pernah menulis tentang asumsi, mungkin tahun lalu ketika awal-awal saya mulai bergabung dengan Atomic Essay Smipa. Pada intinya mungkin agak mirip tapi saya masih ingin mengulas ini sekali lagi. Mudah-mudahan lebih menarik.

Tadi pagi saya mengantar Kano ke tempat kerja ketika matahari belum naik. Masih gelap dan sangat dingin. Saya sudah memanaskan mobil agar didalam kendaraan cukup hangat dan nyaman, terutama tempat duduk. Saya pernah cerita bahwa sama sekali tidak enak duduk di dalam mobil ketika suhu di bawah angka nol derajat, ketika kita bernapas di dalam mobil mengeluarkan asap. Untung tidak mengeluarkan api, karena salah-salah dianggap Norwegian Dragon ala Harry Potter hahaha... Jadi saya pergi ke kendaraan lebih dahulu, menyalakan seat heater dan pemanas di dalam mobil sambil mengerok kaca depan, belakang dan samping yang dilapisi es. Saya juga menyalakan pemanas kaca mobil agar cepat meleleh. Bahaya sekali mengemudi dalam gelap sementara pandangan tidak jelas karena kaca buram!

Kano menyusul kemudian sambil membawa tumbler dan pisang. Saya agak heran kenapa dia membawa tumbler untuk kopi karena dia tidak minum kopi. Saya tahu ibunya membuat coklat panas tadi pagi, tapi ditaruh di gelas bekas Starbucks. Tapi saya tidak mau berasumsi, siapa tahu saya salah. Jadi saya diam saja. Ketika kami dalam perjalanan dan kano selesai makan pisang, dia mengangkat tempat minum dan menyeruput coklat panas.

"It's bitter!" Kata Kano.

"It must be coffee, then. Mom made hot chocolate and put it in a cup." Kata saya.

"I asked her if it is hot chocolate, and she said yes." Kata Kano.

"I guess you guys didn't communicate well." Kata saya

"I guess so, but how am I supposed to know that the hot chocolate was in a coffee cup? It's a Starbucks cup and it's for coffee so I assumed that it was in the tumbler. Well, at least when I got home from work I will have hot chocolate." Kata Kano kalem.

Sepertinya memang komunikasi tidak berjalan lancar tadi pagi karena Nina masih mengantuk dan Kano terburu-buru untuk berangkat kerja. Memang saya lihat tumbler dan gelas itu diletakkan berdampingan. Waktu Kano bertanya mungkin dia tidak menunjukkan yang mana yang dia maksud dan mungkin juga Nina tidak melihat dengan jelas yang mana. Dua-duanya berasumsi bahwa mereka membicarakan hal yang sama ternyata faktanya tidak begitu.

Saya pernah membaca sebuah artikel, dan saya kutip di sini apa yang diucapkan oleh pengarangnya:

"Don’t assume! No matter how confident we are in our understanding of the issue. No matter how certain of another’s reasoning or motives. No matter how obvious the point may be to us. Effective communication is far more complicated and difficult than we think."

Ya komunikasi itu tidak mudah. Saya setuju sekali. Banyak pertentangan terjadi karena terhambatnya bentuk komunikasi yang dilakukan. Asumsi itu menyesatkan karena belum tentu yang kita pikirkan itu sama dengan yang lawan bicara kita miliki. Yang terlihat saja belum tentu benar apalagi kita berasumsi atas pikiran orang lain, bukan begitu?

Saya punya sebuah cerita. Eh, 2 buah! Ini yang pertama:

Ada seorang polisi yang sedang dalam perjalanan pulang. Sepanjang hari dia menghadapi banyak permasalahan dan itu artinya besok dia harus membuat berkas laporan yang bertumpuk-tumpuk. Saat itu yang dia inginkan adalah tiba di rumah dan menikmati sisa hari dengan santai sambil beristirahat. Hari sudah gelap dan tiba-tiba ada sebuah mobil melintas dan pengemudinya membuka jendela dan berteriak:"BABI!!!!" Polisi itu langsung menginjak rem dan segera berputar balik. Dia begitu marah karena merasa dimaki oleh pengemudi itu. Ketika dia sudah berbalik, tiba-tiba dia melihat ada seekor babi yang sangat besar duduk di tengah jalan!

Cerita tersebut berusaha mengajak kita untuk tidak berasumsi karena yang kita pikirkan, sekali lagi, belum tentu sama dengan apa yang dimaksudkan oleh orang lain. Cara berpikir dan pikiran setiap orang tidak sama, apalagi jika kita mengambil kesimpulan hanya berdasarkan satu kata seperti cerita di atas.

Cerita kedua. Ada sepasang suami istri yang memiliki seekor anjing. Anjing ini sangat ramah dan senang bermain di halaman rumah. Mereka bertetangga dengan sepasang suami istri juga yang memiliki peliharaan seekor kelinci. Anjing dan kelinci ini sering bermain bersama. Pada suatu hari sang anjing masuk kedalam rumah dengan menggondol kelinci tetangga dimulutnya. Suami istri ini begitu terkejut dan segera memeriksa si kelinci yang ternyata memang sudah mati.

"Oh my God! Our dog attacked and killed the rabbit! What are we going to say to our neighbor?" Kata sang istri panik.

Mereka berdua segera pergi ke tetangga tapi ternyata mereka tidak ada di rumah. Akhirnya setelah mereka berdua berdiskusi, mereka memutuskan untuk membersihkan kelinci itu dari tanah, bulunya mereka sisir sehingga kelinci itu terlihat sangat cantik dan seperti masih hidup. Lalu mereka bawa dan ditaruh di depan pintu tetangga itu.

Suami istri ini menunggu tetangga mereka pulang sambil duduk di teras depan dengan sangat khawatir. Tetangga akhirnya pulang. Keluar dari kendaraan dan mulai berjalan menuju pintu depan. Tiba-tiba si istri berteriak,"OOO MY GOOOOD!"

Suami istri yang memiliki anjing itu segera bergegas dan bertanya apakah mereka baik-baik saja.

"She is baaaack!" Kata si istri poemilik klinci itu dengan sangat terkejut dan mata melotot.

"Our rabbit died this morning, so we buried her at her favorite place in the front yard. And she is now here. Still dead!" Kata suaminya bingung.

Sesudah ngobrol beberapa saat dan suami istri tetangga itu mengubur kembali kelinci mereka, pemilik anjing pulang dan begitu menutup pintu, mereka berdua tertawa terbahak-bahak. Ternyata karena anjing mereka begitu kehilangan kelinci tetangga, dia berusaha mencarinya dan kemudian menemukan kelinci tersebut terkubur, lalu menggali dan membawa pulang kelinci sahabatnya itu. Suami istri ini berasumsi bahwa anjing mereka telah membunuh kelinci itu! Hahahaha...

Pesan moral dari cerita-cerita tersebut sangat sederhana sebetulnya, yaitu kita harus selalu berhati-hati dalam berasumsi. Sama seperti kutipan yang saya tulis di atas, tidak masalah sebagaimana yakinnya kita terhadap sesuatu hal, jangan pernah berasumsi karena komunikasi itu bukan hal yang sederhana dan mudah! Salam!***

Foto Credit: donmcalister.com

You May Also Like